Senin 21 September 2020, 06:00 WIB

Pendemo Tuntut Reformasi Monarki

(Hym/Al Jazeera/I-1) | Internasional
Pendemo Tuntut Reformasi Monarki

AFP/MLADEN ANTONOV
AKSI MENENTANG MONARKI: Polisi duduk di depan pengunjuk rasa antipemerintah dalam unjuk rasa prodemokrasi di Bangkok, Thailand, kemarin.

 

RIBUAN pengunjuk rasa Thailand telah berbaris di dekat Grand Palace di Bangkok demi menyerahkan serangkaian tuntutan untuk reformasi demokrasi, termasuk perubahan pada keluarga kerajaan yang kuat di negara itu, dalam tantangan langsung kepada Raja Maha Vajiralongkorn.

Para pengunjuk rasa, yang berkemah semalam di ibu kota setelah demonstrasi besar prodemokrasi pada Sabtu (19/9), juga menyerukan pemogokan umum.

Massa dihentikan polisi di depan mahkamah agung, tetapi seorang pemimpin mahasiswa, Panusaya Sithijirawattanakulwas, diizinkan berjalan me-lewati barisan petugas untuk menyerahkan amplop berisi tuntutan kepada komisaris polisi untuk diserahkan ke dewan rahasia raja.

Para pengunjuk rasa sema-kin berani selama dua bulan demonstrasi menentang istana dan kelompok mapan yang didominasi militer, melanggar tabu lama tentang mengkritik monarki--yang ilegal di bawah undang-undang lese-majeste.Pihak kerajaan belum bisa dihubungi untuk dimintai komentar. Raja saat ini tidak berada di Thailand.

Para pemimpin protes me-nyatakan kemenangan setelah mengatakan polisi Royal Guard telah setuju untuk menyampaikan tuntutan mereka ke kantor pusat kepolisian. Polisi tidak segera berkomentar.

“Kemenangan terbesar kami dalam dua hari ini bertujuan menunjukkan bahwa orang bi-asa seperti kami dapat mengi-rim surat kepada bangsawan,” kata Parit ‘Penguin’ Chiwarak kepada kerumunan.

Kemarin para pengunjuk rasa juga mengumumkan mereka akan turun ke jalan lagi pada Kamis mendatang, dan mela-kukan aksi protes besar pada 14 Oktober, peringatan gerakan perlawanan mahasiswa 1973.

Pada demonstrasi terbesar dalam beberapa tahun, pu-luhan ribu pengunjuk rasa pada Sabtu menyambut seruan untuk reformasi monarki, serta tuntutan mencopot Perdana Menteri Prayuth Chan-ocha, mantan pemimpin junta yang melancarkan kudeta, dan konstitusi serta pemilihan baru.

Tak lama setelah matahari terbit, kemarin, pengunjuk rasa memasang sebuah plakat di area yang dikenal sebagai Sanam Luang, atau Royal Field, dekat Grand Palace. (Hym/Al Jazeera/I-1)

Baca Juga

AFP/Wang Zhao

Sempat Ditolak Bolsonaro, Brasil Setujui Impor Vaksin Sinovac

👤Nur Aivanni 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 13:20 WIB
Regulator kesehatan Brasil Anvisa mengatakan Butantan Institute bisa mengimpor 6 juta dosis vaksin CoronaVac yang dikembangkan oleh...
AFP/Angela Weiss

Jika Terpilih, Biden Janjikan Vaksin Covid-19 Gratis di AS

👤Nur Aivanni 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 11:15 WIB
Begitu kami memiliki vaksin yang aman dan efektif, itu harus gratis untuk semua orang, baik Anda yang memiliki asuransi atau...
Dok Ist

Mengenal Dokumen Abu Dhabi dalam Pertemuan JK-Paus Fransiskus

👤Thomas Harming Suwarta 🕔Sabtu 24 Oktober 2020, 10:13 WIB
Dokumen Abu Dhabi ini disebutkan menjadi peta jalan yang sungguh berharga untuk membangun perdamaian dan menciptakan hidup harmonis di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya