Senin 14 September 2020, 16:48 WIB

Sering Lupa Bukan Hal Normal, Bisa Jadi Gejala Demensia Alzhemeir

Eni Kartinah | Humaniora
Sering Lupa Bukan Hal Normal, Bisa Jadi Gejala Demensia Alzhemeir

Antara/Moch Asim
Pikun seringkali dianggap biasa dialami para lansia (lanjut usia) sehingga demensia alzheimer seringkali tidak terdeteksi.

 

DEMENSIA adalah sindrom gangguan penurunan fungsi otak yang mempengaruhi fungsi kognitif, emosi,dan perilaku aktivitas sehari-hari. Saat ini, di dunia, lebih dari 50 juta orang mengalami demensia dan demensia alzheimer adalah jenis demensia yang terbanyak, sekitar 60-70%

Masyarakat sering menyebut kondisi tersebut sebagai pikun. Pikun seringkali dianggap biasa dialami para lansia (lanjut usia) sehingga demensia alzheimer seringkali tidak terdeteksi, padahal gejalanya dapat dialami sejak usia muda (early on-set demensia).

Deteksi dini membantu penderita dan keluarganya untuk dapat menghadapi dampak penurunan fungsi kognitif dan pengaruh psiko-sosial dari penyakit ini dengan lebih baik. Selain itu penanganan Alzheimer sejak dini juga penting untuk mengurangi percepatan kepikunan.

Dalam rangka Alzheimer Awareness Month di pada fungsi kognitif September 2020, Eisai Indonesia dan Perdossi (Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia) mengadakan kampanye edukatif, #ObatiPikun dan mengenalkan metode deteksi dini demensia alzheimer melalui EMS (E-memory screening)

Dalam keterangan persnya, Senin (14/9), Ketua Umum Pengurus Pusat (PP) Perdossi, Dr. dr. Dodik Tugasworo P, SpS(K) mengatakan, “Meskipun demensia sebagian besar dialami oleh lansia, kondisi ini bukanlah hal yang normal. Demensia alzheimer merupakan penyebab utama ketidakmampuan dan ketergantungan lansia terhadap orang lain."

Menurut Dodik, penyakit ini memberikan dampak fisik, psikososial,  sosial, dan beban ekonomi tidak hanya bagi penderita tapi juga bagi keluarga dan lingkungan sekitar.

"Estimasi jumlah penderita penyakit Alzhemeir di Indonesia pada tahun 2013 mencapai satu juta orang. Jumlah itu diperkirakan akan meningkat drastis menjadi dua kali lipat pada tahun 2030, dan menjadi empat juta orang pada tahun 2050. Bukannya menurun, tren penderita Demensia Alzheimer di Indonesia semakin meningkat setiap tahunnya," papar Prof Dodik.

"Kurangnya kesadaran dan pemahaman tentang Demensia Alzheimer mengakibatkan stigmatisasi dan hambatan dalam diagnosis dan perawatan. Oleh karena itu, edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan secara terus menerus sangat penting. Kolaborasi dengan berbagai pihak dapat memperluas cakupan edukasi," katanya.

Perdossi bersama PT. Eisai Indonesia melakukan Kampanye edukatif #ObatiPikun ini dan berharap dapat bermanfaat meningkatkan awareness mengenai Demensia Alzheimer.”

President Director PT Eisai Indonesia (PTEI), dr. Iskandar Linardi, mengatakan, “PT Eisai Indonesia (PTEI) memiliki filosofi human health care (hhc) dan telah berkontribusi dalam  kesehatan masyarakat di Indonesia selama 50 tahun."

"Kami  berkomitmen memberikan edukasi mengenai penyakit demensia alzheimer, terutama karena penyakit ini dapat dideteksi sejak awal sehingga bisa secepatnya ditangani," tambahnya.

Ketua Studi Neurobehavior Perdossi, dr. Astuti, Sp.S(K), mengatakan “Penyakit demensia alzheimer memiliki faktor risiko yang bisa dimodifikasi seperti penyakit vaskular, hipertensi, metabolik, diabetes, dislipidemia, pasca cedera kepala, pendidikan rendah, depresi dan yang tidak bisa dimodifikasi yaitu usia lanjut, genetik yaitu memiliki keluarga yang mengalami demensia alzheimer."

"Selain mengetahui faktor risikonya, penting juga untuk menyadari bahwa demensia alzheimer bersifat kronis progresif, artinya semakin bertambah kerusakan otak seiring bertambahnya umur. Sehingga deteksi dini sangat penting bagi penyakit demensia alzheimer. Dengan deteksi dini, pasien dapat lebih cepat ditangani sehingga kerusakan otak karena alzheimer dapat diperlambat,” paparnya

Sementara itu dokter spesialis saraf, dr. Pukovisa Prawiroharjo, Sp.S(K) mengatakan, “Salah satunya adalah penanggulangan demensia/kepikunan yang dimulai dari deteksi sedini mungkin hingga pemberian edukasi masif kepada masyarakat tentang demensia serta bagaimana tips yang efektif dan efisien merawat kualitas hidup orang dengan demensia (ODD) sebaik dan selama mungkin."

Di sisi lain, Medical Pharmacovigilance and Regulatory Director, Eisai Indonesia, dr. Edmond Maramis mengatakan, Sebagai bagian dari komitmen kami untuk mengedukasi masyarakat mengenai demensia alzheimer sejak tahun 1999 sembari peluncuran obat untuk menghambat keparahan demensia alzheimer."

"Lalu, untuk menambah kenyamanan dan kepatuhan pasien diperkenalkan tablet eves yang mudah larut dengan sedikit air serta untuk dapat memudahkan masyarakat dalam mendapat pengobatan tahun 2016 tersedia di BPJS kesehatan," jelasnya. (NIK/OL-09)
 

Baca Juga

Tangkapan layar konpers daring Kemenristek

Kemenristek Tindaklanjuti Riset ITB soal Tsunami 20 Meter di Jawa

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Rabu 30 September 2020, 23:05 WIB
Kementerian Riset dan Teknologi menyiapkan sejumlah langkah dalam merespons temuan riset potensi tsunami setinggi 20 meter di selatan Pulau...
ANTARA FOTO/Risky Andrianto

DKI Gandeng Swasta Olah Sampah di Bantargebang

👤Putri Anisa Yuliani 🕔Rabu 30 September 2020, 22:45 WIB
Dalam kolaborasi ini, pihak swasta mendukung kegiatan penambangan sampah atau 'landfill mining' pada zona tidak aktif di TPST...
AFP

Berbeda dengan Sumatra, Megathrust di Pulau Jawa Sulit Diprediksi

👤Suryani Wandari Putri Pertiwi 🕔Rabu 30 September 2020, 22:00 WIB
PAKAR Geologi Gempa Bumi dan Geotektologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Danny Hilman menyatakan, potensi megathrust di pulau...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya