Minggu 27 September 2020, 03:52 WIB

Jaga Kesehatan Mental Siswa

Bagus Suryo | Humaniora
Jaga Kesehatan Mental Siswa

Shutterstock/Medcom.id
Ilustrasi

 

MA, seorang ibu rumah tangga di Kecamatan Turen, Malang, dilaporkan melakukan kekerasan fisik kepada anaknya ketika mengajari matematika dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ), Kamis (3/9).

Perempuan paruh baya itu dibuat jengkel lantaran anaknya tidak kunjung memahami mata pelajaran yang disampaikan secara daring. Beruntung Polres Malang bisa memediasi kasus yang viral di media sosial tersebut dengan melibatkan orangtua, perangkat desa, dan saksi sehingga tidak melanjutkan prosesnya ke ranah hukum.

Dalam penilaian Komisioner Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Bidang Pendidikan, Retno Listyarti, tidak tertutup kemungkinan kejadian mengenaskan seperti di Turen juga berlangsung di daerah lain selama PJJ.

Untuk mendukung pendapatnya itu, Retno menyorongkan hasil survei KPAI pada 13-21 April di 54 kabupaten/kota yang mencatat kekerasan fisik terhadap anak selama PJJ, yakni dicubit (23%), dipukul (9%), dijewer (9%), dijambak (6%), ditarik (5%), ditendang (4%), dikurung (4%), ditampar (3%), dan diinjak (2%).

Sementara itu, kekerasan psikis meliputi dimarahi (56%), dibandingkan dengan anak lain (34%), dibentak (23%), dipelototi (13%), dihina (5%), dan diancam (4%).

“Pelakunya keluarga dekat, seperti ibu, ayah, kakak-adik, saudara, kakek atau nenek, hingga asisten rumah tangga,” kata Retno, kemarin.

Kendati mengalami kesulitan seperti halnya MA, tidak tebersit di benak Michele untuk melakukan tindak kekerasan kepada anaknya. Ibu dari siswa kelas 3 SD di Jakarta itu mencoba memaklumi ketika putranya menunjukkan gelagat enggan mengikuti PJJ.

“Ada masanya anak tidak mau belajar karena bosan di rumah. Ya, kita maklumin aja. Pasti ada solusinya.”

Hal senada diungkap Stela, orangtua siswa salah satu TK di Ibu Kota. “Mempertahankan keinginan anak belajar daring menjadi tantangan. Anak itu tertarik mengikuti PJJ kalau gurunya interaktif dan banyak tanya. Interaksi seperti itu yang disukai anak-anak walaupun metodenya PJJ.”

Lebih kreatif

Selama enam bulan berlangsungnya PJJ ternyata banyak terjadi pro-kontra. Entah itu stres yang dialami murid ataupun orangtua, kendala peralatan, kuota internet terbatas, koneksi jaringan timbul-tenggelam, siswa susah memahami pelajaran, hingga rasa bosan.

Di mata psikolog anak, Efnie Indrianie, situasi yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya itu memengaruhi kesehatan mental orang-orang yang mengalaminya.

“Ada kajian bahwa manusia yang mendapat paparan radiasi elektromagnetik cukup tinggi cenderung memiliki toleransi
rendah terhadap stres. Mereka pun rentan terhadap situasi yang menimbulkan emosi. Ini kan harus dipertimbangkan karena merusak fungsi amygdala otak,” kata Efnie.

Oleh karena itu, untuk menekan seminimal mungkin peristiwa kekerasan seperti yang MA lakukan, pendidik harus mulai menyiapkan bahan ajar lebih kreatif dan inovatif untuk disampaikan kepada murid-murid mereka.

“Ini untuk menyegarkan minat belajar siswa. Setelah memasuki bulan keenam PJJ, anak-anak mulai jenuh. Siswa akan termotivasi ketika guru menyampaikan konten dengan gaya interaktif walaupun online,” tutur pengamat pendidikan Novianty Elizabeth.

Akan tetapi, guru SMA Labschool Jakarta yang merangkap sebagai Koordinator Perhimpunan untuk Pendidikan dan Guru, Satriwan Salim, mengeluhkan cara berpikir sebagian guru yang masih menjadikan penugasan sebagai satu-satunya metode belajar selama PJJ.

“Ini amat membebani siswa. Pengawas sekolah harus melihat bagaimana guru-guru itu mengelola PJJ. Jangan merdeka-merdeka belajar aja,” tandas Satriwan. (Wan/Ata/Fer/Aiw/X-3)

Baca Juga

MI/ADI KRISTIADI

Dua Warga Menjadi Korban Banjir dan Longsor di Pangandaran

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 13:05 WIB
 Selain itu, sedikitnya 111 rumah yang berada di enam desa dan empat kecamatan di Kabupaten Pangandaran terendam...
Dok. Pribadi

Kembangkan Potensi Anak Muda Melalui Wadah yang Tepat

👤Wisnu AS 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 12:41 WIB
Youth Ranger Indonesia hadir agar anak muda di Indonesia bisa sama-sama mengembangkan potensi...
ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

Satgas: Pernyataan Aliansi Dokter Dunia Soal Covid-19 Misinformasi

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 12:40 WIB
Konten informasi dalam video Aliansi Dokter Dunia dapat diidentifikasikan sebagai misinformasi yang muncul dengan menyamakan covid-19...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya