Rabu 23 September 2020, 14:15 WIB

Kain Indonesia Lepas dari Tudingan Dumping di India

Inis Nantika Jelita | Ekonomi
Kain Indonesia Lepas dari Tudingan Dumping di India

MI/M Irfan
Menteri Perdagangan Agus Suparmanto

 

MENTERI Perdagangan RI Agus Suparmanto menyambut kabar baik atas keputusan India menghentikan penyelidikan kembali (re-investigasi) tanpa pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) untuk produk kain bukan tenunan (non-woven fabric) dengan pos tarif/HS 5603.11 kepada salah satunya impor dari Indonesia.

Keputusan tersebut ditetapkan Directorate General of Trade Remedies (DGTR) India secara resmi pada 15 September 2020.

“Penghentian penyelidikan ini tentunya merupakan kabar yang membahagiakan bagi industri tekstil Indonesia yang saat ini sedang diterpa pandemi Covid-19," ungkap Agus dalam keterangan resminya, Jakarta, Rabu (23/9).

Agus menjelaskan, investigasi awal untuk kasus ini dilakukan sejak 16 Juni 2016 dan diputuskan untuk dihentikan pada 2 September 2017. Namun, pada 1 Juli 2020, DGTR melakukan penyelidikan kembali terhadap kasus ini dengan dasar keputusan Custom, Excise & Service Tax Appellate Tribunal (CESTAT) India pada 12 Februari 2020 yang mengabulkan gugatan industri domestik.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Didi Sumedi menuturkan, penghentian penyelidikan untuk kali kedua ini merupakan bukti kerja sama yang baik antara pemerintah, asosiasi, dan eksportir.

“Selain itu, keputusan India tersebut membuktikan bahwa eksportir Indonesia tidak melakukan praktik dumping terhadap produk kain bukan tenunan ke India. Tentunya, peluang ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh para eksportir,” jelas Didi

Untuk produk kain bukan tenunan, India merupakan negara yang cukup menjanjikan. Impor India dari seluruh dunia pernah mencapai US$ 62,1 juta pada 2018 dan merupakan nilai tertinggi selama sepuluh tahun terakhir (2009—2019) walaupun mengalami penurunan menjadi US$46,1 juta pada 2019.

Bagi eksportir Indonesia, India merupakan pasar ekspor terbesar untuk produk kain bukan tenunan. Total ekspor Indonesia ke India untuk produk tersebut di tahun 2019 mencapai US$ 11,4 juta atau 50,6% dari total ekspor kain bukan tenunan Indonesia ke seluruh dunia. Ekspor produk tersebut ke India juga memilki tren peningkatan sebesar 10,1% dari 2015-2019.

Direktur Pengamanan Perdagangan Pradnyawati menambahkan, melihat data statistik tersebut, maka dapat dikatakan bahwa penghentian penyelidikan ini memberikan berkah yang besar pada industri industri tekstil dan produk tekstil Indonesia.

“Selain itu, kami mencatat terjadi tren peningkatan yang cukup signifikan untuk ekspor kain bukan tenunan dari Indonesia ke India, yaitu sebesar 12,9% selama periode 2017—2019 atau setelah penyelidikan awal dihentikan. Dengan dihentikannya penyelidikan kembali kasus ini, maka tren positif tersebut kami harapkan akan terus naik,” pungkasnya. (E-1)

Baca Juga

Antara

Presiden Optimistis Perekonomian Lekas Membaik, Ini Indikatornya

👤Dhika Kusuma Winata 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 21:35 WIB
"Tetapi dibandingkan dengan negara-negara lain, kontraksi ekonomi Indonesia relatif lebih landai dan saya meyakini Insyaallah mampu...
ANTARA/Abriawan Abhe

Tiga Bulan, Tripartit Nasional Bahas RPP Turunan UU Ciptaker

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 20:30 WIB
Saat ini pemerintah bersama Tripartit Nasional (perwakilan pemerintah, pengusaha, dan SP/SB) dan akademisi telah mulai membahas...
ANTARA/Kahfie Kamaru

Industri Halal Dukung Neraca Dagang

👤M Iqbal Al Machmudi 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 20:15 WIB
Produk makanan menjadi pangsa Brasil dengan 10,51%. Produk kosmetik di urutan pertama dari Prancis sebesar 17,38%. Obat-obatan didominasi...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya