Senin 28 September 2020, 21:06 WIB

World Heart Day 2020: Perbaiki Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung

Eni Kartinah | Humaniora
World Heart Day 2020: Perbaiki Kualitas Hidup Pasien Gagal Jantung

Thinkstock
Gagal jantung adalah kondisi di mana fungsi jantung dalam memompa darah sudah tidak maksimal. 

 

TEPAT tanggal 29 September diperingati sebagai World Heart Day (Hari Jantung Sedunia). Terdapat berbagai spektrum penyakit kardiovaskular, di antaranya adalah penyakit jantung koroner, penyakit jantung bawaan, gagal jantung, gangguan irama jantung, dan penyakit katup jantung. 

Meskipun tidak sebanyak penderita penyakit jantung koroner, namun sebagian besar kasus gagal jantung bersifat permanen dengan angka harapan hidup lebih rendah. 

Dijelaskan dr. Siti Elkana Nauli SpJP, gagal jantung adalah kondisi di mana fungsi jantung dalam memompa darah sudah tidak maksimal. 

“Darah yang dipompa tidak mampu lagi mencukupi kebutuhan seluruh jaringan tubuh. Akibatnya pasien mengalami gejala seperti mudah lelah dan sesak napas saat beraktivitas. Berat ringannya gejala tergantung tahapan atau stage gagal jantung,” jelas dr.Siti pada keterangan pers, Senin (28/9) .  

Penelitian yang pernah dilakukan oleh perhimpunan dokter spesialis jantung dan pembuluh darah di Indonesia melalui registri data pasien jantung antara 2017 sampai sekarang, menunjukkan, dari sekitar 2.000 pasien gagal jantung, penyebab terbanyak adalah hipertensi, penyakit jantung koroner, dan diabetes. 

Tingkat kesakitan dan kematian pasien gagal jantung sangat tinggi. Kualitas hidupnya pun jauh lebih buruk dibandingkan penyakit jantung lainnya. 

“Angka harapan hidupnya selama 5 tahun hanya sekitar 50% saja. Untuk pasien rawat inap, angka kematiannya bahkan lebih tinggi lagi, yakni 17-20%  akan meninggal dalam waktu 30 hari dirawat,” jelas dr. Siti, spesialis  jantung dan pembuluh darah di RS Sari Asih Karawaci.  

Biaya pengobatan dan perawatan pasien gagal jantung sangat tinggi. Salah satu pemicunya, mereka harus dirawat di rumah sakit berulang-ulang, saat gejala memburuk. 

“Semakin sering pasien dirawat di rumah sakit, maka pengobatan menjadi lebih sulit dan komplikasi semakin banyak. Bahkan pasien bisa resisten dengan pengobatan dan akhirnya jatuh pada gagal jantung tahap akhir,” kata alumi Fakultas Kedokteran Uniersitas Indonesia. 

Harapan baru untuk pasien gagal jantung

Tujuan terapi gagal jantung adalah menurunkan angka kematian dan memperbaiki kualitas hidup pasien. Terapi standar untuk gagal jantung adalah dengan obat-obatan, pemasangan alat di jantung, dan tranplantasi jantung. 

Namun untuk dua terapi terakhir,  biayanya sangat tinggi. Pemasangan alat pacu jantung terbaru dan advance seperti  left ventricular assist device (LVAD) dan transplantasi jantung bahkan belum tersedia di Indonesia.

Oleh karena itu, dikembangkannya obat-obatan  baru yang terbukti bisa mengurangi angka kesakitan dan kematian pasien gagal jantung tentu sebuah berita yang ditunggu-tunggu.

Salah satu penelitian terbaru untuk pengobatan gagal jantung datang dari obat antidiabetes dari golongan SGLT2, yakni Empagliflozin

Dijelaskan Prof. dr. Ketut Suastika dari FK Udayana Bali, awalnya SGLT2 ini memang obat antidiabetes. Tetapi rupanya dalam perkembangannya, obat ini tidak hanya bermanfaat menurunkan gula darah saja, tetapi ia juga memiliki efek positif lainnya. 

“Obat ini bisa membantu mengeluarkan kelebihan garam melalui ginjal, memperbaiki tekanan darah, dan mengurangi kegemukan, dan banyak efek manfaat lain, termasuk menekan peredangan. Semua itu semua berkontribusi pada perbaikan gejala gagal jantung, baik pada pasien diabetes maupun nondiabetes,” jelas Prof. Suas.

Uji klinis EMPEROR-Reduced Fase III yang diumumkan oleh Boehringer Ingelheim baru-baru ini, menunjukkan ada penurunan kematian akibat kardiovaskular dan penurunan rawat inap karena gagal jantung sebesar 25%, pada penderita gagal jantung dengan dan tanpa diabetes tipe 2 yang diberikan Empagliflozin

Sebelumnya, pada uji klinis EMPA-Reg Ooutcom juga telah ditemukan bahwa Empagliflozin merupakan inhibitor SGLT2 pertama yang menunjukkan penurunan kematian dan rawat inap terkait kardiovaskular akibat gagal jantung pada orang dengan diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular yang sudah ada sebelumnya.

Saat ini Empagliflozin merupakan obat anti diabetes pertama dengan indikasi kardiovaskular pada pasien dengan diabetes tipe 2, namun belum diindikasikan untuk pengobatan gagal jantung.

Hasil uji klinis ini adalah hal baru, sehingga perlu waktu bagi otoritas lokal di Indonesia untuk menyetujui obat tersebut diindikasikan untuk gagal jantung. (Nik/OL-09)

Baca Juga

DOK KOMINFO

Anak Muda Berperan Besar Satukan Indonesia

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 13:26 WIB
Sejumlah video unjuk bakat beserta kreatifitas anak muda menunjukkan betapa hebatnya budaya bangsa...
MI/Alexander P Taum

Wamenag Minta Warga Wajib Rawat Kebhinekaan dan Jaga Indonesia

👤Alexander P Taum 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 12:44 WIB
Berbicara dalam kesepatan tatap muka bersama FKUB Kabupaten Lembata serta keluarga besar Kementerian Agama, Zainut menegaskan Indonesia...
ANTARA/FB Anggoro

253 Petugas Medis Wafat Akibat Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 12:35 WIB
Dokter dan tenaga kesehatan lainnya merupakan garda terdepan saat menghadapi pandemi covid-19. Perlindungan terhadap mereka juga harus...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya