Minggu 27 September 2020, 20:51 WIB

Kementan Amankan Produksi Padi dari Serangan Penggerek di Subang

mediaindonesia.com | Ekonomi
Kementan Amankan Produksi Padi dari Serangan Penggerek di Subang

DOK KEMENTAN

 

Penggerek batang padi (PBP) merupakan salah satu organisme pengganggu tumbuhan (OPT) utama yang paling sering menyerang tanaman padi. Ada berbagai jenis PBP, salah satunya adalah PBP Kuning yang paling sering ditemui menyerang tanaman padi.

Gejala yang ditimbulkan dari serangan hama PBP pada masa vegetatif yaitu sundep. Ini ditandai dengan pucuk batang padi kuning mengering dan mudah dicabut. Pada masa generatif gejala serangan PBP yaitu beluk ditandai dengan bulir padi yang hampa karena pengisian biji yang tidak sempurna. Hal ini dapat mengurangi hasil produksi padi petani dan tentunya akan berpengaruh pada produksi pangan nasional.

Kepala Balai Besar Peramalan OPT (BBPOPT) Enie Tauruslina mengungkapkan sebagai salah satu upaya dalam pengamanan produksi untuk menjaga agar produksi tetap aman, Bimtek Gerdal adalah salah satu solusinya. "BBPOPT beserta jajaran dari Kementerian Pertanian berkomitmen untuk mengawal kegiatan pengamanan produksi pangan nasional sehingga kami terus bergerak di lapangan untuk pengamanan produksi," tutur Enie.

Baca Juga: Kementan Sigap Tanggapi Laporan Serangan Hama di Morselbar

Bimtek dan Gerdal Penggerek Batang Padi (PBP) dilakukan di Kelompok Tani Srijaya VII, Desa Rancajaya, Kec. Patokbeusi, Subang, Jawa Barat. Materi bimtek yang disampaikan yaitu pengelolaan PBP, kaidah 6 tepat dalam aplikasi pestisida, penggunaan pestisida secara bijaksana, dan pembuatan larutan pekat. “Untuk mengetahui strategi pengendalian yang tepat tentang PBP di lapangan diperlukan pengetahuan tentang dinamika populasi PBP itu,” ucap Irwan saat ditemui pada kegiatan bimtek.

PBP dapat berkembang 2-3 generasi setiap musim tanam, dengan siklus hidup telur 4-8 hari, larva 19-29 hari, pupa 8-12 hari dan ngengat 4-7 hari. Ngengat hama ini mampu terbang 4-10 km dengan bantuan angin dan tertarik dengan cahaya di malam hari saat terbang. Ngengat PBP mampu bertelur 200-500 butir dan larva yg telah menetas dapat menyerang dua sampai tiga batang dan berpindah dengan benang larva, air atau angin (berayun). Waktu yang diperlukan larva untuk masuk ke dalam batang adalah 10 hingga 24 jam.

Irwan menjelaskan pada saat puncak penerbangan atau pada saat ditemukan kelompok telur di lapangan dapat dilakukan pemasangan pias parasitoid. Hal ini bertujuan agar parasitoid berada pada saat yang tepat ketika telur belum menentas sehingga dapat memparasitasi kelompok telur PBP. “Efektivitas penggunaan pias Trichogramma sp. antara 30-70%. Tergantung kondisi lingkungan. Namun cara tersebut dapat mengurangi biaya dan aman bagi lingkungan,” tambah Irwan.

Baca Juga: Kementan Respon Cepat Kawal Pengendalian Hama Tikus di Muba

Secara sederhana petani dapat mengamati penerbangan ngengat PBP pada lampu rumah. Pada saat itu, petani dapat melihat di pertanaman dan mengumpulkan kelompok telur PBP lalu disimpan dalam platsik dan diamati perkembangan kelompok telur setiap hari. Jika sebagian besar telur sudah menetas menjadi larva, maka saat itu adalah saat yang tepat untuk mengendalikan larva di pertanaman. Pengendalian paling efektif maksimal hingga 15 hari setelah penetasan.

Lebih lanjut Irwan menegaskan bahwa pengendalian PBP harus dituntaskan di persemaian. Jika ditemukan kelompok telur >0,3/m2 dan telah menetas dapat dilakukan aplikasi insektisida berbahan aktif karbofuran dengan dosis 4–6 kg/500 m2. Jika tuntas di persemaian dapat dipastikan aman di pertanaman sehingga beban pengendalian PBP berkurang.

Pada kesempatan yang sama, tim BBPOPT melakukan pangamatan keadaan lapang pada pertanaman berumur 35-45 HST varietas inpari 32 dan menemukan serangan PBP dengan intensitas 24,2%. Hal ini kemudian ditindaklanjuti dengan pengendalian menggunakan insektisida berbahan aktif Dimehipo 410 g/L bantuan dari pemerintah. Rencana tindak lanjut yang dilakukan oleh tim BBPOPT adalah melakukan evaluasi pengendalian dan merekomendasi untuk pengambilan kelompok telur serta memasukkan kelompok telur pada bumbung konservasi.

Baca Juga: Kementan Dukung Pengendalian Hama yang Ramah Lingkungan

Terpisah, dalam arahan nya  Dirjen Tanaman Pangan Suwandi mengatakan bahwa pengamanan produksi juga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan proses produksi. Adanya gangguan serangan OPT dan dampak perubahan iklim menurut Suwandi harus dilakukan antisipasi dini dan upaya pengendaliannya. Sesuai dengan arahan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo (SYL) juga telah memerintahkan kepada semua jajaran Kementerian Pertanian untuk terus mengawal dan menuntaskan masalah-masalah pertanian seperti hama dan serangan penyakit dengan melakukan upaya-upaya maksimal untuk menjaga dan mengamankan produksi pangan nasional. (RO/OL-10)

Baca Juga

Antara

Perizinan itu Sumber Korupsi

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 01:35 WIB
UNDANG-Undang Cipta Kerja yang telah disahkan oleh DPR dinilai dapat memperbaiki perekonomian nasional melalui kepastian perizinan berusaha...
Sumber: Global Compliance Complexity Indeks 2018/BKPM/Tim Riset MI-NRC

Ekosistem Investasi Disederhanakan

👤Despian Nurhidayat 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 01:25 WIB
PENINGKATAN ekosistem investasi dan kegiatan berusaha sesuai dengan Undang-Undang Cipta Kerja difokuskan kepada empat...
ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/aww.

RI Pimpin Pengembangan Syariah Global

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 01:05 WIB
INDONESIA berpotensi menjadi pemimpin dalam pengembangan pasar keuangan syariah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya