Kamis 01 Oktober 2020, 16:05 WIB

Waspadai La Nina, BMKG: Ada Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Waspadai La Nina, BMKG: Ada Ancaman Bencana Hidrometeorologi

Antara/Jessica Helena
Pesepeda melintasi jalan yang terendam banjir di Kota Putussibau, Kalimantan Barat.

 

FENOMENA La Lina berpotensi menimbulkan anomali cuaca yang berujung pada bencana hidrometeorologi. Dampak tersebut sangat bergantung pada musim, wilayah, serta intensitasnya.

Berdasarkan analisis potret data suhu permukaan laut yang dilakukan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), saat ini La Lina teraktivasi di Pasifik Timur. Kondisi ini dapat memicu frekuensi dan curah hujan wilayah Indonesia pada beberapa bulan mendatang.

Dampak La Lina memicu curah hujan yang jauh lebih tinggi, dibandingkan kondisi normal. Sehingga, potensi banjir dan tanah longsor perlu diwaspadai. Dalam hal ini, kewaspadaan terhadap kondisi hujan di atas normal pada Oktober dasarian I dan II. Penggunaan satuan dasarian menunjuk pada kurun waktu sepuluh harian.

Baca juga: BMKG: Musim Kemarau bukan Berarti tidak Ada Hujan

“Beberapa provinsi diperkirakan akan memasuki musim hujan pada Oktober 2020,” ujar Kepala Pusat Informasi Perubahan Iklim BMKG Supari dalam keterangan resmi, Kamis (1/10).

Terkait dengan La Lina, Supari menyebut dampaknya tidak seragam di seluruh wilayah Indonesia. Adapun prakiraan awal musim hujan berlangung pada Oktober. Wilayah yang teridentifikasi ialah Sumatra, Jawa, Kalimantan, sebagian kecil Sulawesi, Maluku Utara dan sebagian kecil Nusa Tenggara Barat.

Prakiraan untuk wilayah Sumatra, seperti di pesisir timur Aceh, sebagian Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Bangka dan Lampung. Wilayah Jawa diperkirakan terjadi di Banten, sebagian Jawa Barat, sebagian Jawa Tengah dan sebagian kecil Jawa Timur.

Sedangkan di wilayah Kalimantan, potensi hujan menyasar sebagian Kalimantan Barat, sebagian Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.

Baca juga: Geolog: Isu Tsunami di Selatan Jawa Masih Potensi, Bukan Prediksi

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) diharapkan sebagai focal point penanggulangan bencana di tingkat provinsi, kabupaten dan kota. Sehingga, BPBD harus waspada dan siap siaga menghadapi potensi bahaya hidrometeorologi.

Upaya dini pencegahan dan mitigasi penting dilakukan untuk mengurangi atau menghindari dampak bencana. Masyarakat juga diimbau lebih siaga, terutama di tengah keluarga. Setiap keluarga harus memonitor dan menganalisis secara sederhana potensi bahaya di sekitar.

Melalui aplikasi berbasis teknologi informasi, InaRISK personal, masyarakat dapat memantau ancaman bahaya. Adapun antisipasi ancaman bisa dengan mematikan aliran listrik, menyimpan dokumen penting, hingga menyiapkan tas siaga bencana.(OL-11)

Baca Juga

ANTARA/PUSPA PERWITASARI

Nadiem: Bangkit di Tengah Pandemi Lewat Peringatan Sumpah Pemuda

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 13:45 WIB
Nadiem mengungkapkan, dalam setahun terakhir lebih dari 272 ribu kerja sama telah terjalin antara SMK dengan dunia usaha dan...
Antara

'Gilang' Mudahkan Peserta JKN-KIS Segmen PPU PN Perbarui Datanya

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 13:22 WIB
Per 1 November 2020 pemerintah berencana melakukan Program Registrasi Ulang (Gilang) bagi sebagian peserta JKN-KIS dari segmen Pekerja...
MI/ADI KRISTIADI

Dua Warga Menjadi Korban Banjir dan Longsor di Pangandaran

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 13:05 WIB
 Selain itu, sedikitnya 111 rumah yang berada di enam desa dan empat kecamatan di Kabupaten Pangandaran terendam...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya