Kamis 17 September 2020, 11:00 WIB

Ada PSBB Jilid II, Warga DKI Disebut Butuh BLT

Hilda Julaika | Megapolitan
Ada PSBB Jilid II, Warga DKI Disebut Butuh BLT

ANTARA/Reno Esnir
Pekerja mengemas paket bantuan sosial di gudang Food Station, Cipinang, Jakarta.

 

DKI Jakarta telah melaksanakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) jilid II selama 4 hari. Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengatakan akan memberikan bantuan sosial (bansos) berupa sembako yang sesuai timeline akan diberikan hingga Desember 2020 ini.

Namun, Peneliti Bidang Ekonomi The Indonesian Institute M Rifki Fadilah menilai masyarakat DKI saat ini lebih membutuhkan Bantuan Langsung Tunai (BLT). Pemberian jaminan sosial yang sesuai kebutuhan masyarakat ini akan membuat kebijakan PSBB menjadi lebih efektif.

“Saya juga perlu menekankan pemberian BLT di tengah krisis ini jauh lebih dibutuhkan masyarakat ketimbang bantuan perlindungan sosial lainnya, misalnya sembako,” kata Rifki kepada Media Indonesia, Kamis (17/9).

Baca juga: Trans-Jakarta Kurangi Jam Operasional Secara Bertahap

Ada beberapa alasan yang menyebabkan BLT sangat perlu dijadikan alat perlindungan sosial bagi warga DKI. Pertama, secara behavioral, masyarakat cenderung merasa lebih aman ketika mereka memegang uang dalam bentuk cash/tunai. Hal itu disebabkan uang tunai bersifat likuid sehingga masyarakat memiliki kebebasan mengalokasikan untuk apa uang tersebut digunakan.

Kedua, kurang lebih sudah lima bulan masyarakat mendapat bantuan sembako yang cukup banyak, meski perlu banyak evaluasi juga. Namun, di masyarakat, kini, bentuk bantuan bansos berupa sembako menjadi kurang bermakna lagi, lihat misalnya, kini banyak warga yang akhirnya menjual kembali sembako yang mereka dapatkan.

“Mengapa demikian? Hal ini disebabkan masyarakat merasa overestimate sembako yang diberikan pemerintah bulan kemarin masih mencukupi untuk beberapa waktu ke depan,” imbuhnya.

Akibatnya, terjadi penumpukkan stok sembako di masyarakat. Sementara itu, kebutuhan seperti bayar listrik, membayar kontrakan, membayar kebutuhan dapur, anak sekolah, dan lainnya belum terpenuhi. Oleh sebab itu, masyarakat saat ini lebih membutuhkan bantuan berupa dana tunai ketimbang sembako.

Ketiga, secara ekonomi, dengan bantuan langsung tunai, masyarakat akan memiliki kemampuan daya beli dengan dana likuid di tangannya. Dengan begitu, hal ini akan mendorong konsumsi dari masyarakat yang pada akhirnya akan membawa dorongan kepada perbaikan demand masyarakat dan mendorong perekonomian dalam jangka pendek melalui jalur demand/consumption tadi. (OL-1)

Baca Juga

MI/Andri Widiyanto

Pemprov DKI Terus Keruk Sungai Tingkatkan Kapasitas Air

👤Hilda Julaika 🕔Sabtu 26 September 2020, 13:05 WIB
Adapun pengerukan sungai ini bertujuan meningkatkan kapasitas air. Sehingga, saat curah hujan deras dan menimbulkan genangan air,...
MI/Fransisco Carolio

HUT KAI, Ada Diskon 25 Persen Tiket KA Jarak Jauh

👤Hilda Julaika 🕔Sabtu 26 September 2020, 09:35 WIB
Adapun diskon ini untuk keberangkatan Kereta Api (KA) Jarak Jauh dari Stasiun Gambir, Pasar Senen dan Stasiun area Daop 1...
ANTRA FOTO/Fakhri H

Soal Isolasi Mandiri, PDIP: Kebijakan Anies Sering tak Terukur

👤Hilda Julaika 🕔Sabtu 26 September 2020, 09:15 WIB
Anggota DPRD DKI Jakarta Fraksi PDI-P Gilbert Simanjuntak mengkritik kebijakan yang dikeluarkan Anies lantaran sering tak...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya