Senin 28 September 2020, 05:30 WIB

Pantulan Kucing Mati

Raja Suhud, Wartawan Media Indonesia | Ekonomi
Pantulan Kucing Mati

MI/SENO
Raja Suhud, Wartawan Media Indonesia

 

DI pasar modal, ada istilah dead cat bounce. Bila kita Indonesiakan mungkin terdengar aneh, pantulan kucing mati.

Filosofi dari istilah itu ialah sifat sebuah benda yang jatuh ke bawah akan memantul sebentar ke atas untuk melanjutkan lagi kejatuhannya. Mengapa ada kata cat (kucing), saya tidak tahu. Mungkin karena kucing memiliki kelenturan lebih ketimbang binatang lainnya.

Dead cat bounce ialah sebuah fenomena yang umum terjadi di bursa saham ketika sebuah saham mengalami penurunan harga yang tajam dan mendadak. Harga saham dengan deras meluncur ke bawah. Pada titik tertentu akan berhenti dan memantul ke atas.

Namun, pantulan itu hanya merupakan temporary time break untuk kemudian melanjutkan penurunan, bahkan ke titik lebih dalam lagi.

Saat ini, kondisi perekonomian global dalam tekanan akibat pandemi covid-19 yang menyebar di awal tahun. Indonesia sebagai bagian dari ekonomi global tidak luput dari tekanan itu.

Bila banyak negara telah mendeklarasikan perekonomiannya dalam kondisi resesi, Indonesia hanya tinggal menunggu waktu. Begitu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan angka pertumbuhan Indonesia triwulan III berada di bawah 0%, seperti pada triwulan sebelumnya, Indonesia resmi bergabung dengan kelompok negara yang mengalami resesi.

Hal yang kerap kali didengung-dengungkan ialah bahwa kita telah melewati bagian terburuk dari krisis. Sejumlah indikator dikatakan telah menunjukkan sinyal pemulihan ekonomi. IPM manufaktur meningkat, utilisasi pabrik bertambah, dan kepercayaan konsumen membaik.

Namun, krisis ini memiliki dua potret, ekonomi dan kesehatan. Potret positif dari ekonomi ternyata tidak sejalan dengan yang terjadi di kesehatan sebagai titik awal dari krisis ini.

Di kesehatan, penyebaran masih jauh dari terkendali. Angka peningkatan kasus terus bertambah. Ini memang bukan fenomena Indonesia saja, melainkan global. Negara-negara di dunia terus berjuang menghadapi gelombang kedua dari penyebaran virus ini.

Kesehatan dan ekonomi merupakan dua hal yang tidak terpisahkan dalam krisis ini. Tidak ada jalan lain kecuali menuntaskan permasalah di area kesehatan terlebih dahulu agar ekonomi bisa pulih.

Harus diakui sejumlah aktivitas ekonomi meningkatkan risiko penyebaran. Oleh karena itu, berhitung ulang terhadap aktivitas mana yang boleh dan tidak boleh dibuka saat ini menjadi krusial, termasuk juga merencanakan pemberian insentif fiskal bagi warga untuk bepergian.

Kita sepakat bahwa kita berada dalam posisi no turning point. Namun, kita masih memiliki opsi untuk berhenti sejenak atau bahkan mundur selangkah guna memberikan waktu bagi kesehatan untuk memulihkan dirinya.

Agenda ekonomi harus tetap berada dalam fase mitigasi dampak selama kesehatan masih berupaya membereskan persoalan. Semua harus sabar menunggu sampai kesehatan mampu melangkah ke tahapan berikutnya.

Dengan demikian, fenomena pantulan kucing mati tidak terjadi dalam pemulihan ekonomi dan kita semua selamat dari krisis ini. (E-3)

 

Baca Juga

Antara

Petani Sawit Kecil Perlu Pembinaan

👤M. Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 13:21 WIB
Para petani sawit kecil perlu pembinaan dan kesempatan yang sama seperti perusahaan sawit yang...
Ciputra Group

Serah Terima Unit, Pengembang Terapkan Protokol Kesehatan Ketat

👤Heryadi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 13:12 WIB
Serah terima unit apartemen pengembang di Ciputra Group dilakukan dengan tetap mengikuti protokol kesehatan sesuai anjuran Pemprov DKI...
Antara/Ari Bowo Sucipto

Bangun Talenta Kaum Muda

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 11:28 WIB
Daya saing pemuda Indonesia harus kuat sebagai generasi pemimpin masa depan serta andal dan unggul di negeri sendiri dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya