Selasa 15 September 2020, 20:56 WIB

Pemerintah: Sunat pada Perempuan Berbahaya dan Kejam

Antara | Humaniora
Pemerintah: Sunat pada Perempuan Berbahaya dan Kejam

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra
Ilustrasi

 

DEPUTI Bidang Partisipasi Masyarakat Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Indra Gunawan mengatakan praktik sunat pada perempuan berbahaya, tidak diperlukan, dan melanggar hak perempuan.

"Pemotongan/perlukaan genital perempuan atau sunat perempuan merupakan praktik berbahaya yang secara eksklusif ditujukan kepada perempuan dan anak perempuan yang dapat mengakibatkan masalah kesehatan hingga memicu depresi dan trauma," kata Indra melalui siaran pers yang diterima di Jakarta, hari ini.

Indra mengatakan pemerintah berkomitmen menghapuskan segala bentuk praktik berbahaya seperti perkawinan anak dan sunat perempuan yang masuk dalam salah satu sasaran Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) hingga 2030.

Karena itu, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak mengajak seluruh masyarakat bersama-sama menghentikan praktik sunat pada perempuan karena melanggar hak dasar perempuan untuk memperoleh kesehatan, integritas tubuh, serta bebas dari diskriminasi dan perlakuan kejam atau upaya merendahkan martabat.

Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak telah memiliki peta jalan dan rencana strategis pencegahan sunat perempuan dengan target pencapaian hingga 2030.
 
"Kita sangat berharap seluruh anak perempuan dan perempuan di Indonesia terlindungi dari praktik-praktik berbahaya seperti perkawinan anak dan sunat perempuan," tuturnya.

Sekretaris Perkumpulan Obstetri dan Ginekologi Indonesia Komisariat Jakarta Selatan Muhammad Fadli mengatakan perempuan tidak memerlukan sunat, berbeda dengan laki-laki.

"Organ genitalia perempuan terlahir sudah optimal dan sempurna, berbeda dengan laki-laki yang harus disunat untuk menghindari masalah kesehatan di kemudian hari," jelasnya.
 
Praktik sunat pada perempuan berbahaya karena merupakan tindakan sengaja yang dilakukan untuk mengubah atau mencederai organ genital perempuan tanpa ada indikasi medis yang dapat menimbulkan masalah kesehatan hingga komplikasi langsung maupun jangka panjang.

Dari sisi agama, terutama agama Islam, KH Faqihuddin Abdul Kodir dari Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada mengatakan hampir semua fatwa ulama di dunia telah mengharamkan praktik sunat perempuan.

Yang terbaru, fatwa Lembaga Fatwa Mesir dan Universitas Al Azhar Mesir pada Februari 2020 setelah terdapat kasus anak perempuan meninggal karena disunat pada Januari 2020.
 
"Fatwa itu terang benderang dan dengan argumentasi kuat menyatakan khitan perempuan bukan bagian dari syariah karena hadist dan Quran-nya tidak tegas. Itu bagian dari kebiasaan atau tradisi yang harus dikembalikan kepada yang kompeten, yaitu kedokteran," katanya.(OL-4)

Baca Juga

dok.mi

Selama PJJ, Banyak Anak di NTT Alami Kekerasan Psikis

👤Palce Amalo 🕔Minggu 27 September 2020, 18:00 WIB
SELAMA pandemi covid-19 yang mengharuskan pemerintah menerapkan metode pembelajaran jarak jauh (PJJ) banyak anak di Nusa Tenggara Timur...
DOK Sinar Mas Land

Lawan Covid-19, Sinar Mas Land Terus Dukung Pemerintah Daerah

👤RO 🕔Minggu 27 September 2020, 17:41 WIB
Sinar Mas Land melalui BSD City menyerahkan bantuan berupa bahan pangan kepada masyarakat terdampak covid-19 serta rapid test kit melalui...
Ilustrasi

Update: Kasus Sembuh Covid-19 Tembus 200 Ribu Pasien

👤Atikah Ishmah Winahyu 🕔Minggu 27 September 2020, 17:29 WIB
Pasien sembuh bertambah 3.611 orang, sehingga total menjadi 203.014 orang. Sedangkan jumlah kasus meninggal bertambah sebanyak 78 orang,...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya