Kamis 01 Oktober 2020, 21:20 WIB

OJK Ungkap Penyebab Rendahnya Pertumbuhan Penyaluran Kredit

Mediaindonesia.com | Ekonomi
OJK Ungkap Penyebab Rendahnya Pertumbuhan Penyaluran Kredit

Antara/Nova Wahyudi.
Ilustrasi

 

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan penyebab pertumbuhan penyaluran kredit hingga Agustus 2020 masih rendah. Angka itu  mencapai 1,04 persen dari Rp5.465 triliun pada periode sama tahun 2019 menjadi Rp5.521,9 triliun.

"Penurunan (kredit) terjadi pada Januari sampai Juni karena waktu itu kondisinya betul-betul sangat tertekan, aktivitas masyarakat dan dunia usaha betul-betul turun," kata Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso dalam rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Jakarta, Kamis (1/10).

Menurut dia, upaya mendorong pertumbuhan kredit yang dilakukan pada Juli-September 2020 bahkan belum mampu mengkompensasi kontraksi yang terjadi pada semester pertama tahun ini.

Meski secara tahunan (year on year/yoy) penyaluran kredit tumbuh positif 1,04 persen, namun dalam tahun berjalan dari akhir 2019 hingga Agustus 2020 (year to date/ytd), realisasi penyaluran kredit menurun atau kontraksi menjadi minus 1,69 persen.

Penurunan itu, kata dia, karena melemahnya penyaluran kredit baru oleh bank umum swasta nasional yang kontraksi mencapai minus 3,83 persen dari Rp2.297,8 triliun pada Desember 2019 menjadi Rp2.209,7 triliun pada Agustus 2020.

Wimboh menambahkan penyaluran kredit di bank persero secara tahunan tumbuh positif 3,05 persen dari Rp2.338,1 triliun pada Agustus 2019 menjadi Rp2.409,4 triliun pada Agustus 2020.

Sedangkan secara tahun berjalan (ytd), penyaluran kredit di bank persero minus 0,88 persen dari Rp2.430,8 triliun pada Desember 2019 menjadi Rp2.409,4 triliun.

Penyaluran kredit di Bank Pembangunan Daerah (BPD) mencatatkan kinerja cukup baik di tengah pandemi baik secara tahunan (yoy) maupun tahun berjalan yang masing-masing tumbuh 6,86 persen dan 1,70 persen.

Sementara itu berdasarkan jenis penggunaanya, kredit modal kerja mengalami kontraksi, sedangkan kredit investasi tumbuh positif.

Wimboh menuturkan penurunan kredit modal kerja pada Agustus 2020 itu disebabkan penurunan baki debet dari debitur besar.

OJK mencatat dari 100 debitur besar, 74 di antaranya mengalami penurunan baki debet total Rp61,2 triliun (ytd) dengan debitur korporasi yang baki debetnya turun paling besar yakni PLN sebesar Rp7,2 triliun, Gudang Garam Rp5,3 triliun. Kemudian, Wilmar Nabati dan Petrokimia Gresik masing-masing Rp4,9 triliun dan Indofood Sukses Makmur sebesar Rp4,4 triliun. (Ant/OL-12)

Baca Juga

Dok.MI

Sinkronisasi Turunan UU Ciptaker Segera Disusun

👤 (Medcom.id/X-10) 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 01:45 WIB
PEMERINTAH tengah menyiapkan aturan turunan Undang-Undang Cipta Kerja (UU...
Antara

Perizinan itu Sumber Korupsi

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 01:35 WIB
UNDANG-Undang Cipta Kerja yang telah disahkan oleh DPR dinilai dapat memperbaiki perekonomian nasional melalui kepastian perizinan berusaha...
Sumber: Global Compliance Complexity Indeks 2018/BKPM/Tim Riset MI-NRC

Ekosistem Investasi Disederhanakan

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 01:25 WIB
PENINGKATAN ekosistem investasi dan kegiatan berusaha sesuai dengan Undang-Undang Cipta Kerja difokuskan kepada empat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya