Kamis 01 Oktober 2020, 06:10 WIB

Komnas HAM Temukan masih Ada Sengketa Lahan di Sirkuit Mandalika

mediaindonesia.com | Nusantara
Komnas HAM Temukan masih Ada Sengketa Lahan di Sirkuit Mandalika

MI/Susanto
Pembangunan sirkuit MotoGP di Kawasan Ekonomi Khusus Mandalika, Nusa Tenggara Barat

 

KOMISI Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) menemukan fakta sementara adanya dugaan intimidasi yang dilakukan oleh oknum aparat terhadap para pemilik lahan. Termasuk adanya lahan yang belum dibayar oleh PT Indonesia Development Corporation (ITDC), namun sudah dilakukan penggusuran.
  
"Bentuk intimidasi itu, warga melapor, tidak lama kemudian didatangi aparat setiap saat. Dan meminta pemilik melepaskan lahannya. Begitu halnya saat aparat menerjunkan personel saat penggusuran sehingga terkesan berlebihan, hal ini jangan sampai melanggar hak asasi manusia," kata Komisioner Komnas HAM, Beka Ulung Hapsara kepada wartawan di Mataram, Rabu (30/9).
  
Ia menyatakan Komnas HAM telah melakukan investigasi terhadap sengketa lahan di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika di Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak 28 September 2020. Tim investigasi ini turun karena adanya aduan dari masyarakat yang mengklaim atau merasa memiliki hak atas sejumlah lahan yang saat ini dibangun loksi sirkuit MotoGP Mandalika pada Agustus lalu.

"Pengadu pertama sembilan orang untuk 10 bidang lahan. Kemudian bertambah 14 pengadu dengan jumlah 15 bidang. Sehingga, setelah kita kalkulasikan total luas lahan yang masih bersengketa seluas 18 hektare," ujarnya.
  
Menurut Beka Ulung Hapsara, sesuai kewenangan yang diatur dalam UU, dan mekanisme Komnas HAM meminta keterangan ITDC terkait pokok persoalan. Langkah lain, bersurat dan langsung direspons, bahwa ITDC punya bukti yang sah sehingga melanjutkan pembangunan. Hal ini membuat Komnas HAM turun ke lapangan bertemu pemilik untuk menyandingkan versi yang diklaim ITDC.
  
Pengakuan ITDC mempunyai bukti kuat saat peralihan ke HPL tahun 80-an. Bukti peralihan itu yang diminta Komnas HAM dan akan disandingkan dengan data temuan Komnas HAM, karena Komnas HAM menemukan ada bukti yang kuat dan ada yang perlu diverifikasi, sehingga bisa dipastikan warga itu hanya klaim semata.
  
"Kami sudah bertemu ibu Suhartini, Masrup dan Gemala Suhardi. Dari data sementara, lahan yang ada itu sah milik pak Gemala karena ada kekuatan hukum. Begitu juga dengan ibu Suhartini, sampai saat ini belum pernah terima pembayaran dari ITDC. Kemungkinan yang terima adalah penggarap lahan. Temuan dari pak Masrup juga sampaikan belum ada status karena pegang bukti kepemilikan, 1 lahan sudah diratakan, 1 lagi masih ditempati di dalamnya ada 3 rumah dan belum tahu seperti apa rencana ITDC," ungkapnya.

Beka mengaku, setelah turun ke lapangan tim Komnas HAM langsung bertemu Gubernur, Kapolda dan Kejati. Dirinya sampaikan pokok aduan dan sikap warga yang mengklaim. Warga tidak menolak pembangunan sirkuit MotoGP itu, hanya ingin haknya dipenuhi, dan bebas dari intimidasi.
  
"Hasil pertemuan itu, Gubernur, Kapolda dan Kejati punya komitmen dan bersepakat mendudukkan dokumen yang ada dan akan disandingkan bersama seperti apa riwayat lahan, kemudian proses peralihan hak sehingga terbit HPL sampai bukti lain misal pipil Garuda dan SPPT. Terhadap persoalan lahan yang sudah selesai, Komnas HAM tidak ikut campur," tegas Beka.
  
Beka juga menyampaikan Komitmen kedua dari Gubernur, Polda dan Kejati bahwa segera selesaikan sengketa lahan itu. Bahkan akan siapkan data sesuai yang dibutuhkan oleh Komnas HAM. 
  
"Ingat, Komnas tidak dalam posisi menolak proyek strategis nasional, hanya ingin memastikan bahwa proyek itu melindungi hak asasi masyarakat saja," ujarnya.
  
Bagaimana dengan harga yang ditawarkan ITDC yang masih ditolak warga? Bagi Beka, ada tim appraisal yang menentukan nilai. ITDC berjanji akan membayar hak warga. Mengenai kapan, masih nunggu tim inisiasi.

baca juga: Nora Masuk Ke Mobil Tahanan Jerinx, Jaksa Dituduh Langgar Aturan
  
Terakhir, Beka menambahkan, dari 14 pengadu itu, ada 1 orang belum menyertakan buktinya. Karena itu, berdasarkan fakta-fakta tersebut, Komnas mendesak agar ITDC selaku pengelola Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Mandalika menghentikan sementara pembangunan sirkuit MotoGP tersebut, sampai adanya titik temu untuk menyelesaikan persoalan sengketa lahan. Dan pemenuhan hak-hak para pihak yang mengklaim atas lahan-lahan tersebut.
  
"Yang jelas, Komnas HAM minta ITDC stop dulu proses pembangunan di atas lahan masih bersengketa," pungkasnya. (Ant/OL-3)


 

Baca Juga

ANTARA FOTO/Nova Wahyudi

Pemkot Tebing Tinggi Bentuk Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah

👤Apul Iskandar 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 09:56 WIB
Untuk  mempercepat akses keuangan daerah, Pemkot Tebing Tinggi membentuk Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD) untuk membantu...
MI/Denny Susanto

Tingkat SDM Tanah Bumbu SHM-MAR Canangkan Program Seribu Sarjana

👤Denny Susanto 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 09:05 WIB
Pasangan Syafruddin-Alpiya (SHM-MAR) mencanangkan program pemberian beasiswa atau pendidikan gratis hingga jenjang sarjana bagi...
Greenpeace/AFP

Orangutan Serang Perkebunan di Aceh

👤Amiruddin Abdullah Reubee 🕔Jumat 23 Oktober 2020, 08:23 WIB
Orangutan atau biasa disebut mawah oleh warga Aceh, sejak tiga hari terakhir menyerang lahan pertanian dan kebun milik warga di Kluet...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya