Rabu 23 September 2020, 06:00 WIB

Normalisasi Israel Langkah Menuju Perdamaian

(Van/CNA/I-1) | Internasional
Normalisasi Israel Langkah Menuju Perdamaian

(Photos by Abir SULTAN and Mandel NGAN / various sources / AFP)
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu di Yerusalem pada 13 Agustus 2020, dan (kanan) Raja Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa

 

RAJA Bahrain Hamad bin Isa Al Khalifa pada hari Senin (21/9) mengatakan bahwa langkah negara itu untuk menjalin hubungan dengan Israel tidak ditujukan terhadap entitas atau kekuatan apa pun. Akan tetapi, bertujuan untuk mewujudkan perdamaian yang komprehensif di Timur Tengah.

"Penandatanganan deklarasi ini merupakan langkah bersejarah menuju perdamaian komprehensif di Timur Tengah," kata Al Khalifa dalam sebuah rapat kabinet, dilaporkan dari kantor berita Bahrain News Agency.

Menurutnya, perjanjian dengan Israel sejalan dengan "Visi Bahrain untuk mencapai perdamaian komprehensif sebagai sebuah opsi strategis."

Raja menegaskan kembali dukungan Bahrain untuk Palestina dan untuk prakarsa perdamaian Arab yang dibuat pada tahun 2002. Menurutnya, hal itu menawarkan hubungan normalisasi Israel dengan imbalan kesepakatan kenegaraan dengan Palestina dan penarikan penuh Israel dari wilayah tersebut.

Dalam sebuah pernyataan setelah rapat kabinet, Raja mengatakan dia bangga dengan dukungan luas Arab dan internasional atas langkah Bahrain.

Bahrain dan Uni Emirat Arab menjadi negara Arab pertama dalam seperempat abad yang menormalkan hubungan dengan Israel. Namun, tanpa ada penyelesaian sengketa Israel dengan Palestina, dalam penataan kembali strategis negara-negara Timur Tengah melawan Iran.

Kesepakatan itu menyerukan hubungan diplomatik penuh, tetapi menghindari istilah normalisasi.

"Toleransi dan hidup berdampingan menentukan identitas asli Bahrain. Langkah kami menuju perdamaian dan kemakmuran tidak ditujukan terhadap entitas atau kekuatan apa pun, melainkan demi kepentingan semua orang dan bertujuan untuk bertetangga yang baik," kata Raja Hamad, dikutip BNA.

Adapun, protes jalanan pecah di Bahrain sejak menandatangani perjanjian dengan Israel awal bulan ini. Bahrain adalah satu-satunya negara Teluk Arab yang menyaksikan pemberontakan prodemokrasi yang cukup besar pada tahun 2011, yang dibatalkan dengan bantuan Saudi dan Emirat. Negara yang diperintah Suni itu menuduh Syiah Iran mendukung subversi, tuduhan yang dibantah Iran. (Van/CNA/I-1)

Baca Juga

Antara

Penelitian di Inggris, Antibodi Covid-19 Tidak Bertahan Lama

👤Faustinus Nua 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 14:13 WIB
Temuan itu menunjukkan perlindungan setelah infeksi mungkin tidak bertahan lama dan meningkatkan prospek penurunan kekebalan di...
AFP/Michal Cizek

Rep Ceko Berlakukan Jam Malam untuk Tekan Kasus Covid-19

👤Basuki Eka Purnama 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 12:06 WIB
Negara berpenduduk 10,7 juta jiwa itu telah mencatatkan lebih dari 260 ribu kasus dan lebih dari 2.300 kematian sejak pandemi dimulai pada...
AFP/WILLIAM WEST

Episentrum Covid-19 di Australia Catat Hari Kedua Tanpa Kasus

👤Nur Aivanni 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 11:58 WIB
Fabrizio Succi, pemilik restoran Italia Tiamo, mengatakan timnya sekarang berusaha untuk membuka kembali restoran setelah diberi lampu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya