Minggu 20 September 2020, 14:00 WIB

Pekan ke-4 September, IHSG Diperkirakan dengan Trend Pelemahan

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Pekan ke-4 September, IHSG Diperkirakan dengan Trend Pelemahan

ANTARA
Ilustrasi

 

MINGGU ke-3 September lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) tercatat ditutup dengan koreksi. Adapun pada pekan ke 4 September, sejumlah faktor dalam dan luar negeri akan mewarnai pergerakan pasar.

Laporan S&P Global menyatakan ada beberapa bank sentral di emerging market atau Negara berkembang yang diperkirakan akan mempertaruhkan reputasi mereka, peringkat kredit negara dan bahkan risiko akan krisis ekonomi besar-besaran jika terus mencetak uang dan membeli surat utang pemerintah setelah krisis berlalu. Ini tentu juga bicara independen Bank Sentral dimana kebijakan moneter harus tetap independen terhadap pemerintah.

Baca juga: Pandemi Jadi Momentum Pengutan Trasportasi Berbasis Rel

"Hampir 3 minggu rupiah mengalami volatilitas yang tinggi salah satunya didorong oleh kekhawatiran tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang akan memasuki resesi, meningkatnya kasus covid 19 dan manuver beberapa anggota DPR untuk merevisi UU Bank yang mengancam independensi bank sentral," kata Direktur Anugerah Mega Investama Hans Kwee, Minggu, (20/9).

Adapun beberapa perkembangan positif dalam negeri diantaranya adalah keputusan Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan. BI lebih mengutamakan stabilitas keuangan dalam mendukung perekonomian Indonesia dan mengindikasikan Bank Sentral tetap independen.

Biarpun inflasi sangat rendah tetapi volatilitas rupiah membuat BI menahan penurunan suku bunga. BI memastikan kepada pelaku pasar bahwa perjanjian burden sharing dengan pemerintah hanya untuk tahun 2020.

"Data yang baik juga ditunjukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) yang melaporkan neraca perdagangan Indonesia pada Agustus 2020 kembali mencatatkan surplus sebesar US $2,33 miliar. Kedua hal ini diharapkan mampu membuat Rupiah menguat dan lebih stabil kedepannya," Kata Hans Kwee.

Pemberlakukan PSBB Jakarta yang tidak sama persis dengan pemberlakuan PSBB periode pertama atau lebih longgar mampu mendorong IHSG naik di awal pekan ke-3 September lalu.

PSBB total ditempuh akibat kenaikan angka infeksi harian dan angka kematian Covid-19 tertinggi di wilayah Jakarta. Tetapi dampak PSBB Total yang longgar tetap di perkirakan akan mengganggu aktivitas bisnis dan perusahaan.

"Hal ini membuat IHSG kami perkirakan selama seminggu berpeluang konsolidasi melemah dengan support di level 5,000 sampai 4,754 dan resistane di level 5,100 sampai 5,187," tukas Hans Kwee.

Pasar saham dunia juga tertekan beberapa sentimen negative mulai dari valuasi saham teknologi yang terlampau mahal, lonjakan kasus covid 19 baru di beberapa negara Eropa, hingga ketegangan Tiongkok-AS.

Pelaku pasar menanti RUU stimulus fiskal AS untuk mengantisipasi virus corona baru yang diperkirakan senilai US$ 1,5 triliun. Bila partai partai Demokrat dan Republik sepakat, maka diharapkan mampu menjadi sentimen positif yang mendorong indeks-indeks dunia naik dan nilai tukar USD melemah.

Pelaku pasar juga memperhatian data ekonomi yang lemah dan ketidakpastian prospek ekonomi. The Fed menyatakan laju pemulihan ekonomi melambat. Angka klaim pengangguran masih tetap tinggi semenjak pandemi covid 19. Data Housing Starts dan indeks Bisnis Philadelphia menunjukkan penurunan.

Baca juga: Sosialiasi ASABRI untuk Divisi Infantri III Kostrad, Kariango

"Pemulihan yang melambat membuat optimisme menurun sehingga terjadi tekanan di pasar saham," kata Hans Kwee.

Faktor yang memupuskan harapan pelaku pasar yaitu beberapa bank sentral dunia seperti Inggris, Jepang, dan AS mempertahankan suku bunga dan kebijakan monenternya. Artinya belum akan ada Pelonggaran Kuantitatif (QE) untuk menstimulus ekonomi yang melambat. (OL-6)

Baca Juga

MI/ M Ilham Al Machmudi

Pemasaran Tol Laut Perlu Ditingkatkan

👤M Iqbal Ramadhan 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 08:45 WIB
Pada awal Oktober sendiri Lognus 6 berhasil mengangkut 150 TEUs dari Kepulauan Maluku Utara ke...
ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra

Angkasa Pura II Hemat Rp1,8 T selama Pandemi

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 08:31 WIB
Fasilitas yang digunakan di bandara disesuaikan dengan pergerakan penumpang sehingga penetapan pola operasional ini memungkinkan bandara...
AFP/David Gray

Harga Emas Melonjak 14 Dolar Saat Optimisme Bantuan Covid-19 di AS

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 22 Oktober 2020, 07:47 WIB
Optimisme investor meningkat bahwa paket bantuan virus korona AS akan diumumkan sebelum pemilihan presiden 3 November, memicu naiknya harga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya