Jumat 25 September 2020, 13:55 WIB

Jaringan dan Preferensi Nasabah masih Jadi Hambatan Bank Syariah

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Jaringan dan Preferensi Nasabah masih Jadi Hambatan Bank Syariah

ANTARA/SIGID KURNIAWAN
Agen Mandiri Syariah melayani calon nasabah yang membuka rekening secara daring.

 

EKSISTENSI perbankan syariah sebenarnya semakin diminati masyarakat. Namun geliat industri perbankan syariah dalam melihat jaringan dan preferensi nasabah masih menjadi penyebab lambatnya bank syariah berkembang.

Dari total 110 bank nasional, hanya terdapat 14 bank umum syariah+20 unit usaha syariah, yang masih di bawah induknya yang merupakan bank umum. Usia bank syariah tertua baru 28 tahun dengan mayoritas di BUKU II dan BUKU I. Sedangkan bank konvensional tertua berusia 125 tahun.

Baca juga: Aset Mandiri Syariah Tembus Rp100 Triliun

"Di BUKU III ada Mandiri syariah, BNI Syariah dan BTPN Syariah. Tntangan kami salah satunya adalah jumlah jaringan," kata Direktur Utama Mandiri Syariah/Ketua Umum Asosiasi Bank Syariah Indonesia (ASBISINDO) Toni E.B. Subari, Workshop Virtual Literasi dan Inklusi Perbankan Syariah dengan tema Ekonomi & Perbankan Syariah Energi Baru Untuk Pemulihan Ekonomi Nasional, Jumat (25/9).

Dari 96 bank konvensional umum nasional, sudah memiliki lebih dari 28 ribu jaringan, sedangkan jaringan bank syariah baru 2.300. Sehingga boleh dikatakan dari sisi pelayanan untuk menjangkau masyarakat Indonesia perbandingan cabang dengan masyarakat 1:115.780. "Berkembangnya digital memang sudah menjadi salah satu solusi dari tantangan memberikan layanan ini," kata Toni.

Selain itu tantangan lain terbesar juga literasi dan inklusi keuangan. Sampai 2019, literasi bank syariah baru di kisaran 8% dan inklusi baru 11%.

Hal itu tidak terlepas dari preferensi nasabah syariah masih melekat pada nasabah individu dan bukan wholesale. Dari riset Mandiri Syariah, individu dalam memilih bank syariah akan menilai dari reputasi dan pelaksanaan prinsip syariah.

"Sementara kalau perusahaan, kami paham mereka lebih rasional, pinjaman dengan rate bunga serendah mungkin dan bunga simpanan setinggi mungkin. Lalu kriteria tentang kecepatan proses, kemudahan, dan jaminan didahulukan. Prinsip syariah ada diurutan ke-6. Dari riset ini kami melihat syariah adalah nilai individu," kata Toni.

Berdasarkan referensi yang Mandiri Syariah pakai dari konsultan riset, menunjukan ada empat kelompok konsumer muslim Indonesia dalam melihat industri perbankan. Pertama yaitu kelompok conformist, mereka yang mengedepankan syariah dan halal dalam kehidupan dan transaksi keuangannya. "Ini dari masyarakat ada 21%," kata Toni.

Kemudian ke dua, kelompok rasionalis, mereka yang mengutamakan fungsional dan paling memberi manfaat. Jumlahnya ada 29%.

Di antara dua kelompok ini ada universalist (23%), mereka yang mengutamakan fungsional bank syariah minimal sama dengan bank konvensional, tetap rasional dan juga mengedepankan unsur sosial.

"Mereka memilih bank syariah karena menganut tiga asas fungsional, sosial dalam hal infaq dan zakat, serta asas spiritual. Ini yang dilirik kelompok universalist. Dan ada potensi pangsa pasar Syariah 100 juta individu penduduk Indonesia," kata Toni.

Sedangkan literasi selama ini masyarakat hanya memahami perbedaan istilah dalam bank syariah dan konvensional. Padahal lebih dari itu. "Konsep di bank syariah adalah bagi hasil, jadi tidak bunga tetap. Ketika nasabah menyimpan deposito tidak ada bunga tetap, perjanjiannya bagi hasil, dengan konsep yang seimbang," kata Toni.

Sehingga bila bunga simpanan sedang naik, jumlah bagi hasilnya juga semakin besar. Begitu pula bila bunga simpanan sedang turun, jumlah bagi hasil menjadi turun.

Sedangkan untuk pembiayaan, tidak diperbolehkan menempatkan di industri nonhalal seperti, industri rokok, hotel nonSyariah.

"Kata kuncinya bisnis Syariah. Kami harus menjaga agama, jiwa, keturunan, akal, dan kekayaan. Oleh karena itu kami juga tidak boleh menempatkan di industri makanan dan minuman nonhalal," kata Toni.

Di dalam laba rugi bank Syariah yang membedakan ada 1 kata kunci, yaitu hukumnya wajib mereka harus memotong zakat perusahaan 2,5% sebelum pajak. Di era pandemi, konsep ini semakin relevan. "Dengan konsep adil ini nasabah mendapat untung dengan bagi hasil, perusahaan untung, negara mendapat pajak, masyarakat mendapat zakat," kata Toni. (Try/A-1)

Baca Juga

Antara

BI : ISEF 2020 Catat Transaksi Sebesar Rp5,03 Triliun

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 23:39 WIB
Angka tersebut terdiri dari kesepakatan pembiayaan, komitmen transaksi business to business, transaksi ritel business to consumer, dan...
Antara/Aditya Pradana Putra

Bantu UMKM Bangkit, Kemendikbud Gelar Pasar Budaya Daring

👤SuryaniWandari Putri Pertiwi 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 21:50 WIB
Pasar budaya adalah sebuah marketplace dari Ditjen Kebudayaan Kemendikbud yang bekerja sama dengan perusahaan teknologi Indonesia,...
MI/Ramdani

AP II : Airport 4.0 Menjadi Basis Transformasi Kedepan

👤Insi Nantika Jelita 🕔Sabtu 31 Oktober 2020, 20:31 WIB
“Pada pekan lalu, kami mencanangkan Second Curve Transformation periode 2020 - 2024 untuk memasuki era Airport 4.0," ujar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya