Rabu 30 September 2020, 06:03 WIB

Rini Soemarno Disebut dalam Sidang Jiwasraya

Tri/P-5 | Politik dan Hukum
Rini Soemarno Disebut dalam Sidang Jiwasraya

MI/Ramdani
Ilustrasi -- Gedung Jiwasraya

 

NAMA mantan Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno disebut dalam sidang lanjutan kasus dugaan tindak pidana korupsi PT Asuransi Jiwasraya (persero). Nama Rini disinggung terdakwa Hary Prasetyo, mantan Direktur Keuangan Jiwasraya, saat membacakan nota pembelaannya.

Menurut Hary, Rini yang melaporkan kasus Jiwasraya kepada aparat hukum. Laporan itu diumumkan Rini saat menjabat sebagai Menteri BUMN periode 2014-2019. Laporan Rini itu dinilai Hary janggal.

“Jika memang Jiwasraya bermasalah--dalam hal ini masalah cadangan dan investasi--kenapa kami ketika periode tersebut tidak dipanggil untuk ditegur, dimarahi atau dijewer, untuk memperbaiki masalah tersebut? Ternyata tidak, Ibu Menteri mungkin memilih jalur hukum. Ada apa?” tanya Hary di Pengadilan Tipikor pada PN Jakarta Pusat, kemarin.

Hary menggambarkan kondisi Jiwasraya saat ia menjabat ibarat kanker kronis yang divonis mati dokter. Dalam 10 tahun ia menjabat, kondisi Jiwasraya disebutnya dapat bertahan hidup dalam perawatan.

Selepas meninggalkan Jiwasraya, Hary mengatakan perusahaan pelat merah itu belum dapat dikatakan sembuh total, masih perlu minum obat. Namun, direksi baru saat itu justru menghentikan proses pengobatan Jiwasraya.

Lebih lanjut, Hary mengatakan direksi baru yang ditunjuk Rini, terutama direktur utama tidak berpengalaman menjabat sebagai direktur utama, apalagi bidang asuransi jiwa.

Dalam pembacaan pleidoinya, kuasa hukum Hary, Unoto Dwi Yulianto menjelaskan Jiwasraya telah mengidap penyakit insolven sejak 2002 dengan insolvensi Rp2 triliun. Hal tersebut diperparah ketika krisis keuangan global pada 2008 turut menghantam Indonesia yang menyebabkan Jiwasraya defisit Rp5,7 triliun.

Unoto mengatakan kliennya melakukan aksi heroik dan profesionalisme ketika diwariskan dengan kondisi Jiwasraya yang sedang ‘sakit parah’. Ia menjelaskan direksi Jiwasraya saat itu melakukan berbagai hal demi menyelamatkan Jiwasraya, antara lain dengan reasuransi, reevaluasi aset, membeli MTN (medium term notes), reksadana penyertaan terbatas, maupun membeli unit penyertaan di reksadana konvensional. “Di satu sisi, Jiwasraya mengeluarkan JS Saving Plan yang telah diizinkan OJK dan mendapat respons positif masyarakat,” kata Unoto. (Tri/P-5)

Baca Juga

ANTARA FOTO/Galih Pradipta

Sempat Terjadi Kericuhan, Demo Omnibus Law Berakhir Tertib

👤Rahmatul Fajri 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 20:54 WIB
Aksi itu dapat diredam setelah personel Marinir membujuk dan mengawal massa untuk membubarkan...
Antara

Dilobi Presiden, NU Kukuh Tolak RUU Ciptaker

👤Emir Chairullah 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 20:05 WIB
Namun demikian, ungkap Ketua Umum PBNU Said Aqil Siraj, pihaknya tetap menggunakan jalur konstitusional untuk melakukan...
Antara

Aktivis '98 Ingatkan BEM-SI Waspadai Penumpang Gelap

👤Selamat Saragih 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 19:55 WIB
TOKOH aktivis '98, Wahab Talaohu, mengingatkan Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM-SI) mewaspadai adanya penumpang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya