Kamis 17 September 2020, 06:20 WIB

Makin Banyak UMKM Go Digital

Des/E-1 | Ekonomi
Makin Banyak UMKM Go Digital

ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko
Pelaku UMKM di Yogyakarta Tutty Fetrianingsih menunjukan kerajinan produksinya yang dipasarkan melalui online marketplac.

 

PERKEMBANGAN UMKM (usaha mikro, kecil, dan menengah)  yang masuk ke ranah digital (go digital)  saat ini semakin masif.

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, per 14 Mei 2020, jumlah UMKM go digital sudah mencapai 1,9 juta lebih unit UMKM, atau 94% dari target 2 juta UMKM.

“Saat ini sudah pasti lebih dari 1 juta yang sudah on boarding. Dengan tren seperti ini, kita bisa mencapai 3 juta pada akhir tahun ini. Artinya kita bisa mencapai 150% dari target awal yang kita canangkan,” ungkapnya dalam acara peluncuran Bangga Buatan Indonesia (BBI) Pernak-pernik Unik secara daring, kemarin.

Pencapaian itu merupakan hasil kerja keras bersama. Dalam hal ini, kolaborasi lintas instansi tanpa sekat birokrasi beserta seluruh pemain di ekosistem digital menjadi kunci.

“Kita harus terus kumandangkan teamwork, teamwork, dan sekali lagi teamwork. Kita harus memupuk semangat positif di tengah situasi sulit dan bangsa besar adalah bangsa yang mampu melewati semua tantangan dengan semangat positif,” pungkas Luhut.

Dalam kesempatan yang sama, Menteri Perdagangan Agus Suparmanto mengharapkan UMKM dapat memainkan peran sebagai penopang perekonomian bangsa yang mampu menggerakkan ekonomi dan menjaga daya beli masyarakat.

Menurutnya, UMKM mampu menjaga kontribusi 60% dari total PDB (produk domestik bruto), menyerap 96% tenaga kerja dari total 133 juta angkatan kerja, serta memberikan sumbangsih sebesar 14% dari total ekspor.

“Di saat yang bersamaan, pelaksanaan PSBB telah mengubah pola konsumsi masyarakat. Penjualan dari media online bisa menjadi solusi karena mampu bertahan di tengah situasi pandemi. Hal yang perlu segera dijawab adalah bagaimana mengatasi tantangan yang sedang dihadapi oleh bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Menurut Agus, potensi tingkat konsumsi dalam negeri yang sangat pesat tampaknya juga menjadi daya tarik bagi pelaku usaha dari negara lain.

“Hal ini dapat dilihat dari bagaimana mereka berlomba-lomba untuk merebut pasar Indonesia dengan produk-produk impor mereka,” tandasnya. (Des/E-1)

 

Baca Juga

MI/Ramdani

Perusahaan Korea Selatan Relokasi Pabrik ke Pati

👤M Ilham Ramadhan Avisena 🕔Sabtu 26 September 2020, 11:33 WIB
Selain menambah lapangan kerja, investasi PT Sejin Fashion Indonesia juga akan meningkatkan devisa negara karena 100% hasil...
AFP/Spencer Platt

Akhir Pekan, Wall Steet Ditutup Merekah 352 Poin

👤Raja Suhud 🕔Sabtu 26 September 2020, 11:15 WIB
Sepuluh dari 11 sektor di bawah S&P 500 ditutup lebih tinggi, dengan sektor teknologi, real estate dan kesehatan masing-masing menguat...
Antara/Aswaddy Hamid

Kejar Target Substitusi Impor, Dua Industri Prioritas Ditambahkan

👤M Ilham Avrisena 🕔Sabtu 26 September 2020, 10:25 WIB
Sebelumnya hanya ada lima sektor prioritas yakni industri makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, kimia, otomotif, serta...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya