Rabu 16 September 2020, 10:10 WIB

Petani di Flotim Mulai Kesulitan Air untuk Irigasi

Ferdinandus Rabu | Nusantara
Petani di Flotim Mulai Kesulitan Air untuk Irigasi

MI/Ferdinandus Rabu
Petani di Desa Sinar Hadigala, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur kesulitan mendapatkan air irigasi.

 

MUSIM kemarau melanda Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur membuat lahan tanaman mengalami kekeringan karena terjadi krisis air untuk irigasi. Debit air menurun. Untuk mempertahankan dan menjaga ketersediaan air, para pteani melakukan penghematan dan penyadapan air. Seperti dialami petani di Desa Sinar Hadigala, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur, kekeringan sudah melanda wilayah itu. Warga melakukan penghematan air dan mengalirkan air ke tanaman pangan secara bergiliran.

"Kendala kami saat ini adalah air. Air sulit sekali apalagi saat kemarau ini, debit air menurun drastis. Kami terpaksa harus sadap air sendiri. Sumber air dari sungai cukup jauh dari lahan kami, sehingga mengganggu kami untuk melakukan penyiangan. Kami pakai pipa-pipa bekas untuk sadap air lalu dialirkan ke lahan-lahan. Kami pikul pipa dari pematang ke pematang agar air bisa mengalir ke seluruh lahan tanam kami. Kami harus jaga agar pipa-pipa air tersebut tidak bocor. Kemarau seperti ini airnya sangat kecil sehingga kami harus berhemat. Kami harap pemerintah bisa membantu kami dengan membuka jaringan irigasi di daerah ini untuk membantu pengairan di lahan kami," ungkap Fransiskus Kajuk Nitit, salah seorang petani di Desa Sinar Hadigala, Rabu (16/9).


Petani lainnya di Desa Wure, Kecamatan Adonara Barat, Antonius Gordus Was bersama istrinya Lidvina Bura Koten, juga mengakui mengalami penurunan hasil produksi akibat musim kemarau ini. Tidak hanya kesulitan air saat kemarau, namun lahan mereka juga terancam hama sehingga merusak hasil tanam mereka, seperti bawang, cabe, tomat, dan beberapa jenis sayuran.

"Saat ini memang air terbatas sekali pak, tapi kami tetap berusaha tanam. Ada bawang, tomat, cabe, sayur sawi, kangkung juga papaya. Saat kemarau ini, debit air sedikit sekali. Kami harus pakai bergiliran, kadang malam hari baru bisa dapat jatah air untuk menyirami lahan kami, memang harus berhemat agar lahan kami bisa disiram. Tidak hanya itu pak, lahan kami juga saat ini terserang hama. Kami tidak tau pasti ini jenis hama apa. Hama ini menyerang dari bawah hingga ke atas sampai daun menguning, kering dan mati. Obat hama juga tidak ada, sehingga tahun ini hasil prioduksi kami sangat menurun," kata Antonius.

baca juga: Lokasi Sulit Dijangkau Karhutla di Sikka Sulit Dipadamkan

Ia berharap adanya bantuan pemerintah dan melihat langsung kondisi para petani karena selama ini bantuan obat maupun pupuk sering terlambat.

"Iya kita harap ada bantuan pemerintah juga. Selama ini bantuan obat maupun pupuk dan bibit kadang terlambat. Tahun ini memang sebagian besar tanaman kami mati akibat hama. Mudah-mudahan petugas pertanian bisa turun dan melihat kondisi petani di sini agar bisa membantu kami mengatasi hama, juga membantu dengan jaringan irigasi atau bendungan untuk menjaga ketersediaan air saat kemarau ini," harapnya. (OL-3)
 

Baca Juga

Dok The Learning Farm

Optimisme Petani Cidaun Hingga Sleman di Masa Pandemi  

👤Iis Zatnika 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 22:25 WIB
Sektor pertanian memang moncer di saat pandemi, namun dibutuhkan kolaborasi para pemangku kepentingan untuk mengungkit kesejahteraan...
Antara

Ulama : Bisnis Prostitusi Daring di Aceh Meningkat Selama Pandemi

👤Mediaindonesia.com 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 22:00 WIB
Maraknya dugaan prostitusi daring yang ditawarkan melalui aplikasi media sosial melalui telepon pintar di Aceh, telah menyebabkan keresahan...
MI/Rendy Ferdiansyah.

BMKG : Aceh Harus Waspadai Cuaca Ekstrem Hingga Pekan Depan

👤Mediaindonesia 🕔Minggu 25 Oktober 2020, 21:30 WIB
Hingga awal pekan depan 'share line' (belokan angin) masih akan terjadi di...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya