Minggu 27 September 2020, 18:00 WIB

Selama PJJ, Banyak Anak di NTT Alami Kekerasan Psikis

Palce Amalo | Humaniora
Selama PJJ, Banyak Anak di NTT Alami Kekerasan Psikis

dok.mi
ilustrasi

 

SELAMA pandemi covid-19 yang mengharuskan pemerintah menerapkan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) banyak anak di Nusa Tenggara Timur (NTT) mengalami kekerasan psikis.

"Banyak kekerasan psikologis yakni dimarahi dan  dibentak orang tua," kata Ketua Lembaga Perlindungan Anak (LPA) NTT Tory Ata kepada mediaindonesia.com di Kupang, Minggu (27/9).

Tory mengatakan, LPA menemukan lima kasus psikis terdiri dari empat kasus yang terjadi pada siswa sekolah dasar (SD) dan satu kasus terjadi pada siswa SMP. Namun, hasil temuan itu hanya sebagian kecil dari kasus kekerasan psikis dan fisik yang terjadi selama PJJ. "Lima kasus ini yang sempat diungkapkan, tetapi kebanyaka didiamkan," tambahnya.

Sejumlah temuan lain ialah anak-anak bosan belajar di rumah dan merindukan teman, namun mereka merasa tidak aman karena takut tertular covid-19.

Selain itu, ada orang tua yang ternyata tidak mendampingi anak-anaknya saat belajar daring, anak kurang memahami mata pelajaran secara baik, diminta kerja dan cari sumber belajar sendiri, serta banyak pekerjaan rumah (PR), setiap guru mata pelajaran memberi PR pada waktu bersamaan, namun penjelasan kurang tuntas

Namun metode PJJ juga berdampak positif antara lain anak-anak lebih banyak waktu berada di rumah, tidak terburu-buru dan lebih banyak berkreasi.

Terkait persoalan tersebut, Tory berharap pemerintah perlu meningkatkan akses atau kesempatan dapatkan fasilitas pendukung belajar dari rumah yakni paket data internet (jaringan internet), penyediaan buku teks, alat kegiatan rekreasional seperti buku gambar atau seni untuk tanpa jaringan internet.

"Hal ini penting karena banyak keluhan dari anak bahwa paket internet secara gratis kepada siswa kurang efektif dan sering macet," katanya.

Dia juga berharap pemerintah perlu meningkatkan kapasitas guru terutama mengenai metode PJJ, menyusun pedoman belajar dari rumah yang kontekstual, dan tatanan kehidupan normal baru, antara lain protokol perlindungan terhadap anak sekolah, guru dan staf.

Selain itu, tambahnya, perlu diskusi dan penguatan juga kepada orang tua agar bisa dampingi anak di rumah ketika belajar dan harus ramah anak. (OL-13)

Baca Juga: Perlunya Kesiapan Pemerintah, Agar PJJ tak Bebani Masyarakat

Baca Juga

MI/LIBRAINA

UT Terus Maju Tingkatkan Pelayanan Pendidikan Jarak Jauh

👤Bay/S2-25 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 04:56 WIB
Dikatakan, ada tiga program penting dalam mendukung kesuksesan mahasiswa, yakni pertama distance learning skill workshop. Kedua, kegiatan...
Dok.

Destinasi Wisata yang Tak Hanya Manjakan Mata

👤 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 04:30 WIB
Menjelajahi Indonesia saja, Kamu akan menemukan apa pun yang Kamu...
Dok Rutgers WPF Indonesia

Rutgers WPF Indonesia Beri Pendidikan Reproduksi bagi Remaja

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 04:04 WIB
Program tersebut diantaranya, Get Up Speak Out [GUSO], Yes I Do [YID], Prevention+ [P+], Dance 4 Life [D4L], dan Explore4Action[E4A] yang...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya