Kamis 01 Oktober 2020, 22:20 WIB

Pengembangan SILANI untuk Upaya Pemenuhan Hak Lansia

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Pengembangan SILANI untuk Upaya Pemenuhan Hak Lansia

Antara/Basri Marzuki
Sejumlah Lansia di Sigi, Sulawesi tengah menganyam tikar

 

DEPUTI Bidang Kependudukan dan Ketenagakerjaan Kementerian PPN/Bappenas Pungky Sumadi mengatakan,, saat ini terdapat lebih dari 21 juta lanjut usia (lansia) di Indonesia. Jumlah lansia yang semakin meningkat ini tidak diiringi dengan pemahaman masyarakat tentang kelansiaan serta perlindungan sosial yang masih sangat terbatas.

“Pada umumnya program-program yang kita sediakan itu masih bersifat bantuan sosial saja, tetapi kita belum memiliki pelayanan atau perawatan jangka panjang yang sifatnya komprehensif,” kata Pungky dalam webinar, Kamis (1/10).

Tidak hanya perlindungan sosial, Pungky menambahkan, Indonesia masih memiliki pekerjaan rumah yang besar dalam menyiapkan kehidupan ekonomi, sosial, dan pembangunan bagi lansia.

“Kita membutuhkan konsep yang terintegrasi serta usaha-usaha pemenuhan hak lansia kita,” imbuhnya.

Dia menuturkan, Bappenas telah merancang studi untuk pengembangan sistem informasi lanjut usia (SILANI). Pilot project SILANI dilakukan di tujuh desa/kelurahan di tiga provinsi yakni Bali, DI Yogyakarta, dan DKI Jakarta dengan melibatkan sekitar 14.233 lansia.

Tujuan dari diadakannya pilot project SILANI ini adalah untuk menyediakan data kondisi lanjut usia dan rumah tangga, menyediakan data keadaan fasilitas penyediaan layanan, dasar mengembangkan kebijakan dan intervensi, serta sebagai alat monitoring dan evaluasi.

Baca juga : Indonesia Ditargetkan Bebas Rabies Pada 2030

Informasi yang tercakup dalam proyek ini mulai dari informasi dasar, status kesehatan fisik dan kondisi psikologis, keadaan sosial, hingga lokasi rumah dan fasilitas lansia.

Perencana Kebijakan Direktorat Penanggulangan Kemiskinan dan Kesejahteraan Sosial Bappenas Dinar Kharisma mengatakan, data-data dari SILANI sangat dibutuhkan bagi para perencana kebijakan untuk mempermudah identifikasi layanan yang dibutuhkan oleh para lansia.

“Memperluas SILANI ini penting sebagai alat identifikasi awal bagi kami melihat kebutuhan layanan di lapangan baik jangka panjang maupun layanan lain,” tuturnya.

Dia mengungkapkan, dari pilot project SILANI didapatkan data bahwa 33 persen lansia yang membutuhkan perawatan jangka panjang (PJP) merupakan kategori lansia muda yang berusia 60-69 tahun.

Kemudian sekitar 60 persen lansia yang membutuhkan PJP adalah perempuan. 80 persen lansia yang mengalami kesulitan dalam melakukan kegiatan harian berpendidikan sekolah dasar atau lebih rendah dan 33-55 persen lansia yang membutuhkan PJP finansialnya masih bergantung pada keluarga.

“Bagi kami yang kemudian lebih penting adalah mengembangkan sistem di lapangan, bagaimana pekerja sosial atau kader memiliki fungsi manajemen kasus, sehingga setelah melihat identifikasi awal dari SILANI mereka bisa menindaklanjuti dan melihat apakah sebenarnya yang dibutuhkan oleh lansia ini secara khusus sehingga layanannya bisa spesifik,” tandasnya. (OL-7)

Baca Juga

Ilustrasi

Ivermectin Bisa Jadi Alternatif Pengobatan Pasien Covid-19

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 02:10 WIB
Sejumlah negara Amerika Selatan juga telah menggunakan Ivermectin sebagai pengobatan dan tindakan...
Dok. Pribadi

Kowani : Sumpah Pemuda juga Momen Perjuangan Perempuan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 02:01 WIB
"Dua bulan setelah peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, para perempuan Indonesia menginisiasi pembentukan Perikatan...
Dok. Pribadi

Kemenpora : Potensi Pemuda Bangun Bangsa Harus Dioptimalkan

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 01:55 WIB
Zainuddin optimistis, pemuda Indonesia bisa mengembangkan potensi yang dimiliki untuk pembangunan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya