Selasa 15 September 2020, 14:33 WIB

Selama Pandemi, 49,8% Perokok tak Mengubah Kebiasaannya

Atikah Ishmah Winahyu | Humaniora
Selama Pandemi, 49,8% Perokok tak Mengubah Kebiasaannya

Ist
Ilustrasi

 

SEBESAR 49,8 persen mengeluarkan biaya yang sama dengan hari biasa untuk merokok selama pandemi covid-19. Namun, sekitar 31,1 persen responden mengaku mengurangi biaya merokok, sedangkan sisanya yakni 13,1 persen mengalami peningkatan (biaya konsumsi rokok).

Hal itu terungkap Komnas Pengendalian Tembakau yang melakukan survei perilaku merokok selama masa pandemi covid-19. Survei yang melibatkan 612 responden dari berbagai daerah di Indonesia selama satu bulan yakni pada 15 Mei-15 Juni 2020 tersebut juga menyebutkan, dari segi jumlah batang rokok yang dikonsumsi selama masa pandemi, 50,2 persen responden merokok dengan jumlah batang yang sama jika dibandingkan hari biasa.

Sedangkan 34,6 persen responden mengaku jumlah rokok yang dikonsumsi menurun selama pandemi, dan sisanya yakni 15,2 persen mengalami peningkatan jumlah konsumsi batang rokok.

Peneliti utama survei Krisna Puji Rahmayanti mengatakan, ada beberapa alasan yang membuat para perokok mengurangi jumlah konsumsinya selama pandemi, di antaranya, karena keterbatasaan ruang untuk merokok, akibat pendapatan berkurang selama pandemi sehingga sejumlah responden memilih untuk lebih berhemat, dan takut terpapar virus jika sering merokok.

“Penghasilan yang menurun seiring dengan pandemi covid-19 ternyata juga menjadi alasan mereka mengurangi konsumsi, artinya kebijakan yang dilakukan di ranah personal dipengaruhi juga oleh kondisi moneter. Jadi mereka juga menghitung walaupun ketagihan ingin merokok, tapi ketika hubungannya sudah dengan penghasilan, mereka juga bisa berpikir rasional untuk melihat prioritas yang mana,” kata Krisna dalam Peluncuran Hasil Survei Perilaku Merokok pada Masa Pandemi Covid-19, Selasa (15/9).

Melihat hasil survei tersebut, pihak peneliti pun mengusulkan dua pendekatan yakni kebijakan fiskal dan non-fiskal yang dapat dipertimbangkan oleh pemerintah. Dari segi fiskal, pemerintah dapat menaikkan cukai untuk mendorong kenaikan harga rokok, sehingga dapat mengurangi jumlah konsumsi masyarakat.

“Ketika harga naik, maka perokok akan berhenti. Ketika penghasilan berkurang dan harga rokok menjadi tidak masuk lagi sebagai prioritas, mereka akan tidak mengonsumsi lagi. Jadi, kenaikan cukai bisa menjadi salah satu opsi kebijakan yang memang saat ini sudah dilakukan dan bisa terus dilakukan,” tuturnya.

Baca juga : Kecanduan Internet Meningkat Saat Pandemi Covid-19

Sedangkan dari segi non-fiskal, dalam dilakukan peningkatan edukasi rumah ramah anak dan rumah bebas asap rokok, perluasan daerah dengan kebijakan kawasan tanpa rokok yang disertai dengan edukasi terkait bahayanya merokok, membatasi akses pembelian rokok melalui pemberlakuan lisensi penjualan produk tembakau sebagai zat aditif. Kemudian, meningkatkan luas peringatan kesehatan bergambar sesuai dengan peta jalan pengendalian tembakau untuk menuju plain packaging, serta memasukkan pengendalian konsumsi rokok dalam pedoman penanganan covid-19 oleh seluruh satuan tugas di pusat maupun daerah.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Agus Dwi Sasonto mengatakan, masa pandemi merupakan waktu terbaik untuk berhenti merokok guna melindungi diri dari infeksi covid-19, sebab merokok meningkatkan risiko terinfeksi, memperberat infeksi, dan meningkatkan risiko kematian akibat covid-19.

“Saya rasa harusnya masa pandemi adalah kesempatan bagi yang merokok untuk berhenti merokok,” ujarnya.

Dia menuturkan, penelitian di Tiongkok menunjukkan bahwa merokok meningkatkan risiko pneumonia covid-19. Laki-laki memiliki risiko terinfeksi covid-19 sebesar 58 persen atau lebih tinggi dibandingkan perempuan karena kebiasaan merokok.

“Data dari kami di RS Persahabatan yang terakhir dari sekitar 400 pasien covid-19 laki-laki, kita temukan 62,5 persen adalah seorang perokok,” ungkapnya.

Adapun empat faktor yang menyebabkan rokok dapat meningkatkan risiko terinfeksi covid-19 yaitu, merokok menyebabkan gangguan pada sistem imunitas, meningkatkan regulasi reseptor ACE2, menyebabkan terjadinya komorbid, dan aktivitas merokok dapat meningkatkan transmisi virus ke tubuh melalui media tangan yang sering menyentuh area mulut saat merokok. (OL-2)

Baca Juga

Ist

Dukung Atasi Covid-19, PMI Terima Sumbangan Satu Unit Ambulans

👤Eni Kartinah 🕔Kamis 24 September 2020, 15:43 WIB
Ketua Umum PMI Pusat Jusuf Kalla mengatakan PMI sebagai lembaga kemanusiaan yang berfokus pada penyediaan layanan vital bagi masyarakat...
DOK KOMINFO

Hadirkan Jaringan 4G,Kominfo Dukung Pengembangan Kawasan Mandalika

👤mediaindonesia.com 🕔Kamis 24 September 2020, 15:35 WIB
Menurut Menteri Johnny, kedatangannya ini untuk memastikan pembangunan infrastruktur telekomunikasi berupa BTS 4G dapat berlangsung dengan...
ANTARA/Iggoy el Fitra

Banjir dan Tanah Longsor Landa Kabupaten Pesisir Selatan Sumbar

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 24 September 2020, 14:30 WIB
Longsor disebabkan kondisi tanah labil dan dipicu curah hujan tinggi, akibatnya akses jalan dari Padang Paiman menuju Bengkulu...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya