Jumat 25 September 2020, 06:57 WIB

Jawara di DMZ Docs, ini Cerita Pembuatan You and I

Fathurrozak | Weekend
Jawara di DMZ Docs, ini Cerita Pembuatan You and I

Dok. KawanKawanMedia
Salah sate adegan film You and I.

You and I memenangkan penghargaan Asian Perspective Award di DMZ International Documentary Film Festival (DMZ Docs) di Korea. Film ini mengalahkan ketujuh nomine lain yang berkompetisi di kategori Asia. Atas kemenangan itu, You and I berhak menerima hadiah tunai senilai 10 juta Won Korea Selatan (Rp126 juta lebih).

Perjalanan film yang disutradarai Fanny Chotimah ini cukup panjang. Dimulai pada 2016 ketika Fanny melakukan riset untuk subjek filmnya. Presentasi pertama dilakukan dalam program Master Class Festival Film Dokumenter (FFD) di Yogyakarta.

“Berlanjut pada 2017 di Docs by the Sea. Perspektif film kemudian diolah dan mengalami perubahan dalam perjalanannya. Yang awalnya berangkat dari memori ingatan Kusdalini yang mengalami demensia, bergeser pada relasi persahabatan yang terjalin antara Kusdalini dan Kaminah,” buka sutradara Fanny Chotimah saat dihubungi Media Indonesia, Rabu, (23/9).

Pada tahun yang sama, selain mengikuti pitching di Docs by the Sea, You and I juga berkesempatan mempresentasikan proyek film di DMZ Docs, dan mendapat saluran pendanaan dari situ. Itulah juga yang membawa film ini kembali pada festival DMZ Docs tahun ini. Sebab, salah satu syarat ketika mendapat pendanaan di DMZ Docs adalah harus tayang perdana secara publik di festival dokumenter tersebut.

“Salah satu syaratnya memang harus world premiere di sana (DMZ Docs). Namun yang dapat grant tidak semuanya berkesempatan untuk ikut berkompetisi. Ternyata You and I lolos kurasi dan bisa masuk kompetisi,” ungkap perempuan yang juga aktif di komunitas Jejer Wadon ini, saat dihubungi lewat telepon usai menerima penghargaan di DMZ Docs secara virtual, Kamis, (24/9).

Film itu menjadi debut Fanny dalam menyutradarai fitur dokumenter, setelah sebelumnya duduk sebagai produser maupun penulis skenario. Ia terlibat antara lain dalam dokumenter pendek Hari-Hari di Radya Pustaka, dan memproduseri fiksi 3 Warna 1 Cita.

Pertemuan perdana Fanny dengan Kusdalini dan Kaminah adalah ketika dua produsernya, Yulia Evina Bhara dan Amerta Kusuma, datang ke Surakarta untuk proyek buku foto para penyintas 65/66, Pemenang Kehidupan. Fanny yang tidak terlibat dalam proyek tersebut diajak Yulia dan Amerta bertamu ke Kusdalini dan Kaminah, yang ternyata masih satu kelurahan dengannya. Dari kunjungan perdana itu, Fanny tertarik dengan sosok keduanya yang menurutnya sangat terbuka dan hangat.

Proses produksi berjalan beriringan selama tiga tahun, dimulai dari 2016-2018, dan total empat tahun hingga film rampung dikerjakan. Selain Fanny, banyak kru perempuan yang juga terlibat dalam produksi ini. Selain Yulia dan Tazia Teresa Darryanto yang menjadi produser, juga ada Ika Wulandari yang menjadi salah satu penata kamera, dan Dewi Novitasari untuk penata suara.

“Sebetulnya tidak pernah ditujukan untuk tim produksi yang dominan perempuan. Aku memang punya komunitas Jejer Wadon yang berfokus pada kesetaraan. Di luar itu, sekarang perempuan di dunia film punya banyak kesempatan,  termasuk untuk sisi teknis. Baik untuk suara, atau kamera misalnya.”

Kemenangan di DMZ Docs pun sangat bermakna bagi Fanny. Lewat film ini, ia ingin mengutarakan pernyataan keberpihakan pada kemanusiaan.

“Terlepas dari pilihan politik subjek kami,  ketidakadilan yang menimpa seseorang yang dihukum tanpa peradilan bisa terjadi dan menimpa kita semua. Belum lagi stigma yang melekat sepanjang hidup. Karena itu melalui You and I, kami ingin merengkuh lebih banyak orang untuk berpihak kepada kemanusiaan.”

Setelah You and I, Fanny masih akan menggarap beberapa dokumenter. Namun, ia masih enggan membocorkan lebih lanjut. “Aku suka dengan tema yang dekat, personal, isu yang humanis.”

Saat ini, ia pun menilai kesempatan dokumenter sudah semakin terbuka. Baik dari kanal pendanaan maupun distribusi. Meski, ia juga menilai masih ada beberapa catatan.

“Sekarang sudah semakin bagus. Bahkan sudah ada Asosiasi Dokumenteris Nusantara (ADN). Ada banyak lokakarya yang bagus di dalam negeri, yang levelnya Asia, internasional, festival internasional yang dilakukan di sini. Mentor internasional, juga dihadirkan misalnya. Ini kan jadi upgrade pengetahuan para dokumenterisnya. Wacananya jadi berkembang. Dari segi pasar memang belum menjanjikan, tetapi itu pelan-pelan.”

Adapun soal pendanaan bagi film dokumenter, diakuinya masih relatif sulit. Namun, bukan berarti tidak ada strategi. 

"Untuk pendanaan memang agak susah. Tidak sebanyak fiksi. Festivalnya pun segmented. Kalau pun dapat grant tidak banyak. Tapi beberapa strategi yang dilakukan misalnya, dengan mendistribusikannya ke jaringan tv internasional. Jadi ada dua versi (penyuntingan) misalnya, festival cuts dan tv cuts. Itu diakomodasi kok. Banyak strategi, bisa juga dengan koproduksi. Ini membantu adanya peluang, membuka diri untuk cari koproduksi.” (M-2) 

Baca Juga

Unsplash/ Harshal S Hirve

Ini Cara Masak yang Tidak Merusak Antioksidan Jamur

👤Galih Agus Saputra 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 15:45 WIB
Memasak menggunakan microwave atau dengan dipanggang adalah paling...
Dok. Instagram @minikinofilmweek

Untung Rugi Festival Film Daring

👤Fathurrozak 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 14:45 WIB
Meski penyelanggara dapat menekan bujet, festival daring butuh sistem yang baik untuk menjaga keamanan hak siar...
Instagram @cgv.id

The Swordsman Tayang Perdana di KIFF 2020

👤MI Weekend 🕔Rabu 21 Oktober 2020, 14:00 WIB
The Swordsman yang dibintangi Jan Hyuk dan Joe Taslim tayang perdana di Korea Indonesia Film Festival...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya