Jumat 18 September 2020, 05:25 WIB

RI Berpeluang Jadi Basis Produksi Baru

Ifa/S3-25 | Ekonomi
RI Berpeluang Jadi Basis Produksi Baru

Ist
RI Berpeluang Jadi Basis Produksi Baru

 

PANDEMI covid-19 telah mendorong kontraksi ekonomi global termasuk di Indonesia. Hampir semua jaringan dan pengiriman perdagangan
terhenti.

Para penyedia logistik sedang bergulat dengan pemulihan pasokan yang melambat, gangguan permintaan, dan gelombang infeksi sekunder.

Karena itu, perusahaan-perusahaan global saat ini membutuhkan lebih banyak ruang gudang untuk menyimpan surplus barang. Para produsen pun diprediksi akan mulai mengalihkan beberapa produksi ke negara yang lebih dekat.

Hal tersebut diungkapkan President Director of PT Bank HSBC Indonesia Francois de Maricourt saat membuka webinar HSBC Economic Forum, baru-baru ini.

Menurut Francois, terganggunya rantai pasokan dan perdagangan global ini berdampak pada prospek investasi di negara lain. Hal ini akan mendorong perusahaan multinasional mencari solusi untuk membangun ketahanan baru dengan merelokasi ke bagian lain Asia, dengan
fokus di Asia Tenggara.

“Saya kira ini akan menjadi relokasi permanen, karena akan banyak upaya dan tantangan dalam membangun basis produksi baru atau memindahkan rantai pasokan seperti di sektor otomotif. Artinya, ada peluang besar untuk investasi baru di Indonesia sebagai basis produksi berikutnya di kawasan ASEAN,” ungkapnya.

Dia menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sumber daya yang sangat besar dan pasar yang luas. Bahkan, Bank Dunia menempatkan
Indonesia sebagai negara investasi terbaik ke-4 setelah Kroasia, Thailand, dan Inggris. Tak hanya itu, Indonesia berada di peringkat pertama dalam investasi manufaktur ritel.

Selain itu, kata Francois, pandemi telah memaksa mereka yang lebih konservatif dalam mengadopsi teknologi digital menjadi lebih terbuka
untuk beradaptasi dengan model operasional baru.

Studi terakhir HSBC Navigator: Building Back Better menunjukkan hampir dua pertiga (64%) bisnis-bisnis di Indonesia setuju bahwa masa-masa sulit ini membuat aktivitas bisnis lebih memanfaatkan teknologi untuk meningkatkan cara mereka bekerja.

“Ini adalah proporsi yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan semua pasar (44%). Keduanya memberikan kesempatan bagi kami untuk memainkan peran kami dalam mempromosikan dan menarik FDI (foreign direct investment) atau penanaman modal asing langsung ke Indonesia. Antara lain melalui Economic Outlook Event seperti yang kami selenggarakan hari ini,” katanya.

Memiliki keunggulan

Pentingnya Indonesia untuk menarik FDI juga diungkapkan Kepala Ekonom HSBC untuk ASEAN Joseph Incalcaterra. Dalam hal ini, Indonesia memiliki keunggulan dibandingkan negara-negara ASEAN yakni mempunyai sumber daya alam dengan permintaan sangat tinggi.

“Indonesia sebagai salah satu penyuplai nikel terbesar di dunia memiliki kekuatan permintaan. Ini akan lebih menguatkan investasi di sana,” ujar Joseph dalam kesempatan yang sama.

Di samping itu, katanya, penting bagi Indonesia untuk mengakselerasi berbagai reformasi. Antara lain melalui omnibus law cipta kerja yang akan mengubah setidaknya 74 undang-undang yang berkaitan dengan pasar tenaga kerja dan peraturan investasi.

Di sisi lain, strategi HSBC dalam merespon terhadap krisis pandemi dan menyikapi keadaan yang serba tak menentu ini, adalah membangun ketahanan operasional antara lain dengan meningkatkan kinerja platform digital guna dapat terus mempertahankan layanan dan dukungan bagi nasabah.

“Ini karena ukuran dan struktur HSBC memungkinkan kami untuk mendukung nasabah dari berbagai lokasi. Kami juga menerapkan rencana keberlangsungan bisnis yang dirancang untuk melindungi pelanggan, karyawan, aset, dan semua proses kami jika terjadi gangguan pada aktivitas bisnis normal,” jelasnya.

Sementara untuk membantu masyarakat dan negara mengatasi pandemi, lanjutnya, HSBC Indonesia juga memberikan donasi amal untuk mendukung respons medis mendesak guna melindungi masyarakat yang rentan dan memastikan ketahanan pangan. “HSBC terlibat dengan organisasi kemanusiaan, seperti Palang Merah Indonesia (PMI) dan lain-lain. Adapun untuk mendukung pemerintah, baru-baru ini

HSBC turut serta sebagai Joint Bookrunner dan Joint Lead Manager dalam penerbitan surat utang Republik Indonesia (SEC-Registered) senilai $ 4.3 milyar untuk bantuan dan upaya pemulihan covid-19 di Indonesia. Ini merupakan penerbitan surat utang terbesar yang pernah dilakukan Pemerintah Indonesia yang menandai penerbitan surat utang 50 tahun pertama dari Asia Tenggara.” pungkasnya. (Ifa/S3-25)

Baca Juga

Dok.MI

Kebijakan OJK Memperpanjang Relaksasi Restrukturisasi Kredit Tepat

👤Ifa/Mir/S1-25 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 05:11 WIB
Dalam situasi sekarang, pasti debitur akan mengalami kesulitan karena demandnya tidak ada. Jadi sangat ditoleransi kalau debitur itu...
Medcom.id

Pelaku Usaha Milenial Harus Jadi Penggerak Ekonomi

👤Pra/Mal/Ins/X-7 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 04:58 WIB
Perizinan usaha untuk usaha mikro, kecil, UMKM, tidak diperlukan lagi, cukup pendaftaran...
Antara/Andreas Fitri Atmoko

Pandemi Covid-19 Momen Percepat Digitalisasi UMKM

👤Ghani Nurcahyadi 🕔Selasa 27 Oktober 2020, 03:36 WIB
Sektor UMKM diupayakan kembali bergeliat melalui Gerakan Nasional Bangga Buatan Indonesia (Gernas...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya