Senin 28 September 2020, 05:30 WIB

Tidak Ada Perubahan Kurikulum hingga 2021

Bay/Aiw/PO/X-7 | Humaniora
Tidak Ada Perubahan Kurikulum hingga 2021

Medcom.id
Ilustrasi

 

KEMENTERIAN Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengakui sudah banyak menerima berbagai aspirasi, saran, dan masukan terkait dengan peningkatan kualitas kurikulum.

Beberapa di antaranya bahkan sudah masuk pembahasan. Namun, Kemendikbud melalui Pusat Kurikulum dan Perbukuan (Puskurbuk) menyatakan belum ada perubahan kurikulum hingga 2021.

“Sesuai arahan Mendikbud, tidak ada perubahan kurikulum nasional. Pada 2021 ialah implementasi terbatas atau prototyping pada sekolah penggerak,” kata Kepala Puskurbuk Kemendikbud Maman Faturahman saat dihubungi kemarin.

Puskurbuk berada dalam Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) dan Perbukuan Kemendikbud mendukung pada aspek kurikulum.

Maman mengatakan beberapa yang sudah mulai masuk pembahasan ialah peningkatan kualitas guru dan implementasi mata pelajaran sejarah agar lebih bermakna. Misalkan, sejarah tematik atau sejarah mesin untuk SMK.

Selain itu, Puskurbuk juga menerima masukan soal peningkatan peran bimbingan dan konseling (BK) dalam merdeka belajar, muatan lokal banjir Jakarta, bahasa daerah, juga perubahan iklim, penggunaan perangkat teknologi, dan berbagai hal lainnya.

“Kami akan melakukan kajian internal dan kolaborasi bersama para pengusul sebelum benar-benar dibawa pada pembahasan publik. Seluruhnya berada pada konteks kajian internal, belum untuk menjadi pembahasan bersama publik.

Secara terpisah, Dewan Pakar Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) Retno Listyarti mengatakan, pihaknya mendukung rencana Kemendikbud untuk menyederhanakan Kurikulum 2013 demi menciptakan kemerdekaan belajar bagi siswa.

Penyederhanaan yang dimaksud, lanjutnya, untuk mengurangi muatan Kurikulum 2013 yang selama ini sarat beban dan sulit dituntaskan.

“Penyederhanaan kurikulum berfokus pada pengurangan muatan, terutama materi yang tumpang-tindih antarmata pelajaran terkait, bukan menghilangkan mata pelajaran tertentu,” tambahnya.

Sementara itu, dari Nusa Tenggara Timur (NTT) dilaporkan banyak anak mengalami kekerasan psikis selama pembelajaran jarak jauh (PJJ).

“Seperti dimarahi atau dibentak orangtua,” kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT Tory Ata. (Bay/Aiw/PO/X-7)

Baca Juga

ANTARA/Jojon

AAJI Kerja Sama dengan BenihBaik.com Bantu Guru Terdampak Pandemi

👤Retno Hemawati 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 04:00 WIB
Bantuan disalurkan melalui Benihbaik.com, sebagai platform crowdfunding yang terpercaya, dengan nominal sebesar Rp300...
Dok. Instagram

Livi Zheng Melangkah Maju

👤Zubaedah Hanum 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 02:35 WIB
MUDA dan perempuan. Dalam sekali tepukan, sutradara Livi Zheng, 31, berhasil mematahkan anggapan bahwa orang muda dan perempuan ialah kaum...
Dok. Kevin Aprilio

Kevin Aprilio Berkali-kali Tertunda Akhirnya Menikah Juga

👤MI 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 02:15 WIB
MEMUTUSKAN untuk menikah di masa pandemi covid-19 menjadi sebuah keputusan besar yang diambil musikus Kevin...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya