Senin 14 September 2020, 13:35 WIB

Defisit Penyuluh Pertanian, Mahasiswa Diajak Jadi Agen Perubahan

Achmad Maulana | Humaniora
Defisit Penyuluh Pertanian, Mahasiswa Diajak Jadi Agen Perubahan

ANTARA/ASEP FATHULRAHMAN
Petani merawat tanaman selada (Lactuca sativa) yang dibudidayakan dengan sistem hidroponik di Kampung Lebakwana, Serang, Banten.

 

PANDEMI covid-19 menyadarkan pentingnya pengembangan dan pembangunan di sektor pertanian bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat PDB sektor pertanian menjadi penyumbang tertinggi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional pada triwulan II 2020 yaitu tumbuh sebanyak 2,19%.  

Peran penyuluh penting dalam upaya meningkatkan produktivitas di sektor pertanian. Mereka adalah corong informasi bagi petani dalam menerima berbagai produk penelitian dan pengembangan teknologi di bidang pertanian. Akan tetapi, sebagai negara berbasis pertanian, Indonesia mengalami defisit tenaga penyuluh pertanian.

Baca juga: Pertanian Penyangga Perekonomian Nasional di Masa Pandemi

Kementerian Pertanian (Kementan) menyebut idealnya, setiap desa setidaknya memiliki satu penyuluh pertanian. Sekarang, satu penyuluh bisa bertanggung jawab pada dua sampai lima desa. Karenanya, Indonesia membutuhkan 42.500 tenaga penyuluh pertanian baru.

Upaya pemerintah menambal jumlah defisit tenaga penyuluh pertanian kerap menghadapi sejumlah kendala. Karenanya, pemerintah mengeluarkan UU Nomor 16 tahun 2006 tentang Sistem Penyuluhan Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan. UU tersebut menjadi dasar keberadaan penyuluh swadaya dan swasta yang lahir dengan prinsip partisipatif.

"Bayer Indonesia melihat potensi universitas sebagai salah satu komponen masyarakat yang  memiliki potensi besar dalam upaya mengatasi defisit penyuluh pertanian di Indonesia. Mahasiswa pertanian dapat menjadi agent of change yang turun langsung ke petani di lapangan untuk memberikan sosialisasi dan edukasi pertanian yang komprehensif," sebut Mohan Babu, Direktur Bayer Indonesia.
 
Inisiatif tersebut melahirkan kolaborasi antara Bayer dengan universitas melalui Bayer Safe Use Ambassador (BSUA). Dengan keterlibatan mahasiswa langsung ke lapangan, Bayer optimis BSUA dapat memberikan nilai tambah dan pengalaman pembelajaran langsung. Selama penyelenggaraan BSUA sejak tahun 2017, ada 1.500 mahasiswa menjadi peserta dan memberikan edukasi kepada setidaknya 3.000 petani Indonesia.

Hingga 2019, Bayer Indonesia telah berkolaborasi dengan tujuh universitas, yakni Universitas Pertanian Bogor (IPB), Universitas Padjajaran (Unpad), Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed), Universitas Brawijaya (Unibraw), Universitas Negeri Lampung (Unila) dan Universitas Islam Sumatera Utara (UISU). BSUA 2019 itu dimenangi oleh mahasiswa pertanian Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan yang bersangkutan berhak mendapatkan educational trip ke Jerman. Namun, akibat pandemi, keberangkatan ditunda hingga waktu yang akan ditentukan kemudian.    

"Tahun 2020, Bayer tidak menggelar BSUA akibat pandemi. Namun, demi menjaga hubungan baik dengan universitas, Bayer CropScience Jerman menggelar Bayer Safe Use Ambassador Virtual Conference pada Selasa 8 September lalu," tambah Mohan Babu.

Sementara itu, pengajar dari Universitas Padjajaran, Dr. Vira Kusuma Dewi,  menyampaikan paparannya mengenai manfaat mengikuti BSUA bagi mahasiswa. Di samping memberikan nilai tambah dan pengalaman terjun langsung ke lapangan, menurut Vira, program BSUA terintegrasi dengan program kurikulum pembelajaran mahasiswa pertanian.

"Menyebarkan cara dan metode menggunakan produk pertanian secara aman sangat penting bagi petani, agar dapat meminimalisir risiko penggunaan pestisida. Karena masih banyak petani Indonesia yang masih kurang memiliki informasi mengenai bahaya dari penyalahgunaan pestisida," ujar Vira.

Di event Bayer Safe Use Ambassador Virtual Conference, Klaus Kunz selaku Head of Sustainability & Business Stewardship Bayer AG  menyebut, sektor pertanian yang berkelanjutan menjadi salah satu fokus Bayer. Bayer telah melakukan berbagai langkah demi mencapai tujuan tersebut. Tidak sendiri, Bayer secara aktif melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak, seperti universitas agar tujuannya tersebut lebih cepat tercapai.

“Sebagai salah satu negara berbasis pertanian dengan 270 juta penduduk, kami berharap apa yang kami lakukan melalui BSUA dapat memberikan sumbangsih bagi Indonesia,” tutup Mohan Babu. (RO/A-1)

 

Baca Juga

123RF

Inilah Kebutuhan Vitamin untuk Mendukung Daya Tahan Tubuh

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 29 September 2020, 20:50 WIB
Kebutuhan kedua vitamin C dan B akan lebih tinggi bagi kelompok yang cukup rentan seperti ibu hamil dan masyarakat usia...
Antara

Turun 50 Persen, Kopi Kawa juga Terimbas Pandemi

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 29 September 2020, 20:16 WIB
Kopi kawa sudah ada semenjak zaman kolonial Belanda itu agar minuman tradisional tetap terjaga di...
Antara

Satgas: 20 Kabupaten/Kota Harus Evaluasi Penanganan Covid-19

👤Andhika Prasetyo 🕔Selasa 29 September 2020, 19:24 WIB
Beberapa kabupaten dan kotamadya ialah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Selatan, dan Jakarta...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya