Kamis 01 Oktober 2020, 19:30 WIB

Long Hauler, Keluhan yang Dialami Penderita Covid Berat

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
Long Hauler, Keluhan yang Dialami Penderita Covid Berat

ANTARA/Fakhri Hermansyah
Petugas medis (kiri) memimpin senam pagi pasien covid-19 berstatus OTG di Stadion Patriot Chandrabhaga, Bekasi, Jawa Barat, Senin (28/9).

 

Dokter spesialis penyakit dalam, Adityo Susilo mengatakan penderita covid-19 dengan klasifikasi sedang hingga berat bisa saja mengalami long hauler.

"Ini isu yang baru tapi kenyataannya kita yang berhadapan langsung dengan pasien covid-19, kita akan mendapatkan keluhan-keluahan seperti ini," kata Aditya Susilo dalam webinar Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Kamis (1/10).

Ia mengatakan, pada perinsipnya long hauler adalah istilah yang diungkapkan untuk menggambarkan pasien-pasien yang sembuh dari covid namun dalam beberapa hari bahkan sampai dua bulan masih mengeluhkan adanya gejala-gejala yang seolah-oah merupakan bagian dari covid-19.

Baca juga: Pemerintah Siapkan Dua Puskesmas untuk Simulasi Vaksinasi Covid-19

"Jadi artinya hasil PCR (Polymerase chain reaction) negatif, klinis juga, parameter laboratorium sudah membaik dan memang sudah melawati hari yang berbahaya, namun meskipun sudah masuk dalam kategori sembuh tapi pasien masih mengeluhkan gejala covid-19," lanjut Adityo.

Ia menuturkan, long haulers ini tidak akan dialami oleh penderita covid tingkat ringan melainkan berpotensi terjadi pada covid sedang atau lebih tinggi. Ia juga menyebutkan hal ini bukanlah terjadi karena adanya komplikasi atau kerusakan yang berat sebelum terjangkit covid. Ia justru menganalogikan dengan api yang membakar hutan.

"Saya kira jawabannya tidak dari dampak manifestasi kerusakan sebelumnya. Saya ibaratkan covid adalah api dan pada saat pasien covid mengalami infeksi paru-paru yang berat, itu ibarat api yang sedang membakar hutan," kata dia.

Yang artinya, setelah memusnahkan covid yang berarti apinya dipadamkan, hutan masih butuh waktu untuk bisa megalami reboisasai kembali.

Tak hanya itu,menurutnya long hauler juga bisa terjadi akibat tekanan psikologis. "Tidak jarang pasien tertekan karena kondisi sosial karena mendapat WA atau yang lain, biasanya ditanya seperti 'kok kamu masih ada keluahan sih, kok kamu masih positif juga'. Nah pressure sperti ini berat untuk pasien," kata Adityo.

Adityo berharap, para dokter maupun perawat bisa menerima kenyataan bahwa mereka akan berhadapan pada keluhan pasien seperti ini dan juga bisa memberikan edukasi kepada pasien untuk terus bersemangat dan terus berhati-hati dengan kondisi long hauler.

"Sekarang bagaimana caranya kita untuk memberikan eduksasi kepada pasien bahwa long hauler bukan terus akan terjadi. Seiring waktu proses perbaikan akan terjadi dan pasien kembali bisa beradaptasi," katanya.

"Kita sebagai dokter yang menangani pasien, jangan patah arang, jangan putus asa, jangan bingung bahwa memang pada pasien covid yang di recover dari covid tetapi gejalanya itu menetap agak lebih panjang meskipun pasien sudah sembuh dari covidnya," pungkas Adityo. (H-3)

Baca Juga

Antara/Herviyan Perdana Putra

Pembangunan Keluarga Penting untuk Cegah Stunting

👤Atalya Puspa 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 20:12 WIB
Presiden RI Joko Widodo telah mencanangkan agar prevalensi stunting ditekan serendah-rendahnya dengan target 14% pada tahun...
Antara/Idhad Zakaria

Potensi Bencana Tinggi, Kepala Daerah Dituntut Lakukan Mitigasi

👤Cahya Mulyana 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 17:29 WIB
Megawati mengaku sudah belajar praktik di Tiongkok dan Jepang soal metode menghadapi bencana...
Ist

Muda Konsumsi Kedelai, Tua Sehat Bugar 

👤Iis Zatnika 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 17:02 WIB
Dr.Rimbawan menuturkan, kedelai dan produk olahannya sesungguhnya kaya manfaat kesehatan, namun kerap dibayang-bayangi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya