Rabu 23 September 2020, 07:45 WIB

Komputer Supercerdas Simpulkan Face Shield tak Efektif

Galih Agus Saputra | Weekend
Komputer Supercerdas Simpulkan Face Shield tak Efektif

123RF
Memakai face shield tanpa masker tidak efektif menangkal droplet.

Efektivitas pelindung wajah dari plastik atau dikenal dengan sebutan faceshield kini dipertanyakan oleh ilmuwan asal Jepang,  Makoto Tsubokura. Ketua tim penelitian di pusat studi komputasi Riken, Wako itu mengatakan hampir 100% aerosol berukuran 5 mikrometer lolos dari pelindung wajah tersebut.

Secara teknis, aerosol merujuk pada partikel padat atau cair yang ada di udara. Sementara setiap 1 mikrometer, volumenya setara dengan partikel kecil berukuran sepersejuta meter. Makoto mengamati transmisi materi itu menggunakan super komputer, yang diklaim paling cepat di dunia bernama Fugaku.

Dalam pemodelannya, Makoto menggabungkan simulasi antara aliran udara dan reproduksi puluhan ribu tetesan (droplet) virus. Ukuran virus itu pun diperkecil hingga di bawah 1 mikrometer. Dengan pemodelan itu pula, ia lantas menyarankan agar seseorang tidak memakai faceshield, sebagai alternatif pengganti masker.

“Dilihat dari hasil simulasi, sayangnya efektivitas pelindung wajah dalam mencegah droplet menyebar dari mulut orang yang terinfeksi ke orang lain sangat terbatas jika dibandingkan dengan masker. Hal ini terutama berlaku untuk tetesan kecil berukuran kurang dari 20 mikrometer. Pada saat yang sama, entah bagaimana hal ini juga berlaku untuk tetesan yang lebih besar dari 50 mikrometer," tutur Makoto, seperti dilansir The Guardian, Selasa, (22/9).

Makoto mengatakan jalur yang dapat ditembus oleh partikel itu terletak pada celah antara wajah dan visor atau penghalang plastik yang ada di bagian muka faceshield. 

Apabila seseorang memiliki gangguan pernafasan sehingga tidak dapat memakai masker dan harus menggunakan alat ini, akan lebih baik bagi orang tersebut jika selalu menempatkan diri di areal yang sirkulasi udaranya lancar atau terus berlanjut.

Pemodelan Makoto menggunakan Fugaku juga menyarankan agar orang-orang, tidak menggunakan masker yang terbuat dari kain tenun. Menurutnya, kain tidak cukup efektif untuk memblokir virus Covid-19 yang bertransmisi dengan aerosol. Daya halangnya diperkirakan sebesar 80% ketimbang masker dari bahan nontenun seperti yang biasa dipakai orang-orang saat flu. 

Masker kain disarankan WHO untuk dicuci setiap hari dengan deterjen dan air bersuhu 60 derajat Celcius. 

Fugaku yang dirancang dengan dana mencapai 130 miliar yen
(Rp. 18 trilyun) itu juga berhasil membuat pemodelan transmisi droplet Covid-19 di ruangan tertutup atau sesak seperti kantor dan gerbong kereta. Dengan pemodelan itu dan meskipun fasilitas demikian tidak dibuka hingga tahun depan, Makoto selanjutnya berharap dapat membantu proses pencegahan dan pengobatan infeksi Covid-19. (The Guardian/M-2) 

Baca Juga

Unsplash/ Yuris Alhumaydy

Ini Caranya Agar Tidak Salah Menghadapi Orang yang Menangis

👤MI Weekend 🕔Jumat 30 Oktober 2020, 06:40 WIB
Buru-buru menenangkan orang yang menangis nyatanya belum tentu...
AFP

Inilah Tiga Teratas Barang Belanjaan Daring di Asia Tenggara

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 19:00 WIB
Semakin banyak orang yang kini mulai mencoba berbelanja secara daring akibat ruang gerak yang terbatas disebabkan pembatasan...
ANTARA FOTO/Rosa Panggabean

39 Perupa Berpameran Daring di Galeri Nasional Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 29 Oktober 2020, 18:40 WIB
Pameran ini dikurasi oleh Citra Smara Dewi dan Heru Hikayat. Menampilkan 40 karya berupa lukisan, patung (3D), video art, dan sketsa, dari...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya