Senin 14 September 2020, 15:09 WIB

Saatnya Rakyat Berdaulat Atas Air

Hermen Sanusi (Kepala SMA Pancasila Borong, Manggarai Timur, NTT) | Opini
Saatnya Rakyat Berdaulat Atas Air

Dok pribadi
Hermen Sanusi

HARI Selasa 8 September 2020, saya bersama tim dari Dinas Kesehatan Manggarai Timur, NTT mengunjungi beberapa penderita gangguan jiwa di tiga wilayah yang berada di sekitar kota Borong, Manggarai Timur, yaitu Desa Bangka Kantar, Keluarahan Satar Peot dan Desa Rana Masak.

Tujuan kunjungan ini sama dengan kunjungan sebelumya, yakni memerikasa kondisi pasien gangguan jiwa dan mengedukasi keluarga dan masyarakat agar mereka semakin peduli dengan para penderita gangguan jiwa.

Dalam cuaca yang sangat panas dan berdebu, kami mengunjungi keluarga orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) tersebut. Di Desa Bangka Kantar kami mengunjungi tiga orang penderita ODGJ dan di  Kelurahan Satar Peot kami mengunjungi dua penderita ODGJ.

Saat kami mengunjungi Desa Rana Masak, di sepanjang pinggir jalan, di depan rumah warga desa kami melihat biji coklat, kopi dan cengkeh yang sedang dijemur para pemiliknya. Aroma ketiga jenis komoditi khas Manggarai Timur ini sungguh memberikan sensasi tersendiri bagi kami. Di tempat ini juga terdapat satu tempat destinasi wisata, yaitu Danau Rana Masak.

Hal lain yang kami temukan dalam kunjungan di Desa Rana Masak adalah sebuah sumber mata air yang berada di Kampung Lewe. Sumber mata air ini diberi nama Wae Wakos. Wae artinya air dan wakos artinya gelagah.

Menurut kesaksian Sekretaris Desa Rana Masak, Raymundus Ance, Wae Wakos ditemukan oleh leluhur kampung Lewe. Pada mulanya di Kampung Lewe ini tidak memiliki sumber mata air. Lalu, para leluhur mencari mata air hingga ke pinggir Wae Bobo, tetapi tidak menemukan mata air. Para leluhur kemudian kembali ke Wae Wakos. Setelah tiba, mereka menemukan banyak burung tekukur yang sedang mencari makanan. Kerumunan burung tekukur itu tidak terbang saat para leluhur orang Lewe mendekati mereka.

Para leluhur kemudian mencoba menggali di tempat di mana burung tekukur itu mencari makanan. Karena, menurut keyakinan para leluhur orang Lewe, di mana burung tekukur berkumpul untuk mencari makanan pasti di situ ada air. Dan benar, ketika para leluhur menggali tempat ini mereka menemukan mata air ini.

''Kami sungguh bergembira, bersyukur karena kami memiliki mata air tersendiri. Debit airnya memang sangat sedikit. Bahkan kalau orang dari luar yang datang ke tempat ini merasa aneh, kalau timba air di sini karena airnya sangat sedikit. Tetapi bagi kami air ini telah memberikan kehidupan, harapan kepada kami. Hal ini sesuai dengan makna simbolis air dalam kebudayaan Manggarai dan bahwa air itu melambangkan kehidupan, keturunan, relasi dan pengharapan,'' cerita Raymundus Ance.

Wae Wakos merupakan Wae teku bagi orang Kampung Lewe. Wae teku memiliki arti yang penting dalam budaya Manggarai. Wae teku secara harafiah berarti tempat menimba air. Wae teku merupakan ruang budaya (Adi M. Nggoro, 2013).

Wae teku memiliki makna simbolis sebagai simbol kehidupan. Orang yang tidak memiliki keturunan dalam Budaya Manggarai Raya sering kali disebut ata toe manga waen. Dan seorang perempuan yang sudah menopause disebut meti waen, artinya berhenti haid. Wae teku menjadi simbol hubungan antara manusia dan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan alam yang bersifat kekal atau abadi.

Hal ini nyata dalam ungkapan : toe salang tuak, landing salang wae teku tedeng (bukan jalan untuk mengambil arak, tetapi jalan untuk menimba air). Seperti manusia yang selalu membutuhkan air sepanjang hidupnya, demikian juga hubungan manusia dengan Tuhan, sesama dan alam adalah sebuah hubungan yang abadi. Manusia selalu membutuhkan Tuhan, sesama dan alam dalam seluruh hidupnya, seperti manusia yang selalu membutuhkan air sepanjang hidupnya.

Orang Manggarai berharap agar hubungan itu tidak retak. Hal ini dinyatakan dalam untaian doa: porong kembus wae teku, mboas wae woang (semoga mata air tetap melimpah dan tetap mengalir). Oleh karena itu bagi orang Manggarai tidak ada air berarti tidak adanya kehidupan, sama seperti tidak ada asap di dapur berarti tidak ada kehidupan di dalam rumah. Eme toe manga wae agu toe manga nus, toe manga mose (Kalau tidak ada air dan tidak ada asap di dapur berarti kehidupan itu telah mati).

Kehidupan, jiwa, dan semangat

Oleh karena itu air memiliki arti simbolik yang dalam. Karena, berkaitan dengan kehidupan, jiwa dan semangat warga suatu komunitas atau kampung. Seperti rumah gendang (rumah adat) menjadi asal semua rumah yang lain dan banyak orang yang telah meninggal di situ. Demikian juga wae teku, menghantar kehidupan yang lampau ke masa sekarang.

Kehidupan yang lampau berasal dari atas dan generasi sekarang berasal dari sana. Setiap generasi dihubungkan dengan yang lain, yang lampau dan sekarang melalui sebuah rumah (Erb, 1997). Air adalah simbol sperma dan darah dari suku, yang menghubungkan masing-masing generasi, melalui Mbaru Gendang.

Pemandangan yang kami saksikan di Wae Wakos menunjukkan lain. Di sana warga mengantri air sepanjang hari atau 24 jam. Menurut pengakuan sekretaris desa Rana Masak, Raymundus Ance, hampir pasti menimbar air sudah menjadi rutinitas bahkan pekerjaan utama orang kampung Lewe. Mengapa demikian? Karena sepanjang hari semua warga Kampung Lewe datang antri ke Wae Wakos.

Di saat musim kemarau seperti sekarang ini, kita akan mendapat giliran menimba air di sini setelah menunggu 12 jam. “Saya tadi datang ke sini jam 4 pagi dan sekarang saya baru mendapat giliran untuk menimba.”  Saat itu jam menunjukkan hampir pukul lima sore. Hal ini diamini oleh istrinya yang saat itu sedang mengantri bersama beberapa ibu yang lain yang ikut antri.

Menurut pengakuan Pak Raymundus, setiap warga Kampung Lewe saling menghargai saat antri di Wae Wakos. Artinya, meskipun yang antri lebih dulu adalah seorang anak kecil, tidak seenaknya para orang tua mendahului anak kecil tersebut. Wae Wakos ini mengajar kami untuk bersabar dan saling menghormati.

Hal ini sangat terasa dan tampak jelas saat kami saling mengantri. Ada ratusan jerigen warga yang berada di sekitar tempat itu. Ada yang sudah diisi dengan air, tetapi lebih banyak yang belum diisi. "Kita seolah-olah menyaksikan parade jerigen. Itu berarti giliran mereka akan dapat pada malam hari atau besok subuh," kata Raymundus yang diamini oleh warga kampung lain. 

Orang Lewe sangat bersyukur memiliki mata air ini. Setiap tahun di tempat ini diadakan upacara untuk berterima kasih kepada Tuhan dan para leluhur serta naga wae. Naga wae berarti penjaga air berupa roh. Di dekat sumber mata air itu terdapat sebuah batu sebagai tempat untuk mempersembahkan sesajian. Di situ dipersembahkan telur, ayam atau binatang lainnya menurut kesepakatan warga.

Tradisi ini lazim disebut barong wae. Ritus ini biasanya dilaksanakan saat penti, yaitu acara syukuran tertinggi dalam budaya Manggarai Raya. Tujuan dari ritus ini selain menyembah Tuhan dan menghormati alam, juga bertujuan untuk menjaga agar sumber mata air tetap melimpah (kudut kembus wae teku, mboas wae woang). Berkat ritus itu, debit air tetap terjaga, meskipun musim kemarau debit air tetap sama.

Menurut pengakuan beberapa warga Kampung Lewe, pemerintah pernah membangun embung di sekitar Wae Wakos tetapi proyek itu tidak pernah sanggup memenuhi kebutuhan air masyarakat setempat. Embung itu kemudian mengering karena curah hujan sangat rendah.

Hal ini, membuat warga kembali menimba di Wae Wakos. Tahun 2019, warga desa bekerja sama dengan pemerintahan desa Rana Masak membangun sebuah rumah untuk melindungi warga dari terik dan sengatan matahari saat menimba di Wae Wakos.

Kelangkaan air yang dialami warga Kampung Lewe Desa rana Masak tidak sebanding dengan kelimpahan air yang terjadi di dunia bisnis air. Di Manggarai Raya, terdapat sebuah perusahaan air kemasan, yaitu PT Nampar Nos. PT Nampar Nos memproduksi air kemasan bermerek Ruteng. Air ini sungguh laku, baik saat acara pesta di Manggarai Raya maupun untuk kebutuhan sehari-hari.

Air Ruteng bersaing dengan Aqua dalam bisnis air, dengan perbandingan yang lumayan besar. Satu botol aqua berukuran satu setengah liter dijual dengan harga Rp 10.000, sedangkan air Ruteng dengan ukuran yang sama dijual dengan harga Rp 5000. Bisnis air memang sungguh menjanjikan.

Belum lagi para pedagang air minum yang menjamur, mulai dari yang jual per tangki sampai dengan yang jual menggunakan galon. Harga satu tangki biasanya tergantung dari sumber air dan jenis air. Air yang berasal dari kali Wae Bobo, rata-rata dijual Rp 150.000 sampai Rp 200.000 per tangki. Ada juga yang jual dalam ukuran fiber dengan harga yang cukup variatif, dari Rp 50.000 sampai Rp 80.000.

Proses komodifikasi air ini membuat air menjadi semakin langka. Hal ini diperparah oleh kehadiran perusahaan tambang di Manggarai Raya yang menguras habis sumber mata air. Saat ini kita berjuang agar masyarakat memiliki kedaulatan atas air. Mereka tidak perlu lagi antri sepanjang hari untuk mendapat air. Air adalah kebutuhan dasar sekaligus hak asasi warga negara yang harus dilindungi dan dipenuhi oleh negara.

Semoga pengalaman warga Kampung Lewe menjadi pelajaran yang berharga bagi kita semua. Negara tidak boleh royal dalam hal memberi izin kepada para korporasi untuk mengelola SDA, seperti air. Di lain pihak, rakyat mengalami kelangkaan sumber daya yang menjadi kebutuhan dasar mereka.

Pasal 33 UUD 1945 memberi amanat yang jelas kepada kita bahwa bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasi oleh negara, dan dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Namun spirit atau roh dari pasal 33 ini belum menyentuh rakyat kita, seperti yang dialami oleh saudara-saudara kita di Kampung Lewe.

Baca Juga

Dok.pribadi

Jangan Berharap Indonesia Bisa Maju

👤Sarah Nurlaily, Fungsional BPS Kabupaten Bogor, Mahasiswa Pascasarjana UI 🕔Kamis 24 September 2020, 23:05 WIB
Semua data menyajikan informasi agar kita mengetahui dan dapat menentukan langkah apa yang dapat dilakukan...
Dok.pribadi

Pendidikan Seks dan Kekerasan Seksual 

👤Rama Fatahillah Yulianto, Taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM RI 🕔Kamis 24 September 2020, 22:30 WIB
Memberikan pendidikan seks kepada anak-anak pun rasanya tak boleh dinihilkan, agar mereka sejak awal memahami tentang masalah pelecehan dan...
Dok.pribadi

Pendidikan Jarak Jauh Sebagai Solusi Atasi Ketimpangan

👤Richard Losando, Guru Sosiologi SMAK 6 Penabur, Jakarta,  Sedang menempuh pendidikan Distance Learning MBA online di NIBM Global India 🕔Kamis 24 September 2020, 21:04 WIB
Ketimpangan pendidikan ini diperparah dengan bentuk geografis negara kita. Tidak semua wilayah Indonesia nyaman dan bersahabat bagi pelajar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya