Sabtu 26 September 2020, 07:10 WIB

Isu Perubahan Iklim Masuk di Mapel

(Fer/Ant/H-1) | Humaniora
Isu Perubahan Iklim Masuk di Mapel

ANTARA FOTO/Reno Esnir/ama.
Direktur Jenderal Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Ruandha Agung Sugardiman

 

KEMENTERIAN Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) bersama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tengah merancang untuk memasukkan kurikulum
mengenai perubahan iklim dalam mata pelajaran (mapel).

Hal itu diungkapkan Dirjen Pengendalian Perubahan Iklim (PPI) KLHK Ruandha Agung Sugardiman, kemarin. “Kami sedang merancang bagaimana memasukkan kurikulum
mengenai perubahan iklim di dalam mata pelajaran anak-anak kita ke depannya,” ujarnya dalam acara virtual pemaparan hasil survei pemuda tentang krisis iklim di Jakarta, kemarin.

Dijelaskan topik mengenai perubahan iklim itu tidak dibuat menjadi mata pelajaran baru, tetapi dimasukkan dalam pelajaran yang sudah ada sebelumnya seperti ilmu
pengetahuan alam.

“Tidak harus mata pelajaran baru, tapi dimasukkan ke mata pelajaran IPA, bahasa, dan IPS. Bagaimana membakar sampah asapnya bisa menjadi gas rumah kaca. Ini yang
harus kita ajarkan kepada anakanak kita,” kata Ruandha.

Menurut Ruandha, awalnya KLHK mengusulkan dimasukkannya isu perubahan iklim dan dampaknya itu dalam pendidikan kepada pihak Kemendikbud yang disambut baik.

Sembari menunggu hal itu, KLHK  akan terus memberikan pemahaman terkait isu perubahan lingkungan hidup kepada pihak-pihak yang berkepentingan seperti guru.

Urgenitas isu perubahan iklim untuk menjadi bahasan akademik semakin dirasakan saat ini. Yayasan Indonesia Cerah dan Change.org menyatakan permasalahan iklim
menjadi salah satu tantangan terbesar generasi saat ini.

Survei yang dilakukan menunjukkan mayoritas generasi muda merasakan kekhawatiran terkait krisis iklim, sekitar 89% dari 8.374 responden. Rinciannya, 59% merasa
sangat khawatir dan 30% merasa khawatir dan melihat krisis iklim sebagai masalah yang serius. Sementara itu, terdapat 9% responden yang mengaku agak khawatir.

“Hanya 0,6% dari mereka yang tidak khawatir dengan dampak dampak krisis iklim dan 1% yang tidak tahu atau mungkin tidak percaya,” kata Direktur Eksekutif
Yayasan Indonesia Cerah Adhityani Putri dalam paparannya, kemarin. (Fer/Ant/H-1)

Baca Juga

Antara/Anis Efizudin

Asesmen Nasional Diharapkan tidak Picu Kegaduhan Publik

👤Syarief Oebaidillah 🕔Senin 26 Oktober 2020, 00:24 WIB
Pemerintah diminta mempersiapkan Asesmen Nasional dengan matang dan mengoptimalkan sosialisasi. Sehingga, tidak ada kegaduhan di tengah...
Antara/Dhemas Reviyanto

Penumpang Ingin Rapid Test di Stasiun, KAI: Sebaiknya H-1

👤Fetry Wuryasti 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 23:25 WIB
Mengingat, ada prediksi lonjakan penumpang saat libur panjang pada akhir Oktober. PT KAI pun mengimbau calon penumpang melakukan...
Antara/Raisan Al Farisi

Prediksi BMKG, Berawan Hingga Hujan Dua Hari Mendatang

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 22:43 WIB
Masyarakat diimbau tetap waspada dan berhati-hati terhadap potensi cuaca ekstrem. Seperti, puting beliung dan hujan lebat disertai...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya