Selasa 29 September 2020, 07:03 WIB

Rabies Masih Jadi Ancaman di Indonesia

Atalya Puspa | Humaniora
Rabies Masih Jadi Ancaman di Indonesia

ANTARA/Nyoman Hendra Wibowo
Petugas Dinas Pertanian Kota Denpasar menyuntikkan vaksin antirabies pada anjing di kawasan Pantai Sanur, Denpasar, Bali.

 

ANGKA kematian akibat Rabies di Indonesia masih tinggi yakni 100-156 kematian per tahun, dengan Case Fatality Rate (Tingkat Kematian) hampir 100%. Hal itu menggambarkan bahwa rabies masih jadi ancaman bagi kesehatan masyarakat.

"Secara statistik, 98% penyakit rabies ditularkan melalui gigitan anjing dan 2% penyakit tersebut ditularkan melalui kucing dan kera," kata Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat Kemenkes Widyawati dalam keterangan resmi, Senin (28/9).

Tantangan berat saat ini adalah masih ada provinsi yang belum bebas rabies. Dari 34 provinsi di Indonesia, hanya 8 provinsi yang bebas rabies sementara 26 provinsi lainnya masih endemik rabies.

Baca juga: Intervensi Skala Mikro Berulang Diyakini Lebih Efektif

Secara hitoris, 8 provinsi tersebut adalah Kepulauan Riau, Bangka Belitung, Papua, Papua Barat, DKI Jakarta, Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur.

Dalam 5 tahun terakhir (2015-2019), kasus gigitan hewan penular rabies dilaporkan berjumlah 404.306 kasus dengan 544 kematian.

Ada 5 provinsi dengan jumlah kematian tertinggi antara lain Sulawesi Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Selatan, Sumatra Utara, dan Nusa Tenggara Timur. Sedangkan kejadian luar biasa (KLB) rabies pada 2019 terakhir dilaporkan terjadi di Nusa Tenggara Barat.

Hal itu menunjukkan upaya pengendalian rabies di Indonesia memerlukan langkah terstruktur dan sistematis. Peran pemerintah dan lintas sektor masih sangat dibutuhkan dalam mengatasi permasalahan tersebut

Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengatakan, di Indonesia, gigitan anjing dapat dicegah dengan pemeliharaan anjing domestik yang tepat dan penanganan anjing liar yang benar.

“Pencegahan kematian akibat rabies pada manusia ditentukan oleh, satu, penanganan luka Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) yang tepat, dua, pemberian Vaksinasi Antirabies (VAR), dan tiga, pemberian Serum Antirabies (SAR). Dukungan seluruh komponen bangsa sangat menentukan dalam mewujudkan,” katanya dalam keterangan resmi, Senin (28/9).

Setiap tahunnya, peringatan Hari Rabies Sedunia dilaksanakan setiap 28 September.

“Namun, pada tahun ini, dalam situasi pandemi covid-19, acara Puncak Hari Rabies Sedunia pada hari ini dilaksanakan secara daring,” katanya.

Peringatan Hari Rabies Sedunia dimaksudkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pentingnya pencegahan dan pengendalian rabies. Selain itu, meningkatkan komitmen pemerintah daerah dalam menyediakan Rabies Center dan menguatkan jejaring kerja pengendalian rabies.

Tema Hari Rabies Sedunia tahun ini yaitu ‘Kolaborasi Berkualitas, Vaksinasi Tuntas! Rabies Bebas!’. Tema ini sangat relevan dengan upaya pemerintah dan masyarakat dalam mensukseskan pencegahan dan pengendalian rabies. (OL-1)

Baca Juga

Antara

Perkuat Ikatan Kebangsaan Guna Majukan Negeri

👤Cahya Mulyana 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 15:51 WIB
"Gus Dur (Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid) waktu berpesan cintailah tanah, air dan udara di atas segala-galanya," kata Budayawan...
Antara/Aprillio Akbar

Agar PJJ Efektif, Guru dan Orang Tua Harus Jalin Komunikasi

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 15:18 WIB
Sebelum pandemi covid-19, komunikasi guru dengan orang tua cenderung berjalan lancar secara tatap muka. Berbeda saat pandemi di mana...
AFP

Kemenag: 26 Ribu Jemaah Penuhi Syarat Usia Umrah di Masa Pandemi

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 15:09 WIB
“Ada 26.328 jemaah atau 44% dari mereka yang sudah mendapat nomor registrasi, berusia 18 sampai 50 tahun. Mereka masuk dalam kriteria...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya