Senin 28 September 2020, 07:35 WIB

Terapi Hidrogen Bantu Penanganan Hipoksia

Wisnu AS | Humaniora
Terapi Hidrogen Bantu Penanganan Hipoksia

DOK Livewell Global
.

 

GEJALA hipoksia bukan spesifik terjadi pada pasien covid-19 saja. Ini bisa berisiko pula bila kondisi seseorang memiliki gangguan atau kerusakan paru-paru akibat ketidakmampuan memberikan oksigen yang cukup ke jaringan dan sel tubuh.

“Contoh yang paling sering memang pada pasien yang menderita infeksi paru, penyakit paru obstruksi kronik, serta tumor paru, atau hingga keganasan yang menyebar ke parenkim paru,” tutur dr Bintang Cristo Fernando, SpBS, Kepala Instalasi Gawat Darurat dan tim medis Covid-19 RS PGI Cikini, Jakarta. Manifestasi hipoksia klinisnya mulai dari saluran napas atas hingga ke organ paru-paru.

“Bila infeksi terjadi dan bergejala berat berarti paru-paru manusia sudah mulai berkurang kemampuannya untuk memberikan suplai oksigen yang cukup ke jaringan dan sel tubuh,” jelasnya. Hipoksia merupakan kondisi tubuh tidak mendapatkan oksigen yang cukup.

Menurut dokter Bintang, kondisi hipoksia biasa terjadi di jaringan dan sel yang kemudian dapat menimbulkan gejala atau keluhan klinis. “Berbeda dengan hipoksemia yang kekurangan oksigen dalam darah. Kondisi hipoksemia kemudian dapat menimbulkan hipoksia,”ucap dokter spesialis bedah saraf ini.

Berdasarkan hasil penelitian Scientific Report pada 22 Mei 2018 yang diterbitkan situs penelitian NCBI, terapi hidrogen memperbaiki cedera paru yang diinduksi hipoksia. Pada penelitian ini dinyatakan bahwa hidrogen dapat memperbaiki cedera paru-paru yang diinduksi hipoksia dengan menghambat produksi radikal hidroksil (radikal bebas yang sangat reaktif) dan peradangan di paru-paru.

“Secara molekuler, paru-paru sering cedera akibat adanya pembentukan radikal hidroksil. Menurut tanggapan saya pada penelitian tersebut, dengan penggunaan hidrogen dalam jumlah konsentrasi tinggi (berikatan dengan air) akan menghambat sistem inflamasi pada paru-paru, sehingga mencegah dan mengurangi terjadinya kerusakan paru yang lebih luas atau masif dengan menghambat faktor-faktor peradangan dan inflamasi,“ jelas dokter Bintang menanggapi penelitian tersebut.

Penggunaan hidrogen  untuk  menjaga kesehatan dan bantu pencegahan berbagai penyakit di Indonesia sudah mulai diterapkan sebagian masyarakat. Hal ini diakui pendiri perusahaan LiveWell Global, Leonardo Wiesan, selaku distributor Hydro-Gen Fontaine PEM & Inhaler yakni mesin generator portabel penghasil air bermolekul hidrogen tinggi dari Korea Selatan.

“Saat ini permintaan terhadap Hydro-Gen Fontaine PEM & Inhaler semakin tinggi. Saya rasa masyarakat Indonesia mulai memahami manfaat air hidrogen. Masyarakat di negara maju, seperti Jepang, Korea, Tiongkok, sudah banyak menggunakan air minum berkandungan hidrogen sehari-hari untuk menjaga kesehatan,” ujar Leonardo.

Air dan inhalasi hidrogen juga memperoleh respons positif dari para peneliti dunia untuk membantu perawatan pasien covid-19 di Tiongkok.Hal ini dapat dilihat dalam jurnal Therapeutic Advances in Respiratory Disease yang diterbitkan situs penelitian NCBI berjudul Covid-19 dan Inhalasi Hidrogen pada 30 Agustus 2020. "Di artikel tersebut, tertulis mengenai laporan Komisi Kesehatan Nasional Tiongkok dan Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok yang merekomendasikan terapi inhalasi perpaduan oksigen dan hidrogen pada perawatan pada pasien covid-19 dengan pneumonia Tiongkok,” jelas Leonardo. (OL-14)

Baca Juga

Biro Pers Istana

Jokowi: Penghormatan Tertinggi untuk Dokter Gugur saat Pandemi

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 18:20 WIB
"Keteladanan yang ditunjukkan para dokter di masa pandemi ini telah menginspirasi jutaan anak bangsa untuk saling menolong, saling...
Ist

Osteoporosis Bukan Hanya Soal Kurang Kalsium

👤Eni Kartinah 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 17:43 WIB
Konsumsi obat-obatan golongan steroid dan beberapa jenis penyakit seperti autoimun, ginjal, hati, radang sendi, serta hipertiroid juga bisa...
Dok MI

Perlu Sosialisasi Masif untuk Tingkatkan Pemahaman soal Kanker

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 17:40 WIB
Minimnya informasi tentang kanker, menurut Lestari, menyebabkan masyarakat kerap terlambat dalam mengantisipasi gejala-gejala kanker yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya