Selasa 29 September 2020, 11:30 WIB

Laporan Bank Dunia : Pandemi Memunculkan Masyarakat Miskin Baru

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Laporan Bank Dunia : Pandemi Memunculkan Masyarakat Miskin Baru

Antara/Indrianto Eko Suwarso
Kemiskinan meningkat akibat pandemi

 

COVID-19 telah mengakibatkan tiga guncangan ("Triple Shock") bagi Kawasan Asia Timur dan Pasifik yang sedang berkembang.

Guncangan itu berasal dari pandemi itu sendiri, dampak upaya pembatasan terhadap perekonomian, dan gaung resesi global yang diakibatkan oleh krisis yang terjadi.

Pengambilan tindakan secara cepat akan diperlukan untuk memastikan bahwa pandemi ini tidak menghambat pertumbuhan dan meningkatkan kemiskinan di tahun-tahun mendatang.

Menurut From Containment to Recovery, laporan ekonomi Bank Dunia untuk Kawasan Asia Timur dan Pasifik edisi Oktober 2020, kegiatan perekonomian domestik mulai bangkit di beberapa negara yang telah membatasi penyebaran virus. Akan tetapi perekonomian di kawasan ini sangat bergantung kepada seluruh bagian lain di dunia, dan permintaan di tingkat global masih tetap lemah.

Kawasan ini secara keseluruhan diharapkan untuk mengalami pertumbuhan sebesar hanya 0,9% pada tahun 2020, terendah sejak tahun 1967. Sementara Tiongkok diprediksi akan mengalami pertumbuhan sebesar 2% pada tahun 2020.

Pertumbuhan Tiongkok didorong oleh belanja pemerintah, ekspor yang kuat, dan angka yang rendah pada kasus penularan baru sejak bulan Maret.

Namun juga adanya konsumsi domestil yang lambat membuat negara-negara lain di kawasan Asia Timur dan Pasifik diproyeksikan mengalami kontraksi sebesar 3,5%.

 Prospek bagi kawasan ini lebih cerah pada tahun 2021, dengan pertumbuhan diharapkan mencapai 7,9% di Tiongkok dan 5,1% di negara-negara lain di kawasan ini, berdasarkan asumsi terjadinya pemulihan dan normalisasi kegiatan secara berlanjut di negara-negara besar, dikaitkan dengan kemungkinan diproduksinya vaksin.

Akan tetapi, output diproyeksikan tetap berada di bawah angka proyeksi sebelum pandemi selama dua tahun ke depan. Prospek yang tidak baik khususnya bagi beberapa negara di Kepulauan Pasifik yang sangat terdampak, di mana output diproyeksikan tetap berada di 10% di bawah angka sebelum krisis, selama tahun 2021.  

 Kemiskinan di kawasan ini diproyeksikan akan meningkat untuk pertama kalinya dalam 20 tahun. Sekitar 38 juta orang diprediksi tetap berada, atau kembali terdorong ke dalam kemiskinan, sebagai akibat dari pandemi (berdasarkan garis kemiskinan negara berpenghasilan menengah-ke atas sebesar US $5,5 per hari).

 
Alokasi Dana Kesehatan
Selama keberadaan COVID-19, pemerintah di negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik telah, secara rata-rata, mengalokasikan hampir 5% dari Produk Domestik Bruto (PDB) mereka untuk memperkuat sistem kesehatan masyarakat, mendukung rumah tangga, dan membantu perusahaan terhindar dari kepailitan.

Akan tetapi, beberapa negara mengalami kesulitan untuk memperluas program perlindungan sosialnya yang terbatas, di mana sebelumnya mereka membelanjakan hanya kurang dari 1% PDB-nya, sehingga berlanjutnya dukungan dapat menyebabkan tekanan terhadap basis pendapatan pemerintah.

 "Covid-19 tidak hanya menyebabkan pukulan terparah bagi masyarakat miskin, tapi juga mengakibatkan munculnya masyarakat miskin baru. Kawasan ini dihadapkan kepada serangkaian tantangan yang belum pernah dihadapi sebelumnya, dan pemerintah menghadapi piihan yang sulit," ucap Victoria Kwakwa, Wakil Presiden Bank Dunia untuk kawasan Asia Timur dan Pasifik, melalui rilis yang diterima,Selasa (29/9).

Akan tetapi, ada beberapa pilihan kebijakan yang cerdas yang dapat menekan parahnya dampak tersebut. Misalnya dengan berinvestasi pada kapasitas pengujian dan penelusuran serta memperluas cakupan perlindungan sosial yang meliputi masyarakat miskin dan sektor informal.

Laporan ini memperingatkan, jika tidak diambil tindakan di berbagai bidang, pandemi ini dapat mengurangi pertumbuhan regional selama satu dekade yang akan datang sebesar 1 poin persentase per tahun.

Dampak terbesarnya akan dirasakan oleh keluarga miskin, karena mereka memiliki lebih sedikit akses kepada fasilitas layanan kesehatan, pendidikan, pekerjaan, dan keuangan.

Penutupan sekolah akibat COVID-19 dapat menyebabkan hilangnya waktu untuk penyesuaian belajar setara 0,7 tahun bersekolah, di negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik, menurut analisis pada laporan ini.

Sebagai akibatnya, rata-rata seorang siswa di kawasan ini mungkin menghadapi penurunan nilai penghasilan sebesar 4%  dari yang diharapkan, setiap tahunnya, kelak pada usia produktif mereka. (E-1)

 

Baca Juga

Antara/Nova Wahyudi

Indonesia Lebih Siap Resesi Dibandingkan Krisis Ekonomi 1998

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 21:00 WIB
Krisis moneter 1998 yang dipicu oleh krisis mata uang negara...
DOK PGN

Lima Daerah Peroleh Harga Gas Lebih Murah

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 20:50 WIB
Lima daerah tersebut ialah Kabupaten Aceh Tamiang (Aceh), Ogan Komering Ulu (Sumatra Selatan), Sarolangun (Jambi), Muaro Jambi (Jambi), dan...
ISTIMEWA

Pemerintah Canangkan Sagu Sebagai Gerakan Diversifikasi Pangan

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 20:20 WIB
Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis Kemenko Perekonomian, Musdalifah Macmud mengatakan bahwa sagu merupakan kompditas penting...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya