Selasa 29 September 2020, 17:35 WIB

Lagi, Orangutan Lahir di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho

Hendra Saputra | Humaniora
Lagi, Orangutan Lahir di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho

Antara
TIM PRM di Pusat Reintroduksi Orangutan, di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar menemukan satu induk orangutan dengan bayinya.

 

TIM Post Release Monitoring (PRM) di Pusat Reintroduksi Orangutan, di Cagar Alam Hutan Pinus Jantho, Aceh Besar menemukan satu induk orangutan bersama dengan bayinya yang diperkirakan berusia 3-5 bulan di trail FB1200.

Bayi orangutan tersebut berjenis kelamin jantan dan merupakan bayi orangutan ketiga yang lahir di Jantho sejak Program Reintroduksi Orangutan dimulai pada tahun 2011. Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, merupakan salah satu program dibawah Sumatran Orangutan Conservation Programme (SOCP) yang dikelola oleh Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh bersama dengan Yayasan Ekosistem Lestari (YEL).

Dalam masa Pandemi Covid-19 aktivitas pengambilan data orangutan di Jantho dengan metode dari sarang ke sarang sedang dihentikan sementara untuk meminimalisir resiko penyebaran Covid-19 ke orang utan dan satwa lainnya.

Namun aktivitas pemantauan tetap dijalankan dengan menerapkan protokol kesehatan, antara lain: penggunaan masker dan menjaga jarak termasuk aktivitas monitoring rutin orangutan di jalur pengamatan (trail system) dan salah satu hasilnya adalah terpantaunya bayi orangutan baru tersebut bersama dengan induknya.

Keadaan induk dan bayi  dalam kondisi yang sehat, dengan perilaku layaknya orangutan liar. Kondisi bayi masih digendong oleh induknya dan menyusui, belum terpantau mengkonsumsi buah atau daun.

Manager Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho, Mukhlisin mengatakan berdasarkan hasil  pengamatan yang dilakukan induk bayi tersebut adalah orangutan yang bernama ‘Edelweiss’. Orangutan Edelweiss merupakan salah satu orangutan pertama yang dilepas di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho pada 2011.

"Setelah  itu dia langsung menjauh dari kandang dan masuk ke dalam hutan," kata Mukhlisin di Banda Aceh, Selasa (29/9)

Menurutnya, Pada 11 Februari 2020 teradapat satu individu orangutan betina yang diduga kuat orangutan Edelweiss sempat terpantau di sekitar Kandang Habituasi di Pusat Reintroduksi. Pemantauan terhadap kondisi orangutan Edelweiss pada saat itu menunjukan ciri-ciri orangutan hamil dengan perut membesar dan alat kelamin bengkak.

"Orangutan Edelweiss juga masih terpantau untuk beberapa hari berikutnya, tepatnya di area release sebelum akhirnya kembali lagi ke hutan dan menghilang," sebutnya.

Sementara itu, Direktur Konservasi YEL, M. Yakob Ishadamy, menyampaikan  kelahiran bayi tersebut merupakan berita yang sangat menggembirakan, khususnya di tengah masa pandemi yang sedang dihadapi bersama saat ini.

Pertemuan ini merupakan pertemuan ketiga orangutan dengan bayi, yang berasal dari orangutan yang dilepasliarkan di Pusat Reintroduksi Orangutan Jantho setelah bayi yang dilahirkan oleh Orangutan Marconi (induk) dan Masen (bayi jantan), serta Orangutan Mongki (induk) dan Mameh (bayi betina), yang kedua bayi tersebut lahir pada 2017.

"Walau kami menyadari bahwa masih banyak tugas-tugas yang harus dilakukan dalam rangka membangun populasi baru orangutan yang mandiri dan lestari, tapi sejauh ini kami cukup puas dengan capaian-capaian yang ada, yang mana hal tersebut tidak akan tercapai atas kerjasama yang baik dari semua pihak," jelasnya.

Sedangkan Head Ex-Situ, drh Citrakasih Nente, menambahkan tujuan program pelepasliaran orangutan di Cagar Alam Jantho adalah untuk membangun populasi liar yang baru bagi orangutan Sumatera sebagai "jaring keamanan" atau backup jika sesuatu yang buruk terjadi pada sisa populasi liar aslinya di dalam dan disekitar Kawasan Ekosistem Leuser.

"Hal tersebut semakin penting saat ini, khususnya di tengah adanya wabah Covid-19 yang menginfeksi manusia dan kita belum mengetahui sejauh mana ancaman virus tersebut terhadap orang utan dan populasinya," ungkapnya

Sampai saat ini, lebih dari 120 individu orangutan berhasil dilepasliarkan di Cagar Alam Jantho. Namun, untuk meyakinkan bahwa populasi baru yang sedang dibangun ini akan bertahan dalam jangka panjang, jumlahnya harus terus bertambah.

"Dengan demikian semua orangutan yang lahir di Jantho akan sangat berarti secara signifikan dan menjadi harapan baru terhadap masa depan spesiesnya di Jantho dan semua orang utan Sumatera yang masih tersisa," lanjutnya

Kepala Balai KSDA Aceh, Agus Arianto, menyatakan kelahiran bayi ketiga ini merupakan pertanda bahwa populasi orangutan berjalan dengan baik. Namun harus tetap waspada terhadap adanya ancaman perburuan orangutan dan satwa yang dilindungi lainnya.

Diketahui orangutan adalah jenis satwa liar yang sangat terancam punah dan dilindungi. Sesuai pasal 21 ayat (2) huruf (a) dan pasal 40 Undang-Undang No. 5 Tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya, setiap orang dilarang menangkap, melukai, membunuh, menyimpan, memiliki, memelihara, mengangkut dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup. "Sanksi pidananya adalah penjara maksimal 5 tahun dan denda sebesar Rp100 juta," tegasnya. (OL-13)

Baca Juga

Ilustrasi

Ivermectin Bisa Jadi Alternatif Pengobatan Pasien Covid-19

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 02:10 WIB
Sejumlah negara Amerika Selatan juga telah menggunakan Ivermectin sebagai pengobatan dan tindakan...
Dok. Pribadi

Kowani : Sumpah Pemuda juga Momen Perjuangan Perempuan

👤Syarief Oebaidillah 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 02:01 WIB
"Dua bulan setelah peringatan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928, para perempuan Indonesia menginisiasi pembentukan Perikatan...
Dok. Pribadi

Kemenpora : Potensi Pemuda Bangun Bangsa Harus Dioptimalkan

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 01:55 WIB
Zainuddin optimistis, pemuda Indonesia bisa mengembangkan potensi yang dimiliki untuk pembangunan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya