Selasa 29 September 2020, 11:35 WIB

Penelitian Gempa Bumi untuk Perkuat Mitigasi, Warga Jangan Panik

Ferdian Ananda Majni | Humaniora
Penelitian Gempa Bumi untuk Perkuat Mitigasi, Warga Jangan Panik

MI/RAMDANI
Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Dwikorita Karnawati,

 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan sebagai negara berpotensi rawan bahaya gempa bumi dan tsunami, penelitian atau kajian gempab umi dan tsunami di Indonesia perlu selalu didorong dengan tujuan bukan untuk menimbulkan kecemasan dan kepanikan masyarakat namun untuk mendukung penguatan sistem mitigasi bencana.

"Sehingga kita dapat mengurangi atau mencegah dampak dari bencana itu, baik jatuhnya korban jiwa maupun kerusakan bangunan dan lingkungan," Dwikorita dalam keterangan Selasa (29/9).

Menurutnya, sejak beberapa tahun yang lalu para peneliti telah melakukan kajian potensi kejadian tsunami di Pantai Selatan Jawa yang dapat mencapai ketinggian 20 meter akibat gempa bumi megathrust.

Baca juga: Ilmuwan Waspadai Bahaya Kondisi Laut yang Stabil

"Metode, pendekatan, dan asumsi yang dilakukan dalam tiap penelitian tersebut berbeda, namun hasilnya kurang lebih sama, yaitu potensi terjadinya tsunami dengan ketinggian sekitar 20 meter dalam waktu 20 menit gelombang tiba di pantai sejak terjadinya gempa," sebutnya

Penelitian tersebut antara lain dilakukan oleh Widjo Kongko (2018), Ron Harris (201 -2019) dan yang terakhir oleh tim lintas lembaga yang dipimpin oleh ITB dan didukung oleh BMKG.

Hasil penelitian tersebut diperlukan untuk menguatkan sistem mitigasi gempa bumi dan peringatan dini tsunami, mengingat potensi kejadian gempa bumi dan tsunami di Indonesia tidak hanya berada di pantai selatan Jawa saja, namun berpotensi terjadi di sepanjang pantai yang menghadap Samudera Hindia dan Samudera Pasifik, ataupun pantai yang berdekatan dengan patahan aktif yang berada di laut (busur belakang atau back arc thrusting ataupun membentang sampai ke laut dengan berbagai potensi ketinggian gelombang tsunami.

"Penelitian terakhir oleh ITB yang didukung oleh BMKG, KKP, dan BIG dilakukan berdasarkan analisis data-data kegempaan BMKG dan pemodelan tsunami dengan beberapa skenario," terangnya.

Skenario terburuk mengasumsikan jika terjadi gempabumi secara bersamaan di 2 segmen megathrust yang ada di selatan Jawa bagian Barat dan selatan Jawa bagian Timur, yang mengakibatkan tsunami dengan tinggi gelombang maksimum 20 meter di salah satu area di selatan Banten dan mencapai pantai dalam waktu 20 menit sejak terjadinya gempa.

"Mekanisme kejadian tsunami yang dimodelkan ini serupa dengan kejadian tsunami Banda Aceh tahun 2004, yang juga diakibatkan oleh gempa bumi dengan Mw 9.1 dan tsunami mencapai pantai dalam waktu kurang lebih 20 menit," paparnya.

Hasil pemodelan ini dapat juga menjadi salah satu acuan bahwa lahan di pantai yang berada pada ketinggian lebih dari 20 meter, relatif lebih aman terhadap ancaman bahaya tsunami. "Hasil pemodelan tersebut juga penting untuk penyiapan jalur dan tempat evakuasi, ataupun untuk penataan lahan di daerah rawan tsunami," lanjutnya.

Namun demikian, sejak tahun 2008 Pemerintah Indonesia telah mengantisipasi potensi kejadian tsunami akibat gempa bumi megathrust seperti yang pernah terjadi di Aceh tahun 2004 dan juga seperti yang telah dimodelkan oleh beberapa peneliti tersebut di atas.

"Jadi sistem peringatan dini yang dibangun di BMKG memang disiapkan untuk memonitor dan mengantisipasi kejadian gempabumi (termasuk gempa bumi megathrust) dengan magnitudo dapat mencapai lebih dari Mw 9 dan memberikan peringatan dini potensi datangnya gelombang tsunami," ujarnya

Sehingga dalam waktu 3 sampai dengan 5 menit setelah kejadian gempabumi, sistem monitoring dan peringatan dini yang dioperasikan dengan Internet of Things (IoT) dan diperkuat oleh super computer dan artificial intelligent (AI) secara otomatis dapat menyebarluaskan informasi peringatan dini tsunami ke masyarakat di daerah rawan gempabumi dan tsunami melalui BNPB, BPBD, mass media, ataupun beberapa moda diseminasi (sms, email, website, media sosial).

"Dengan penyebarluasan peringatan dini tsunami tersebut maka masih tersisa waktu kurang lebih 15 sampai dengan 17 menit untuk proses evakuasi, apabila waktu datangnya tsunami diperkirakan dalam waktu 20 menit," ungkapnya. (H-3)

Baca Juga

Biro Pers Istana

Jokowi: Penghormatan Tertinggi untuk Dokter Gugur saat Pandemi

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 18:20 WIB
"Keteladanan yang ditunjukkan para dokter di masa pandemi ini telah menginspirasi jutaan anak bangsa untuk saling menolong, saling...
Ist

Osteoporosis Bukan Hanya Soal Kurang Kalsium

👤Eni Kartinah 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 17:43 WIB
Konsumsi obat-obatan golongan steroid dan beberapa jenis penyakit seperti autoimun, ginjal, hati, radang sendi, serta hipertiroid juga bisa...
Dok MI

Perlu Sosialisasi Masif untuk Tingkatkan Pemahaman soal Kanker

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 17:40 WIB
Minimnya informasi tentang kanker, menurut Lestari, menyebabkan masyarakat kerap terlambat dalam mengantisipasi gejala-gejala kanker yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya