Jumat 25 September 2020, 03:05 WIB

Menyoal Kebijakan Sosialisasi Wabah Covid-19

IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem | Opini
Menyoal Kebijakan Sosialisasi Wabah Covid-19

Medcom.id/Annisa Ayu Artanti

PANDEMI covid-19 masih belum terbendung. Di Indonesia, sampai 23 September 2020, kasus positif telah melampaui angka 250 ribu. Pasien sembuh hampir 73% dan pasien yang meninggal di bawah 0,04%. Sementara itu, di seluruh dunia, kasus positif mencapai 31 juta lebih, dengan kasus sembuh lebih dari 735 dan yang meninggal kurang dari 0,04%.

Jika dibandingkan dengan rata-rata kasus di seluruh dunia, jumlah kasus sembuh di RI masih lebih rendah dan kasus kematian masih lebih tinggi. Ini tentu saja menjadi indikasi betapa penanganan pandemi covid-19 di RI masih tertinggal, seberapa pun angkanya, dari banyak negara lain.

Indikasi ini masih belum berubah ketimbang data Organization for Economic Cooperation and Development (OECD) yang dirilis Mei 2020. Dalam rentang pengukuran efektif tidak efektif, dalam skala 0-1, penanganan pandemi di Indonesia tidak mencapai rata-rata OECD, yakni di bawah 0,4. Rata-rata OECD lebih dari 0,6. Tiga negara dengan penanganan paling efektif ialah Korsel, Latvia, dan Australia.

Pengukuran OECD didasarkan tiga indikator utama: tingkat kematian, tingkat reproduksi efektif (rata-rata penularan), dan tingkat pengurangan mobilitas yang didasarkan pengukuran mobilitas Google. Pengukuran dilakukan sepanjang Maret-Mei 2020.


Patuh

Apa arti angka-angka di atas bagi pemerintah dan rakyat Indonesia secara keseluruhan? Salah satunya ialah bahwa tingkat pengetahuan, kesadaran, dan oleh karena itu kedisiplinan diri kita sangat bermasalah. Padahal, satu-satunya cara manjur yang tersedia saat ini--dan itu yang dilakukan di seluruh dunia dan menjadi salah satu parameter pengukuran oleh lembaga, seperti WHO dan OECD--ialah patuh pada protokol kesehatan.

Sebagai penyelenggara negara, harus diakui sosialisasi yang dilakukan pemerintah dan segenap pihak yang peduli belum berhasil. Seiring dengan itu, apa yang dilakukan masyarakat sipil belum maksimal menjalankan fungsi pengawasan serta gerakan sosial.

Sosialisasi pada dasarnya harus sampai pada kesadaran dan praktik sebagai ‘disiplin diri harga mati’. Pokok keberhasilan penerapan protokol kesehatan dan berbagai peraturan yang diberlakukan pemerintah terletak pada sejauh mana setiap diri warga negara mampu patuh dan menjalankannya.

Jika terwujud disiplin diri dengan sendirinya kasus penularan, kesembuhan, dan kematian terkendali. Namun, jika disiplin diri rendah atau tidak ada, protokol dan peraturan seperti apa pun tak berguna.

Sementara itu, kunci dari disiplin diri haruslah keterdidikan. Namun, ini jangan dikacaukan dengan keterdidikan dalam arti telah bersekolah dalam strata tertentu. Secara substantif, keterdidikan terkait dengan keterinformasian dan kepahaman tentang ragam konsekuensi dari pilihan jika tidak mematuhi protokol kesahatan dan peraturan.

Tak kalah pentingnya, keterdidikan juga harus mencakup kemampuan dalam bertindak berdasar pengetahuan yang didapat.

Secara metodis, kita sudah melihat variasi dan beragam tingkat ekstremitas yang dilakukan.

Selain melalui media-media yang umum, dari pintu ke pintu, dan pendekatan komunal, ada sosialisasi yang ekstrem seperti menggunakan media peti mati, ancaman, hukuman fisik, kerja sosial, dan sebagainya. Asumsinya, semakin variatif dan ekstrem cara sosialisasi, akan semakin besar kemungkinan berhasil.

Namun, dengan berpedoman kemajuan konsep-konsep pendidikan, sebagian besar dari konten, cara, dan proses sosialisasi itu pada dasarnya bisa dikatakan bersifat jalan pintas dan bertumpu pada prinsip reward and punishment, dan bersifat melodramatis. Aspek manusiawi yang disasar atau dipicu ialah rasa takut, yang pada titik ekstrem berupa fear of death atau ketakutan akan kematian.

Jika sekarang diriset secara baik, misalnya, kita akan mudah mendapatkan jawaban bahwa rasa takut yang timbul dari sosialisasi pandemi dikalahkan ketakutan lain, seperti faktor kebutuhan ekonomi. Secara psikologis, rasa takut yang ditimbulkan dengan cara ekstrem dan melodramatis tak bertahan lama ketika ia tak paralel dengan realitas. Itu hanya akan berdampak seperti dampak menonton film horor.

Jika ditelusuri, sebabnya sederhana. Pertama, masyarakat banyak tak tiba pada pengetahuan yang membangkitkan kesadaran. Konten pengetahuan tentang pandemi yang disosialisasikan selain bersifat superfisial, juga tak berdialektika, dengan pengetahuan awal dan latar belakang sosiokultural masyarakat yang disasar. Alhasil, konten-konten sosialisasi menjadi serupa peng umuman.

Kedua, seiring dengan kualitas pengetahuan, konsekuensikonsekuensi jika melanggar protokol kesehatan dan peraturan terkait dengan pandemi tak berpengaruh kuat untuk mengubah cara pandang dan sikap secara permanen.

Ketiga, konten, cara, dan proses sosialisasi tidak sampai pada tahap memberdayakan masyarakat banyak supaya mampu bertindak berdasar pengetahuan dan sikap yang sesuai.

Di sini berlaku konsep bahwa sosialisasi itu haruslah berupa capacity building— pemberdayaan masyarakat dengan memfasilitasi pengembangan kapasitas mereka sehingga bisa berinisiatif, konsisten dalam berbuat, dan saling menginspirasi.


Sosialisasi massal

Sebagai penutup, ada satu contoh menarik dari sosialisasi massal yang konon dilakukan Presiden Uganda yang kontroversial, Yoweri Museveni. Teks pidato yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan mudah ditemukan di dunia maya itu menunjukkan kegusaran sang presiden. Namun, dikemas sedemikian rupa sehingga mengusik akal sehat, kesadaran, dan sekaligus memberikan pengetahuan praktis yang langsung bisa digunakan rakyatnya.

Dia memulainya dengan aspek kultural-keagamaan, tetapi setengah bercanda dan menggoda akal sehat. “Tuhan memiliki banyak pekerjaan. Dia memiliki seluruh dunia untuk dijaga. Dia tidak bisa hanya berada di Uganda mengurusi orang-orang idiot...”.

Ketimbang berpidato dengan berbagai tetek bengek legal-formal yang kerontang, secara kontekstual, dalam bahasa yang umum, dan menohok dia menyatakan, “Dalam situasi perang, tidak ada yang meminta siapa pun untuk tetap di dalam rumah. Anda tetap di dalam ruangan sebagai pilihan terbaik, tanpa ada yang meminta. Bahkan, jika Anda memiliki ruang bawah tanah, Anda bersembunyi di sana selama peperangan berlangsung. Selama perang, Anda tidak menuntut kebebasan Anda. Anda rela menukarkan kebebasan Anda demi bertahan hidup.”

Sebagai pengetahuan yang langsung bisa dipraktikkan, setelah mempersuasi massa dengan rangkaian kalimat yang membawa para pendengarnya merasakan getir konflik di Uganda, sang presiden mengatakan, “Syukurlah, pasukan (covid-19) ini masih memiliki kelemahan dan bisa dikalahkan. Hanya dibutuhkan tindakan, disiplin, dan kesabaran kita. Covid-19 tidak dapat bertahan jika ada jarak sosial dan fi sik. Tentara itu hanya tumbuh subur dan kuat jika Anda menemuinya. Tentara musuh kita itu senang jika dihadapi secara fisik.”

Baca Juga

Dok.pribadi

Kina (Bukan) Hanya Untuk Malaria

👤Diah Ratnadewi, Guru Besar Biologi Tumbuhan, IPB University 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 20:20 WIB
Tidak ada obat yang mampu menyembuhkan semua...
Dok.pribadi

Membumikan Pancasila Secara Holistik

👤Kristianus Jimy Pratama, Peneliti Hukum, Mahasiswa Program Studi Magister Hukum Bisnis dan Kenegaraan FH UGM 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 13:55 WIB
Nilai keadaban yang ada pada Pancasila seharusnya dapat menjadi pedoman bagi setiap pelaku pemerintahan agar dapat terhindar dari perilaku...
Dok.UI

Menapaki Satu Tahun Jokowi-Ma'ruf

👤Fithra Faisal Hastiadi Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UI Direktur Eksekutif Next Policy 🕔Selasa 20 Oktober 2020, 04:55 WIB
SEJAK awal kalender anno domini dibuat, peringatan satu tahun seakan sakral dan penuh...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya