Selasa 29 September 2020, 07:24 WIB

Belajar Ketahanan Pangan Dari Po Teumerehom Teungku Di Kandang

Amiruddin Abdullah Reubee | Nusantara
Belajar Ketahanan Pangan Dari Po Teumerehom Teungku Di Kandang

MI/Amiruddin Abdullah Reubee
Masyarakat membagikan nasi bungkus daun pisang dan kari daging kerbau dalam acara kenduri blang, Minggu (27/9/2020).

 

JARUM jam menunjukkan pukul 11.09 Wib, para tamu dan tokoh masyarakat satu persatu mulai naik ke sebuah balai berkontruksi beton. Hari Minggu (27/9) siang itu, seorang teungku atau ustad dengan diikuti seluruh jemaah mulai memimpin  doa dan istigfar, dilanjutkan dengan membaca Surat Yasin. Mereka berdoa seraya mengharapkan rahmat dan ridha Allah agar tidak ada halangan saat mereka turun ke sawah nanti. Selain para jemaah, juga hadir masyarakat memenuhi sekitar balai dengan duduk di bawah pohon dan ikut serta berdoa serta berzikir.

Kenduri blang atau kenduri turun ke sawah itu dilaksanakan secara turun temurun di halaman sekitar makam milik Po Teumerehom Teungku Di Kandang. Dalam bahasa Aceh, Po berarti raja. Teumerehom berarti almarhum, dan Teungku Du Kandang berarti ulama di Kampung Kandang. Konon Po Teumerehom Teungku Di Kandang adalah seorang raja yang alim pada masa kerajaan Aceh sekitar abad 15 Masehi. Ia tinggal di pinggiran Sungai Krueng Baro, tepatnya di Kampung Kandang, Kecamatan Sakti, Kabupaten Pidie Provinsi Aceh. Tidak diketahui secara jelas nama asli dan daerah asal Po Teumerehom Teungku Di Kandang ini.

Di lokasi makam seluas sekitar 1 hektar ini, Po memimpin masyarakat sekitar dalam hal beribadah, melawan penjajahan kolonial dan mengajari ketahanan pangan dengan bertanam padi. Untuk mengabadikan kepemimpinannya, setiap tahun warga dari 17 desa dalam kawasan Kemukiman Kandang (4 desa), Kemukiman Langga (8 desa) dan Kemukiman Lameue (5 desa) selalu melaksanakan tradisi kenduri turun ke sawah di komplek makam setempat.

Warga masing-masing desa memasak sendiri lauk daging kerbau yang dibagikan oleh panitia pelaksana. Satu kerbau besar itu dibeli dari hasil kutipan gabah padi atau sumbangan donatur lainnya. Ada 17 kuali besar lauk daging kari kerbau khas Aceh dimasak di lokasi makam keramat Po Teumerehom Teungku Di Kandang.

"Kebersamaan itu membangun kekompakan dalam pembangunan pertanian dan peningkatan produksi gabah dan bisa menyelesaikan berbagai hal di masyarakat. Ini juga syiar positif yang harus kami pertahankan diasyarakat paling bawah" kata Tarmizi, tokoh masyarakat Kecamatan Sakti yang juga mantan Kepala Mukim Kandang.

Setelah zikir dan berdoa, ribuan orang yang mengikuti kenduri blang menyantap kari daging kerbau. Sambil menunggu nasi kulah (nasi berbungkus daun pisang) dan kari daging kerbau dibagikan, para jemaah mendengarkan penjelasan dari tokoh masyarakat tani, penyuluh dari dinas pertanian maupun camat.

Berbagai arahan dan pengumuman kapan bisa memulai membersihkan saluran irigasi/tali air, membajak sawah, menabur benih, menanam padi hingga berakhir musim tanam, dijelaskan saat pengarahan tersebut. Sedikitnya ada 1.000 ha lahan sawah produktif yang tersebar di lokasi sekitar makam.

Kemudian berbagai kendala ketika musim turun ke sawah seperti krisis air, kerusakan tali air serangan hama penyakit juga didiskusikan pada acara kenduri blang ini. Berbagai persoalan yang pernah terjadi atau diperkirakan akan timbul langsung dimusyawarahkan dan dicari solusinnya.

"Pada musin tanam lalu ada sekitar 19 hektare lahan sawah tidak teraliri air sehingga terjadi gagal panen. Sekarang harus melakukan upaya apa agar kedepan bisa produktif kembali" kata Kepala Balai Penyuluh Pertanian Kecamatan Sakti, Muhammad.

Camat Sakti, Nurmasyitah menambahkan tidak semua perbaikan saluran irigasi ditunggu dari anggaran belanja pemerintah provinsi atau anggaran kabupaten. Tapi untuk saluran kecil atau saluran cacing boleh digunakan dana anggaran desa. Yang penting sesuai dana yang tersedia dan tidak menyalahi aturan.

"Silahkan saja menggunakan anggaran desa bila memungkinkan. Tidak usah tunggu dari pemerintah kabupaten kalau nanti terlalu lama. Saya setuju, yang penting pertanggung jawabannya jelas" ujar Masyitah.

baca juga: BMKG kembali Ingatkan Potensi Cuaca Ekstrem 

Kepala Bidang Penyuluhan Dinas Pertanian Kabupaten Pidie, juga menyampaikan kepada ribuan petani supaya menggunakan benih bersertifikat. Karena kualitas benih verpengaru besar terhadap hasil produksi gabah dan daya tahan hama penyakit.

"Berikan pupuk berimbang, jaga kebersihan pematang sawah untuk menghindari gangguan hama seperti tikus. Lalu perlakukan tanaman sesuai anjuran penyuluh pertanian," tambah Muslim. (OL-3)

Baca Juga

ANTARA/Noveradika

Gubernur DIY Tetapkan UMP DIY 2021 Naik 3.54%

👤Agus Utantoro, Ardi Teristi Hardi 🕔Minggu 01 November 2020, 08:26 WIB
"Kenaikan UMP DIY ini lebih tinggi dari Jateng yang naik sebesar...
Dok LOPO BELAJAR ANAK TIMOR

Anak-Anak di Pinggiran Kota Kupang Jalani Pemeriksaan Kesehatan

👤Palce Amalo 🕔Minggu 01 November 2020, 07:54 WIB
Kegiatan tersebut diikuti 25 anak dari Taman Baca Malile di kelurahan setempat dan digelar secara rutin sebagai upaya untuk mendeteksi...
MI/Djoko Sardjono

Libur Panjang, Kasus Positif Covid-19 di Klaten Meningkat

👤Djoko Sardjono 🕔Minggu 01 November 2020, 06:36 WIB
"Hari ini, Sabtu (31/10), ada penambahan sebanyak 32 orang terkonfirmasi positif, satu di antaranya meninggal...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya