Senin 21 September 2020, 10:29 WIB

Hakim AS Batalkan Pemblokiran WeChat oleh Pemerintahan Trump

Basuki Eka Purnama, Haufan Hasyim Salengke | Internasional
Hakim AS Batalkan Pemblokiran WeChat oleh Pemerintahan Trump

AFP/Drew Angerer / GETTY IMAGES NORTH AMERICA
Aplikasi WeChat terlihat di AppStore sebuah iPhone.

 

SEORANG hakim Amerika Serikat (AS), Minggu (20/9), membatalkan blokir WeChat oleh pemerintahan Presiden Donald Trump, beberapa jam sebelum aturan itu berlaku.

Pemerintahan Trump telah memerintahkan pelarangan pengunduhan aplikasi pesan WeChat serta aplikasi berbagai video Tiktok, keduanya milik perusahaan Tiongkok.

Seorang hakim di pengadilan California mengatakan dirinya telah mengajukan permohonan untuk membatalkan blokir terhadap WeChat dengan alasan kebebasan berpendapat.

Baca juga: Soal Calon Hakim MA, Biden Tuding Trump Salah Gunakan Jabatan

WeChat yang dimiliki oleh perusahaan teknologi Tiongkok TenCent memiliki 19 juta pengguna aktif di AS.

"Keputusan hakim itu adalah penyelamatan sementara agar WeChat tidak ditutup pada malam ini," ujar dosen hukum dari University of Richmond Carl Tobias.

"Penggugat hanya ingin memperpanjang waktu. Pasalnya, Presiden Trump bisa jadi tidak akan lagi menjadi presiden dalam waktu dekat," imbuhnya.

Trump yang tengah berusaha terpilih kembali dalam pemilu, 3 November mendatang, menjadikan keamanan dalam negeri dan sikap kerasnya terhadap Tiongkok sebagai pokok kampanyenya. (AFP/OL-1)

Baca Juga

AFP/Atta Kenare

Iran Bantah Pengaruhi Pilpres Amerika Serikat

👤Wisnu AS 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 17:12 WIB
Kedutaan Besar Swiss di Teheran telah menangani kepentingan AS di Iran sejak hubungan Iran dan AS terputus setelah revolusi Islam...
AFP/Phill Magakoe

Komisi Uni Afrika Kutuk Kekerasan di Nigeria

👤Nur Aivanni 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 16:52 WIB
Dalam dua pekan terakhir, warga Nigeria berunjuk rasa dengan tuntutan pembubaran SARS. Namun, muncul sejumlah korban jiwa akibat tindakan...
AFP/Andrew Harnik

Intelijen Amerika Endus Iran dan Rusia Ganggu Pilpres

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 16:43 WIB
Pihaknya mengaku sudah melihat Iran mengirimkan surat-surat elektronik palsu. Ini dirancang untuk mengintimidasi para pemilih, menghasut...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya