Selasa 29 September 2020, 14:05 WIB

Banyak Asuransi Kurang Prudent dalam Kelola Produk

Raja Suhud | Ekonomi
Banyak Asuransi Kurang Prudent dalam  Kelola Produk

Antara/Risyal Hidayat
Terdakwa Direktur Utama PT Hanson Internasional Tbk Benny Tjokrosaputro.

 

Pasar industri asuransi di Indonesia dinilai masih menguntungkan karena jumlah penduduk yang memahami pentingnya perlindungan asuransi masih minim, namun potensi tersebut belum diimbangi dengan edukasi yang memadai di masyarakat.
 
"Saat ini banyak perusahaan yang kurang prudent  dalam mengelola produk asuransi, terutama untuk jenis unit link. Perusahaan juga salah kaprah dalam memasarkan asuransi yang lebih mengutamakan peluang investasi ketimbang manfaat proteksinya," kata pengamat Asuransi Irvan Rahardjo, dalam keterangannya di Jakarta, seperti dikutip dari Antara.
 
Menurut Irvan, unit link merupakan salah satu jenis produk asuransi yang memiliki risiko dari yang rendah hingga tinggi. Hal ini yang harus dipahami baik perusahaan asuransi dan juga masyarakat yang ingin membeli produk asuransi. Perusahaan harus menyampaikan risiko produknya, sementara masyarakat juga harus memahami risiko tersebut.
 
Ia menambahkan, industri asuransi termasuk sektor yang memiliki sejumlah peraturan ketat, namun dari sisi pengawasan masih lemah. Salah satu bukti lemahnya pengawasan di industri ini yaitu perusahaan asuransi yang saat ini bermasalah.
 
Sebut saja Jiwasraya. Perusahaan asuransi plat merah ini sedang bermasalah akibat produk Saving Plannya. Buntutnya, ekuitas perusahaan minus Rp36 triliun dan klaim para nasabah Saving Plan hingga saat ini belum juga jelas.
 
Persoalan Jiwasraya belum selesai, muncul lagi kasus PT Asuransi Jiwa Kresna atau Kresna Life.
 
Total klaim nasabah yang belum dibayarkan oleh asuransi jiwa Grup Kresna ini disebut nilainya mencapai Rp6,4 triliun. Nilai tersebut merupakan milik dari 8.900 nasabah dan 11.000 polis yang yang saat ini bermasalah di asuransi tersebut.
 
Masih ada kasus gagal bayar PT Asuransi Jiwa Adisarana Wanaartha (WanaArtha Life). Wanaartha sudah tidak melakukan pencairan polis jatuh tempo sejak Februari 2020 dan tidak membayar manfaat tunai 50%  sejak Maret 2020 sampai saat ini.

Untuk itu, Irvan meminta kepada semua pihak untuk lebih membangun industri asuransi ini secara sehat dan transparan. Selain itu, peran Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga harus lebih maksimal. "Secara berkala, triwulan dan tahunan ada bermacam-macam laporan dari manajemen risiko, laporan keuangan namun sangat lemah berkaitan dengan kajian pengawasan,"  ujar Irvan.(E-1)
 

Baca Juga

Dok. Telkomsat

Telkomsat Raih Penghargaan Corporate Image Award 2020

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 03:35 WIB
Penghargaan itu merupakan pembuktian bahwa Telkomsat telah dikenal dan mendapatkan kepercayaan dari masyarakat Indonesia melalui melalui...
DOK: PERTAMINA

Pertamina Memberi Energi untuk Indonesia Maju

👤Gan/S1-25 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 03:32 WIB
Bahan bakar ramah lingkungan D100 menjadi ikhtiar Pertamina dalam mewujudkan Nawacita, yakni mengoptimalkan sumber daya dalam negeri untuk...
ANTARA/RAISAN AL FARISI (STR)

Bonus Demografi di Depan Mata, Sektor Perumahan Siap Tangkap

👤Gana Buana 🕔Senin 19 Oktober 2020, 22:40 WIB
Perlu kerja sama strategis dari pemerintah, BP Tapera, perbankan, dan pengembang dalam memanfaatkan peluang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya