Minggu 27 September 2020, 01:55 WIB

Menyingkap Majapahit dari Situs Kumitir

Fathurrozak | Weekend
Menyingkap Majapahit dari Situs Kumitir

MI/Duta

SETIAP pagi pukul 07.00 WIB, Dionisius Alfa Amori Kusuma memulai kegiatannya di kawasan ekskavasi Situs Kumitir, Desa Kumitir, Mojokerto, Jawa Timur. 

Rutinitas di situs baru berakhir sore hari. Aktivitas itu berlangsung setidaknya selama sebulan, sejak awal Agustus hingga awal September. Dion tidak sendiri. Mahasiswa Teknik Geofisika Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya itu bersama delapan temannya tergabung dalam proyek ekskavasi Situs Kumitir.

Keterlibatan Dion dkk ialah berkat ajakan dari geolog, yang juga dosen mereka, Doktor Amien Widodo, untuk bergabung bersama arkeolog dan tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur.

Ekskavasi oleh BPCB Jawa Timur di Situs Kumitir tahun ini merupakan lanjutan kegiatan serupa di 2019, dengan ekskavasi di area sekitar enam hektare. Pada ekskavasi tahun lalu, BPCB menemukan struktur talud, bangunan penahan kawasan di permukiman di Situs Kumitir. 

Rencananya, ekskavasi akan dilanjutkan lagi pada tahun depan, mengingat sejauh ini baru menyentuh 30% area situs. Pada ekskavasi kali ini, Dion bertugas dalam pengoperasian georadar dan juga membantu operasi metode geolistrik dalam proses ekskavasi tersebut. 

Mereka dibagi menjadi dua tim kecil untuk mempercepat pengambilan data. “Untuk georadar, pengoperasiannya adalah dengan menyeret alat georadar sesuai dengan lintasan yang telah ditentukan.  Nanti alatnya akan otomatis merekam gelombang elektromagnetik di bawah tanah. Sementara itu, pengoperasian geolistrik adalah dengan menancapkan elektroda (besi yang aman menghantarkan listrik) setiap lima meter pada bentangan yang telah ditentukan. Nanti dihubungkan dengan kabel yang berpusat pada basecamp untuk membaca resistivitas batuan di bawah tanah,” cerita Dion mengenai metode saat ekskavasi ketika dihubungi Muda, Kamis (24/9).

Lintasan yang dilalui georadar didasarkan pada yang dicari dan perkiraan potensi titik atau lintasan juga ditentukan melalui situs yang sudah diekskavasi. Penerapan metode geofisika yang bersifat nondestruktif tersebut ditujukan untuk mencari potensi bagian situs yang masih terpendam.

“Untuk proses awal adalah pemetaan akuisisi data, yakni digunakan untuk mengetahui daerah dan target pengambilan melalui perencanaan akuisisi (pengambilan data) melalui peta,” kata Dion.

Jika Dion berbekal alat georadar, Rizka Amelia, rekannya sesama mahasiswa Teknik Geofi sika ITS yang tergabung dalam proyek, punya amunisi beda. Ia menggunakan jangka sorong digital, penggaris, kompas geologi, dan papan dada. 

Alat-alat itu Amel gunakan untuk mengukur variasi diameter bongkahan-bongkahan yang ditemukan di Situs Kumitir. “Di tengah situs yang banyak bongkah itu, tugas saya mengukur variasi diameter bongkah dan arah sumbu ‘a’-nya. Sumbu a itu istilah untuk arah diameter bongkah yang panjang. Kalau ada sebuah bongkah dengan bentuk oval dan diletakkan di suatu tempat, bongkah tersebut cenderung memiliki arah. Arah yang digunakan, yakni arah sumbu a atau diameter bongkah yang lebih panjang. Dari situ bisa diprediksi arah arus purbanya. Jika arah dominan sama, bisa diduga memang proses alam. Kalau cenderung acak, bisa diduga karena timbunan yang dibuat manusia,” jelas Amel, Rabu (24/9).


Multidisiplin

Pada eksplorasi Kumitir ini, tim mahasiswa Geofisika ITS melakukan pendekatan dengan beberapa metode. Thufeil Amr Adausy, yang juga tergabung dalam tim Geofi sika ITS menyebutkan, terdapat integrasi metode. Metode yang digunakan ialah geolistrik, georadar, stratigrafi terukur, analisis granulometri, dan analisis struktur sedimen.

Meski ekskavasi suatu situs kuno lebih erat kaitannya dengan disiplin arkeologi, tetapi dalam proses ini juga menunjukkan kolaborasi lintas disiplin ilmu dan peran disiplin ilmu lain, termasuk geofisika.

Sementara itu, Amel berpendapat, dalam menentukan lokasi-lokasi baru yang terdapat situs ataupun benda bersejarah di bawah permukaan, peran metode geofi sika menjadi krusial.  “Karena pada dasarnya metode geofi sika digunakan untuk mengidentifikasi bawah permukaan, yang tidak bisa dilihat langsung dari atas permukaan.”

“Pastinya kami mencari kemungkinankemungkinan kemenerusan struktur dari beberapa petak yang sudah dipugar. Lalu kami scanning menggunakan metode geofi sika. Selain dari perkiraan kemenerus an struktur, kami juga melakukan scanning pada zona yang diduga memiliki suatu anomali,” tambah Thufeil mengenai proses identifikasi bawah permukaan, Rabu (24/9).

Penerapan metode geofisika diterapkan terlebih dahulu sebelum proses ekskavasi untuk menduga keberadaan struktur. Hasil dari survei geofi sika tersebut selanjutnya dapat dijadikan rekomendasi zona yang harus diekskavasi.

“Data yang saat ini diolah akan menjadi luaran berupa peta zona yang diduga terdapat struktur dan proses sedimentasi yang menimbun situs. Luaran tersebut diharapkan mampu menjadi rujukan bagi para arkeolog untuk menentukan petak pemugaran situs di tahun berikutnya,” terang Thufeil lagi.

Tidak berhenti pada proses di lapangan, para mahasiswa geofisika ini juga berperan untuk mengidentifi kasi sampel dari Situs Kumitir di laboratorium. Thufeil menyebutkan, sampel yang dibawa berupa sampel sedimen dari tiap titik pengamatan stratigrafi terukur.

Kemudian, dilakukan analisis granulometri (ukuran butir sedimen) pada sampel-sampel tersebut untuk mengetahui jenis tanah berdasarkan ukuran butir. Proses itu juga untuk mengetahui proses sedimentasi yang berlangsung di area situs serta lingkungan pengendapannya.

Amel, misalnya, ia bertugas mengolah data dengan mengintegrasikan data bongkahan yang ditemukan menjadi diagram rose. Diagram ini digunakan untuk menggambarkan arah sumbu a yang sudah didapatkan.  Tujuannya untuk mengetahui asal-usul sebuah bongkahan.

“Yang digali lebih dalam ada banyak saat masuk proses lab. Pertama, pendugaan kejelasan asal bongkah yang menutupi situs. Hal tersebut dapat divalidasi dari beberapa data pendukung, seperti variasi diameter bongkah, arah sumbu bongkah, dan dari lito-stratigrafi sekitar situs.”

“Kemudian, data akuisisi geolistrik dan GPR (ground penetrating radar) juga diolah untuk mengidentifikasi bawah permukaan untuk menganalisis letak anomali yang diduga sebagai bagian situs, terutama pada line yang belum diekskavasi,” tambah Amel.

Bagi Amel ataupun Dion, ini merupakan pertama kali mereka tergabung dalam ekskavasi situs kuno. Sebelumnya, Amel hanya pernah praktik kerja lapangan berdasar dari mata kuliah yang dipelajari. 

Sementara itu, Dion, pernah turun ke lapangan, tapi bukan pada area situs kuno, melainkan pemetaan stratigrafi untuk mengetahui litologi dan lumpur.

“Situs ini adalah situs yang unik karenakabarnya belum ada penemuan talud. Talud (di Situs Kumitir) ini terbilang luas. Selain itu, terdapat jobong (sumur era Majapahit) yang dicanangkan memiliki teknologi yang bagus di masanya. Selain itu, penyebab tertimbunnya situs ini juga menarik untuk diulas. Ini menantang buat saya sebagai nonarkeolog bisa berkecimpung di dunia arkeologi,” kata Dion.

Hasil dari lab ITS pun belum dipublikasikan lantaran proses ekskavasi Situs Kumitir yang masih panjang. Namun, ketiganya pun siap untuk terlibat lebih jauh di masa mendatang dalam mengungkap masa lalu Majapahit. (M-2) 
 

Baca Juga

Unsplash/ Markus Spiske

Musisi Dunia Serukan Peningkatan Tarif Royalti di Spotify

👤Fathurrozak 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 17:10 WIB
Musisi menuntut pembayaran sesuai jumlah streaming, bukan proporsi prorata streaming...
123RF

Ternyata Ada Hubungan antara Fobia Matematika dan Kepercayaan Diri

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 15:35 WIB
Selalu cemas, jantung berdegup, atau bahkan keringat dingin saat belajar...
Dok. Instagram @ideosource

Losmen Bu Broto Kembali ke Layar Lebar

👤Fathurrozak 🕔Rabu 28 Oktober 2020, 15:15 WIB
Maudy Koesnaedi akan memerankan sosok Bu Broto versi layar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya