Selasa 29 September 2020, 17:00 WIB

Kekerasan pada Anak Sebagian Besar Dilakukan Orang Tua

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Kekerasan pada Anak Sebagian Besar Dilakukan Orang Tua

ANTARA/ BUDI CANDRA SETYA
Anak-anak mempresentasikan hasil karyanya saat belajar di Kampoeng Baca Taman Rimba (Batara) Papring, Kalipuro Banyuwangi, Minggu (1/3).

 

Asisten Deputi Bidang Partisipasi Lembaga Profesi dan Dunia Usaha Kementerian PPPA Sri Prihantini L Wijayanti mengatakan, perilaku kekerasan pada anak sebagian besar dilakukan oleh orang tuanya sendiri. Tindak kekerasan ini biasanya dilakukan dengan alasan untuk mendidik dan mendisiplinkan anak.

Berdasarkan data prevalensi kekerasan terhadap anak pada 2018, sebanyak 61,7 persen anak laki-laki dan 62 persen anak perempuan mengalami kekerasan.

“Sekitar 70 persen pelaku kekerasan terhadap anak adalah orang tua mereka sendiri dengan alasan memberi pendidikan dan disiplin, kondisi ini perlu diluruskan. Sebagai anggota keluarga dan anggota masyarakat, anak harusnya dipersiapkan seutuhnya untuk hidup di tengah masyarakat dengan semangat perdamaian, kehormatan, dan kebebasan,” kata Sri dalam diskusi Perlindungan Anak dari Kekerasan dalam Rumah Tangga, Selasa (29/9).

Baca juga: Cegah Kegagalan Terapi ARV pada ODHA dengan Pemeriksaan Viral Load

Satgas Perlindungan Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Meita Dhamayanti mengatakan, corporal punishment atau hukuman fisik yang terjadi pada anak bisa bermacam-macam mulai dari yang ringan seperti menarik telinga/menjewer dan mencubit, hukuman sedang seperti menampar, memukul pantat, dan menendang, hingga hukuman berat seperti membakar dengan puntung rokok dan dipukul dengan rotan. Berdasarkan survei yang dilakukan di Jawa Barat selama periode Oktober-Desember 2016 terhadap 4 ribu siswa sekolah, sebanyak 70,2 persen anak mengaku pernah dicubit dan 57,6 persen persen anak pernah dijewer.

“Mungkin karena budaya mencubit menjewer dianggap hal yang tidak terlalu menyakitkan, padahal tidak demikian. Hukuman fisik walaupun tujuannya meningkatkan perilaku disiplin, tapi bisa masuk dalam kekerasan terhadap anak atau child abuse,” tuturnya.

Lebih lanjut Meita mengungkapkan, berdasarkan survei YouGov Omnibus pada 2019 terhadap 1.231 orang tua, 32 persen responden beranggapan bahwa hukuman fisik harus ditetapkan sebagai akibat dari pelanggaran hukum, 32 persen beranggapan sebaliknya, dan sisanya ragu-ragu.

Beberapa faktor yang menyebabkan orang tua melakukan hukuman fisik/kekerasan pada anak antara lain karena kurang pengetahuan tentang parenting, memiliki riwayat hukuman fisik, dan memiliki riwayat paparan terhadap kekerasan rumah tangga (KDRT).

“Orang tua yang pernah menerima hukuman fisik cenderung melakukan hukuman fisik pada anaknya,”

Melita menjelaskan, perilaku kekerasan/hukuman fisik pada anak dapat menimbulkan dampak fisik berupa cedera hingga kematian serta dampak psikologis berupa gangguan mental, gangguan kognitif yang meliputi penurunan performa akademis, penurunan nilai, kosakata yang lebih sedikit, hingga motivasi belajar rendah, serta meningkatnya agresi dan perilaku anti sosial, termasuk rusaknya hubungan dalam keluarga.

“Bagaimana mengubah perilaku anak supaya disiplin, yaitu tanpa kekerasan fisik, penuh kasih sayang, membangun kepercayaan, peraturan yang konsisten, dan bukan untuk menghukum anak,” tandasnya. (H-3)

Baca Juga

ANTARA/FB Anggoro

253 Orang Gugur, IDI Desak Pemerintah Serius Lindungi Nakes

👤Theofilus Ifan Sucipto 🕔Senin 26 Oktober 2020, 10:14 WIB
Jumlah itu terdiri dari 141 dokter, 103 perawat, dan sembilan dokter...
Ist

Dorong Kelestarian Lingkungan dan Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 26 Oktober 2020, 10:11 WIB
Saat ini, kehadiran Su­ngai Kalisari Kampung Pelangi perlahan menjadi objek wisata lokal baru yang mampu menggerakkan ekonomi...
MI

Gerakan Pungut Sampah Mendongkrak Ekonomi Masyarakat

👤Gana Buana 🕔Senin 26 Oktober 2020, 09:52 WIB
Aktivis daur ulang Prevented Ocean Plastic, Alvaro Aguilar menilai gerakan memungut sampah yang dilakukan di Pulau Dewata itu merupakan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya