Kamis 24 September 2020, 20:00 WIB

Karena Pandemi, 47 Juta Perempuan Kehilangan Akses Kontrasepsi

Suryani Wandari Putri Pertiwi | Humaniora
Karena Pandemi, 47 Juta Perempuan Kehilangan Akses Kontrasepsi

AFP
Ilustrasi kehamilan selama pandemi.

 

SEKITAR 47 juta perempuan kehilangan akses pelayanan kontrasepsi modern karena pandemi covid-19 dan berpotensi memunculkan 7 juta kehamilan yang tidak direncanakan. Prediksi itu dirilis United Nation Population Fund (UNFPA) PBB pada Juni 2020 dan menjadi salah satu refleksi penting pada peringatan Hari Kontrasepsi Sedunia 2020 pada 26 September mendatang.

"Karena itu, kami berpesan pada pasangan usia subur agar rencanakan setiap kehamilan atau sebaiknya ditunda dulu," kata Deputi Bidang Keluarga Berencana (KB) Kesehatan Reproduksi (KR) Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Eni Gustina dalam webinar, Kamis (24/9).

BKKBN juga menyarankan pasangan usia subur untuk menggunakan alat kontrasepsi guna menghindari kehamilan dalam waktu dekat. Bila masyarakat atau pasangan suami istri menggunakan kontrasepsi, maka risiko terlalu banyak anak, terlalu dekat kelahiran satu dengan yang lain, hamil dalam usia tua maupun muda bisa dicegah.

Di Indonesia sendiri, sambung Eni, laju pertumbuhan penduduk Indonesia berkisar 1,49% yang artinya setiap tahun lahir sekitar kurang lebih 5 juta penduduk di Indonesia. Jumlah itu sama dengan banyaknya penduduk di Singapura.

"Jadi Indonesia melahirkan penduduk satu negara setiap tahunnya," ungkap Eni.

Beberapa pemasalahan program KB dan Kesehatan Reproduksi yang terjadi di Indonesia, antara lain ditunjukkan dengan masih tingginya angka kematian ibu dan bayi, penurunan penggunaan metode kontrasepsi modern (mCPR),  disparatis angka prevalansi kontrasepsi, unmet need, peserta KB aktif (PA) metode Kontrasepsi jangka panjang antar wilayah masih tinggi. Lalu, masih tingginya pula angka kelahiran remaja umur 15-19 tahun.

Hal lainnya adalah belum optimalnya sertifkasi kompetensi tenaga kesehatan dan pelayanan KB, juga masih rendahnya Kesertaan KB di wilayah tertinggal, terpencil, dan perbatasan masih rendah dan permasalahan lainnya.

Dalam hal ini, menurut Eni, bidan menjadi garda terdepan dalam memperluas cakupan kontrasepsi khususnya kepada pasangan usia subur (PUS). Mengingat, kontrasepsi akan berdampak terhadap angka kematian ibu dan angka kematian bayi.

“Karena dapat mengurangi dampak dari '4 terlalu', baik terlalu muda, terlalu tua, terlalu dekat, dan terlalu banyak anak,” pungkasnya. (H-2)

Baca Juga

ANTARA/Syaiful Arif

Pondok Pesantren Institusi Teladan Perangi Covid-19

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 16:01 WIB
Tradisi kedisiplinan para santri serta keteladanan dan sikap kehati-hatian kiai serta pengasuh pesantren menjadi modal utama dalam...
ANTARA/Asprilla Dwi Adha

Epidemiolog Minta Jangan Ada Hambatan Uji Klinis Vaksin Covid-19

👤Atalya Puspa 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 15:43 WIB
Perusahaan Biofarma pembuat dosis vaksin, Sinovac, mengklaim uji klinis tahap pertama dan kedua terbukti dapat meningkatkan kekebalan tubuh...
Antara

Bepeten: Perum Batan Indah Sudah Bebas dari Radiasi

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 15:30 WIB
BADAN Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN) mengumumkan bahwa Perumahan Batan Indah yang berlokasi di Kecamatan Setu, Tangerang Selatan telah...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya