Kamis 17 September 2020, 01:10 WIB

Membereskan 'Malaikat' Sang Pencabut Nyawa

Gantyo Koespradono, Mantan Wartawan, Pemerhati Sosial dan PolitikĀ  | Opini
Membereskan

Dok.pribadi
Gantyo Koespradono

SAAT artikel ini saya tulis, Covid-19 masih mengganas. Sekretaris Daerah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, Saefullah, meninggal dunia setelah positif korona. Waktunya terpaut dua hari setelah pembatasan sosial berskala besar (PSBB) jilid kedua diberlakukan di Jakarta, Senin (14/9).

Pada hari yang sama (Rabu, 16/9) tersiar kabar mantan Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) Indonesia era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Dino Patti Djalal terkonfirmasi positif virus korona.

Pemerintah menyatakan bahwa kasus covid-19 di Indonesia naik 10,4% dalam sepekan terakhir, dan penularan virus masih terjadi hingga saat ini. Hal ini terlihat dari masih bertambahnya pasien baru yang menyebabkan jumlah kasus covid-19 kembali meningkat hingga Rabu (16/9). 

Data pemerintah memperlihatkan bahwa ada 3.963 kasus baru covid-19 dalam 24 jam terakhir. Ini merupakan rekor penambahan tertinggi sejak pandemi melanda Indonesia.

Hitung-hitung sudah setengah tahun kita hidup bersama covid-19. Kasus positif covid-19 di belahan dunia terus naik. Saya bisa pahami jika Letjen TNI Doni Monardo, Ketua Satgas Penanganan Covid-19/Kepala BNPB, menyebut korona tak ubahnya adalah malaikat pencabut nyawa. "Terutama buat lansia, penderita kanker, diabetes dan paru-paru," katanya saat berbicara dalam Forum Diskusi Denpasar 12 yang digelar di rumah dinas Wakil Ketua MPR, Lestari Moerdijat, Rabu (16/9).

Saya yakin Doni berbicara seperti itu bukan untuk menakut-nakuti masyarakat. Fakta tak terbantahkan, virus ini memang mematikan. Dia mengungkapkan, dalam enam bulan ini, di dunia, mereka yang meninggal sudah tembus 1.000.000 orang.

Banyak di antara kita yang berharap dan berasumsi kelak setelah vaksin ditemukan, kita lantas bebas tidak perlu lagi mengenakan masker, mencuci tangan dan menjaga jarak. 

Asumsi dan harapan itu ditepis Doni. Saat vaksin sudah ada, "Kita tetap harus patuh pada protokol kesehatan dan disiplin melaksanakan 3M (menjaga jarak, mengenakan masker dan mencuci tangan dengan sabun)," kata Doni.

Tak bisa dipungkiri, masyarakat kini terbelah menjadi dua 'kubu' dalam melihat covid-19. Kubu pertama adalah mereka yang percaya bahwa covid-19 berbahaya dan mematikan. Sedangkan kubu kedua yang yakin bahwa covid-19 merupakan produk konspirasi.

Yang memprihatinkan, seperti diungkap Doni (mengutip survei yang dilakukan Kementerian Kesehatan), 30% warga Jakarta menyatakan tidak khawatir dengan covid-19 dan percaya bahwa korona tidak membawa risiko kematian. Di Jawa Timur, mereka yang menganggap covid-19 biasa-biasa saja bahkan mencapai 39%.

Itulah masalah yang kita hadapi. Doni mengingatkan bahwa covid-19 jangan dianggap enteng. Ia malaikat pencabut nyawa. Lazimnya pembawa virus adalah hewan, sedangkan pembawa virus covid-19 adalah manusia. "Kalau hewan kita bisa habisi, lha yang membawa covid-19, kan manusia?" tutur Doni.

Tema yang diusung dalam Forum Diskusi Denpasar 12 adalah Arah Kebijakan Penanganan Pandemi Covid-19. Sedikitnya tujuh nara sumber berbicara dalam diskusi tersebut.

Dari diskusi yang berlangsung selama tiga jam tersebut, saya menangkap setidaknya ada beberapa poin penting yang pantas kita catat, yaitu pertama, masih ada masyarakat atau sekelompok orang yang melihat kasus covid-19 sebagai medium untuk menyalahkan pemerintah.

Dalam konteks ini, Doni mengingatkan bahwa dalam situasi seperti ini, menyalahkan pemerintah tidak ada gunanya. Yang diperlukan justru kerja sama, kekompakan dan gotong royong. Percuma jika pemerintah membuat aturan sebaik apa pun jika masyarakat tidak mau patuh dan kerja sama.

Kedua, muncul kesan pemerintah berusaha sendiri mengatasi covid-19, sehingga masyarakat, khususnya lembaga pendidikan tinggi, mengalami kesulitan mendapatkan akses, termasuk dalam mendapatkan data.

Setidaknya persoalan itulah yang diungkapkan Dr Atik C Hidajah (Ketua Departemen Epidemiologi Universitas Airlangga). Dia mengaku mengalami kesulitan saat akan mendapatkan data valid tentang jumlah tenaga kesehatan yang meninggal dunia karena covid. Karena kesulitan mendapatkan akses, "kami akhirnya mengambil data dari portal berita," katanya.

Ketiga, tidak ada keseragaman yang diberlakukan pihak terkait (rumah sakit) menyangkut PCR. Mengungkapkan pengalaman pribadi melakukan PCR, Alfito Deanova Ginting, Direktur Konten/Pemimpin Redaksi Detik Networks, menjelaskan biaya swab yang diberlakukan di rumah sakit berbeda-beda, ada yang Rp1,5 juta, Rp2 juta, bahkan Rp3,5 juta.

Dia menyarankan agar biaya swab diseragamkan, sehingga masyarakat termotivasi untuk melakukan swab secara mandiri dengan biaya murah.

Keempat, muncul ego sektoral, terutama di daerah, sehingga kepala daerah berjalan sendiri-sendiri. Mengacu kepada apa yang terjadi di Jakarta, Ketua Fraksi Partai NasDem DPRD DKI Jakarta, Wibi Andrino menganggap ini sangat serius.

Dia mengungkapkan berbagai 'kebijakan' yang diputuskan Pemprov DKI Jakarta terkait penanganan 'malaikat pencabut nyawa' tidak pernah melibatkan DPRD. Berapa anggaran yang dipakai untuk menangani covid-19 juga tidak diinfokan secara transparan, termasuk bantuan dari pemerintah pusat.

Wibi mengaku terkejut ketika Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengumumkan pemberlakuan PSBB jilid 2. "Terus terang kami jadi kaget," ungkapnya. 

Berdasarkan pencarian yang dilakukan secara mandiri, Wibi akhirnya menemukan fakta bahwa pemerintah pusat selama ini memberikan bantuan dana dalam jumlah besar untuk penanganan covid-19 kepada Pemprov DKI Jakarta. Logikanya, bantuan itu menghasilkan output yang positif. Namun realitanya, jumlah kasus covid-19 di DKI kok malah membengkak.

Kelima, pemerintah belum melibatkan tokoh masyarakat dalam menyosialisasikan bahaya covid dan upaya pencegahannya. Tokoh mayarakat yang dimaksud di sini antara lain adalah tokoh-tokoh agama.

Forum Diskusi Denpasar 12 juga mengundang tokoh Nahdlatul Ulama (Ali Masykur Musa, Ketua Umum PP Ikatan Sarjana NU) dan Muhammadiyah (Sunanto, Ketua Umum PP Pemuda Muhammadiyah).

"Ayo, pemerintah ajak tokoh agama untuk menjelaskan ke masyarakat agar menjaga diri supaya tidak sakit," kata Ali Masykur. Ia berbicara seperti ini, sebab fakta di lapangan, masih ada masyarakat yang menganggap bahwa mati adalah urusan Allah, terlepas penyebabnya covid atau bukan.

Suka atau tidak suka, ke depan, pandemi covid-19 akan membawa kita ke gaya hidup baru. Ada atau tidak ada covid, menurut Ali Masykur, kita akan kuliah, pidato, seminar dan sebagainya tetap secara daring.

Cara hidup sehat juga akan menjadi life style. Ali Masykur berpendapat, soal-soal seperti ini harus digaungkan terus menerus. Caranya? Ya, itu tadi, libatkan tokoh-tokoh agama.

Pentingnya melibatkan tokoh agama juga dibenarkan Sunanto. Pemerintah perlu memperbanyak 'corong' tentang bahaya covid, apalagi masyarakat kini terbelah, dan ada yang memanfaatkan pandemi covid ke ranah politik.

Keenam, menggerakkan perusahaan swasta untuk melaksanakan CSR dengan memberikan pelayanan PCR (swab). "Perusahaan-perusahaan besar jangan cuma mengambil keuntungan dari pemerintah. Kini saatnya untuk membantu pemerintah," ujar Ali Masykur.

Dalam waktu dekat sejumlah daerah akan menggelar pilkada. Dalam konteks ini, menarik apa yang diusulkan Alfito. Dia menyarankan kepada para calon kepala daerah agar juga memberikan pelayanan swab gratis kepada masyarakat. "Daripada dana kampanye dipakai untuk beli kaos, kan lebih bagus jika dipakai untuk pelayanan swab ke masyarakat," katanya.

Lalu bagaimana agar arah kebijakan penanganan pandemi malaikat sang pencabut nyawa bisa berjalan dengan hasil memuaskan meskipun penuh risiko?

Mengungkapkan kesuksesan Swedia dan Jerman dalam menangani covid-19, wartawan senior Saur Hutabarat, menegaskan, "kita harus percaya kepada ahli epidemologi. Selain itu? Suka tidak suka, apa boleh buat, kita harus patuhi pemerintah pusat. Kita tidak bisa mengambil jalan tengah. Kita perlu berlebar dada, melapangkan pikiran untuk mengatasi kontroversi kebijakan," tandas Saur. Setuju.

Baca Juga

Dok. Pribadi

Misteri Harta Karun Soekarno

👤Guntur Soekarno Pengamat Sosial 🕔Sabtu 26 September 2020, 03:05 WIB
Terdiri dari benda-benda tak bergerak seperti tanah, rumah, dan logam mulia berupa batangan emas yang berton-ton beratnya disimpan di...
MI/PERMANA

Hari Kontrasepsi Sedunia 2020 Perlu Perubahan Pola Pikir

👤Sudibyo Alimoeso Ketua Umum Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) 🕔Sabtu 26 September 2020, 03:00 WIB
MESKIPUN Indonesia penyumbang pemakai kontrasepsi terbanyak di dunia, banyak yang tidak tahu bahwa setiap 26 September secara global...
Medcom.id/Annisa Ayu Artanti

Menyoal Kebijakan Sosialisasi Wabah Covid-19

👤IGK Manila Gubernur Akademi Bela Negara (ABN) Partai NasDem 🕔Jumat 25 September 2020, 03:05 WIB
Sosialisasi pada dasarnya harus sampai pada kesadaran dan praktik sebagai ‘disiplin diri harga...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya