Minggu 27 September 2020, 12:00 WIB

Pemerhati Pendidikan: Pelajaran Sejarah dan Budaya Sumber Moral

Syarief Oebaidillah | Humaniora
Pemerhati Pendidikan: Pelajaran Sejarah dan Budaya Sumber Moral

Dok. Pribadi
Praktisi pendidikan M Nur Rizal.

 

Pepatah menyebutkan apabila seorang manusia selalu berpikir baik, mengerjakan hal-hal baik, dan selalu diselimuti ide-ide yang mendorongnya untuk berbuat baik, maka karakter baik akan terinternalisasi dalam dirinya.

Pasalnya mereka secara sadar atau telah terbiasa melakukan tiga komponen dalam membentuk karakter positif yaitu moral knowing atau pengetahuan tentang moral, moral feeling atau perasaan tentang mental dan moral action atau perbuatan moral.

Praktisi pendidikan M Nur Rizal mengutarakan hal tersebut mengutip Thomas Lickona, Psikolog perkembangan dan profesor pendidikan di State University of New York, Cortland.

Baca juga: Ini Dampak Covid-19 Terhadap Target SDGs

Terkait itu, menurut Rizal pelajaran sejarah dan budaya berperan penting untuk mengetahui nilai-nilai moral yang berkembang di Indonesia seperti adat istiadat, norma sosial hingga nilai-nilai agama yang melebur, sehingga pengetahuan itu dapat digunakan untuk meningkatkan kesadaran moral menjadi moral reasoning dalam bertindak atau membuat keputusan bagi diri atau lingkungannya.

"Tantangannya, jika pelajaran sejarah atau budaya hanya berhenti di aspek moral knowing, tidak ditanamkan kepada siswa melalui proses diskursus, pengalaman nyata hingga reflektif, maka pelajaran itu tidak akan menjadi sumber energi untuk bertindak sesuai prinsip-prinsip moral tersebut," kata Rizal kepada Media Indonesia, Kamis ( 24/9).

Dosen UGM ini mengutarakan proses belajar perlu menyentuh aspek nurani, empathy and humility atau merasakan apa yang dialami serta kerendahan hati para pelaku sejarah tersebut.

Selanjutnya, siswa dibekali kompetensi dan motivasi (keinginan) untuk membuat pengetahuan moral tersebut menjadi tindakan nyata (act morally).

Proses pendidikan karakter seperti ini , lanjut dia, tidak hanya memerlukan metode pengajaran saja, lebih dari itu ekosistem yang memanusiakan dan pendidikan berdasarkan kodrat, seperti yang saat ini tengah dibangun di sekolah-sekolah komunitas Gerakan Sekolah Menyenangkan atau GSM yang telah tersebar di berbagai kota.

Lebih lanjut pendiri GSM ini mengutarakan tentang membangun kegigihan, daya juang di masa pembelajaran pandemi covid -19, menurutnya kegigihan atau daya juang hanya bisa dicapai jika anak anak kita senang atau memiliki passion (gairah) dengan apa yang dipelajari dan ingin dicapai bagi cita-cita atau harapannya di masa depan.

Sehingga orientasi sekolah atau guru tidak boleh untuk mencapai ketuntasan kurikulum. Seperti di bidang ekonomi dimana bangsa kita mengalami resesi atau bisnis yang sudah tidak memiliki profit, maka mengejar ketuntasan materi ajar atau nilai tinggi sudah tidak relevan lagi, karena persoalan yang dihadapi siswa selama pandemi adalah rasa bosan, stress, kangen bertemu teman serta jenuh dengan segudang tugas persekolahan atau perkuliahan.

"Rasa bosan dan stres itu harus diobati oleh sekolah yang ekosistemnya menyenangkan dan membuat betah belajar, karena jika tidak anak-anak kita akan lari mencari di tempat lain seperti narkoba, minuman keras, seks bebas, tawuran hingga kekerasan sosial lainnya, " ungkap Rizal.

Ia mengingatkan tugas sekolah atau guru di masa pandemi ini yang paling utama adalah membangun antusiasme dan rasa ingin tahu (curiosity) untuk belajar kapan saja secara mandiri. Maka, proses belajarnya perlu disesuaikan kebutuhan siswa serta berdasarkan kenyataan di sekitarnya seperti di keluarga atau lingkungan warganya.

Dengan demikian, anak-anak tidak sedang belajar untuk kepentingan sekolah atau untuk kurikulum nasional, melainkan untuk kebutuhan dan pengalaman mereka sendiri.

Antusiasme dan curiosity merupakan “engine of achievement” atau mesin pencapaian utama, dimana jika siswa memilikinya, mereka tidak memerlukan bantuan lebih lanjut untuk belajar dalam mencari berbagai alternatif kemungkinan untuk merebut masa depannya.

"Ekosistem atau suasana seperti inilah yang dibutuhkan anak-anak selama pandemi berlangsung, " pungkas Rizal. (H-3)
 

Baca Juga

Antara

Kemenperin : Bonus Demografi jadi Peluang Bangun Industri

👤Insi Nantika Jelita 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 16:17 WIB
Kementerian Perindustrian mengajak generasi muda beperan aktif dalam membangun industri nasional yang berdaya saing global. Hal ini sebagai...
MI/FRANSISCO CAROLIO HUTAMA GANI

Kemensos Gandeng Instansi dan Daerah Antisipasi Bencana

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 14:25 WIB
Dari sejumlah kawasan rawan, Provinsi DKI Jakarta dinilai perlu mendapat perhatian paling...
ANTARA/PUSPA PERWITASARI

Nadiem: Bangkit di Tengah Pandemi Lewat Peringatan Sumpah Pemuda

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 13:45 WIB
Nadiem mengungkapkan, dalam setahun terakhir lebih dari 272 ribu kerja sama telah terjalin antara SMK dengan dunia usaha dan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya