Senin 28 September 2020, 21:30 WIB

Saham Bank Turun, Pengamat : Investor Asing Belum Yakin

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Saham Bank Turun, Pengamat : Investor Asing Belum Yakin

Antara/Puspa Perwitasari
Saham bank turun banyak.

 

SAHAM-saham perbankan besar  jatuh cukup dalam seiring terkoreksinya Indeks Harga Saham Gabungan pada perdagangan Senin (28/9). Dana asing pun terekam kabur cukup besar.

Terpantau saham Bank BCA (BBCA) terkoreksi 475 poin (-1,69), dengan aksi jual bersih oleh investor asing sebesar Rp 173,04 miliar. Kemudian saham Bank Mandiri (BMRI) terkoreksi 200 poin (-3,74%) dengan aksi jual oleh investor asing sebesar Rp 131,79 miliar. Lalu hal yang sama terjadi pada saham Bank BRI (BBRI) yang terkoreksi 70 poin (-2,22%).

Head of Investment PT Reswara Gian Investa Kiswoyo Adi Joe hal ini berkaitan dengan kondisi tingginya angka penularan virus covid-19 di Indonesia. Akibatnya para investor asing tidak yakin dengan kondisi ekonomi Indonesia dalam enam bulan ke depan.

"Orang kalau yakin dengan kondisi ekonomi dalam enam bulan ke depan akan bagus, IHSG akan naik duluan karena mereka membeli saham. Tapi kalau tidak yakin, orang akan menjual saham tersebut. Jadi (penurunan) ini berkaitan dengan investor asing yang masih belum yakin dengan kondisi ekonomi Indonesia dalam enam bulan ke depan," kata Siswoyo dihubungi Senin (28/9).

Tetapi bila dalam dua minggu, investor asing berbalik membeli, artinya asing melihat ada sinyal ekonomi Indonesia enam bulan ke depan akan bangkit. Ekspektasi dan proyeksi asing cenderung lebih panjang yaitu tiga sampai enam bulan ke depan. Berbagai stimulus ekonomi yang hadir melalui perbankan BUMN juga sudah dipantau oleh asing. Namun menurut Siswoyo, hasil akhirnya para investor asing ini masih belum optimistis pada keadaan ekonomi Indonesia mendatang.

"Kita tidak bisa mengontrol investor asing dan darimana mereka memandangnya. Itu rahasia mereka. Jadi kalau dalam dua minggu mereka kembali membeli, artinya ada sinyal tanda positif ekonomi di Indonesia. View mereka memang lebih panjang," kata Kiswoyo.

Saham-saham di sektor perbankan terimbas lebih dahulu karena investor asing tipe yang membutuhkan likuiditas. Mereka ingin keluar masuk dalam waktu singkat dan hanya saham perbankan yang masih sangat cair likuiditasnya.  Selain itu penggerak IHSG yaitu pertama perbankan terutama empat bank besar BBCA, BMRI, BBNI, BBRI dan disusul oleh sektor konsumer.

"Asing memang mencari saham-saham yang likuid. Sebetulnya sektor konsumer juga masih bisa bertahan. Posisinya wait and see, terutama oleh investor asing jangka panjang. Namun di perbankan penempatan saham asing bobotnya lebih besar daripada di konsumer karena alasan lebih likuid," kata Kiswoyo. (E-1)

Baca Juga

ANTARA

Meningkatnya Pemimpin Perempuan di BUMN Wujud Inovasi

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 01:30 WIB
Kementerian BUMN berharap muncul talenta-talenta terbaik untuk memajukan kinerja dan performa...
ANTARA/Dedhez Anggara (STR)

Target Tinggi, Akselerasi FLPP Tahun Depan Mesti lebih CepatĀ 

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 22:15 WIB
Dengan target penyaluran KPR FLPP 2021 sebesar 157.500 unit senilai Rp19,1 triliun, bank pelaksana harus bekerja dua kali...
MI/Susanto

Sri Mulyani: Kesenjangan Teknologi Terjadi di Indonesia

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 21:59 WIB
Transformasi digital itu dilakukan melalui pemberian subsidi berupa internet gratis kepada siswa, guru hingga pendidikan tinggi guna...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya