Selasa 29 September 2020, 05:00 WIB

Ilmuwan Beri 3 Rekomendasi Hadapi Karhutla

Aiw/Ata/H-2 | Humaniora
Ilmuwan Beri 3 Rekomendasi Hadapi Karhutla

ANTARA FOTO/Bayu Pratama S/wsj.
KARHUTLA DI KALSEL MULAI MARAK TERJADI:

 

PARA ilmuwan mengingatkan tingginya risiko kekeringan dan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih mengintai Indonesia di bulan-bulan mendatang. Pemerintah diminta untuk menyiapkan mitigasi yang tepat untuk itu.

"Strategi mitigasi yang tepat penting terutama di tengah keterbatasan sumber daya, baik anggaran, waktu, dan SDM di masa pandemi covid-19," ucap peneliti bidang ekologi Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Sugeng Budiharta, kemarin.

Dari kajiannya, ditemukan fakta bahwa sebaran karhutla yang sangat luas dan intensitas sangat tinggi terjadi pada saat musim kemarau panjang dengan curah hujan sangat rendah, atau sering disebut El-Nino.

Dia mencontohkan, tahun-tahun kering tersebut misalnya pada 2002, 2006 dan 2015, kejadian karhutla meningkat secara eksponensial, bahkan hingga delapan kali lipat dibandingkan tahun-tahun biasa. Kejadian karhutla juga berkaitan erat dengan lokasi kebakaran tersebut terjadi.

Sugeng menyampaikan tiga hal prioritas yang perlu mendapat perhatian sebagai upaya mitigasi karhutla. Pertama, perlunya deteksi dini dalam mengantisipasi tahun-tahun kering minim hujan atau El-Nino. Dalam hal ini, peran Badan Meterologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menjadi sentral.

Kedua, lahan gambut terdegradasi menjadi kawasan prioritas untuk mengurangi risiko kebakaran. Pelarangan penggunaan api secara total untuk membuka lahan di kawasan gambut menjadi strategi kunci.

Menurutnya, upaya-upaya yang dirintis Badan Restorasi Gambut (BRG) yang mengampanyekan pembukaan lahan tanpa bakar (PLTB) patut diteruskan dan diperbesar skalanya. Strategi tersebut perlu dibarengi dengan restorasi lahan gambut secara berkelanjutan dengan tujuan untuk menjaga gambut agar tidak kering.

Rekomendasi ketiga ialah mengetatkan pengawasan pada sektor perkebunan intensif sebagai sektor prioritas mitigasi karhutla. Penegakan hukum perlu diperkuat dengan peran serta dari masyarakat dan akademisi, namun mereka juga harus diberikan perlindungan hukum.

Meski tidak masif, saat ini kejadian karhutla dilaporkan masih berlangsung di sejumlah tempat, antara lain di Taman Nasional Baluran (BTN Baluran), Jawa Timur dan Desa Bukit Makmur, Kecamatan Segah, Kabupaten Berau, Kaltim.

Baca Juga

Biro Pers Istana

Jokowi: Penghormatan Tertinggi untuk Dokter Gugur saat Pandemi

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 18:20 WIB
"Keteladanan yang ditunjukkan para dokter di masa pandemi ini telah menginspirasi jutaan anak bangsa untuk saling menolong, saling...
Ist

Osteoporosis Bukan Hanya Soal Kurang Kalsium

👤Eni Kartinah 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 17:43 WIB
Konsumsi obat-obatan golongan steroid dan beberapa jenis penyakit seperti autoimun, ginjal, hati, radang sendi, serta hipertiroid juga bisa...
Dok MI

Perlu Sosialisasi Masif untuk Tingkatkan Pemahaman soal Kanker

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 17:40 WIB
Minimnya informasi tentang kanker, menurut Lestari, menyebabkan masyarakat kerap terlambat dalam mengantisipasi gejala-gejala kanker yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya