Selasa 29 September 2020, 08:36 WIB

Ilmuwan Waspadai Bahaya Kondisi Laut yang Stabil

Wisnu AS | Humaniora
Ilmuwan Waspadai Bahaya Kondisi Laut yang Stabil

AFP/Rodger Bosch
.

 

PEMANASAN global membuat kondisi lautan lebih stabil, suhu permukaan meningkat, dan mengurangi karbon yang dapat diserapnya. Perubahan iklim akibat ulah manusia telah meningkatkan suhu permukaan di seluruh planet yang menyebabkan ketidakstabilan atmosfer dan memperkuat peristiwa cuaca ekstrem, seperti badai.

Itu disampaikan penelitian yang diterbitkan Senin (28/9) oleh para ilmuwan iklim. Mereka memperingatkan bahwa temuan itu memiliki implikasi yang mendalam dan meresahkan.

Namun di lautan, suhu yang lebih tinggi memiliki efek berbeda. Hal tersebut akan memperlambat percampuran antara permukaan yang menghangat dengan air yang lebih dingin dan kaya oksigen di bawahnya.

Stratifikasi lautan itu berarti semakin sedikit air dalam yang naik ke permukaan yang membawa oksigen dan nutrisi. Air di permukaan akan lebih sedikit menyerap karbon dioksida di atmosfer untuk membuangnya di kedalaman.

Dalam laporan yang diterbitkan dalam jurnal Nature Climate Change, tim ilmuwan iklim internasional mengatakan mereka menemukan bahwa stratifikasi secara global telah meningkat 5,3% dari 1960 hingga 2018. Sebagian besar stabilisasi ini terjadi di permukaan dan sebagian besar disebabkan oleh kenaikan suhu.

Mereka mengatakan proses itu diperburuk dengan mencairnya es laut. Artinya, lebih banyak air tawar--yang lebih ringan dari air asin--terakumulasi di permukaan laut. Rekan penulis studi, Michael Mann, seorang profesor ilmu iklim di Pennsylvania State University, mengatakan dalam komentar yang diterbitkan di Newsweek bahwa temuan yang tampaknya teknis memiliki implikasi yang mendalam dan mengganggu.

Hal itu pun berpotensi mendorong lebih banyak badai hebat yang merusak saat permukaan laut menghangat. Mann juga menunjuk pada pengurangan jumlah CO2 yang diserap yang berarti bahwa polusi karbon menumpuk lebih cepat dari yang diharapkan di atmosfer.

Dia memperingatkan bahwa model iklim yang canggih sering kali meremehkan stratifikasi lautan dan mungkin juga meremehkan dampaknya. Dengan perairan hulu yang lebih hangat dan menerima lebih sedikit oksigen, ada juga implikasi bagi kehidupan laut. (AFP/OL-14)

Baca Juga

ANTARA/Jojon

AAJI Kerja Sama dengan BenihBaik.com Bantu Guru Terdampak Pandemi

👤Retno Hemawati 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 04:00 WIB
Bantuan disalurkan melalui Benihbaik.com, sebagai platform crowdfunding yang terpercaya, dengan nominal sebesar Rp300...
Dok. Instagram

Livi Zheng Melangkah Maju

👤Zubaedah Hanum 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 02:35 WIB
MUDA dan perempuan. Dalam sekali tepukan, sutradara Livi Zheng, 31, berhasil mematahkan anggapan bahwa orang muda dan perempuan ialah kaum...
Dok. Kevin Aprilio

Kevin Aprilio Berkali-kali Tertunda Akhirnya Menikah Juga

👤MI 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 02:15 WIB
MEMUTUSKAN untuk menikah di masa pandemi covid-19 menjadi sebuah keputusan besar yang diambil musikus Kevin...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya