Senin 14 September 2020, 03:05 WIB

Mitigasi Learning Loss

Syamsir Alam Divisi Pengembangan Kurikulum dan Penilaian Yayasan Sukma | Opini
Mitigasi Learning Loss

Dok. Pribadi

KEPUTUSAN pemerintah untuk melonggarkan ketentuan yang memungkinkan sekolah dapat dibuka kembali— di wilayah zona hijau dan kuning dengan protokol kesehatan ketat— disambut beragam masyarakat. Banyak yang merasa senang, sedangkan sebagian belum berkenan menimbang kurva pandemi belum menunjukkan kecenderung melandai.

Antusiasme masyarakat bukan hanya karena alasan terbebaskan dari beban membantu anak-anak belajar di rumah, melainkan juga kekhawatiran akan penurunan kualitas pengetahuan kognisi, keterampilan vokasi, dan keterampilam sosial yang dimiliki siswa. Sementara itu, proses pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang diselenggarakan sekolah/guru, baik dalam bentuk daring maupun luring belum menemukan format yang tepat di banyak sekolah sehingga efektivitasnya masih dipertanyakan.

Andreas Schleicher (2020) mengatakan aspek yang paling mengganggu ialah pandemi telah memperbesar ketidakadilan dalam sistem pendidikan kita. Termasuk akses yang tidak setara ke komputer dan jaringan internet, kurangnya lingkungan rumah yang mendukung untuk belajar, dan kegagalan sekolah untuk menarik guru berbakat ke ruang kelas.

Selanjutnya dikatakan, ‘anak-anak yang berasal dari keluarga yang memiliki keistimewaan, sedikit diuntungkan. Mereka bukan hanya mendapat dukungan kuat dari orangtua mereka untuk dapat fokus pada pembelajaran, melainkan mereka juga menemukan jalan keluar dari ditutupnya sekolah dengan membuka kesempatan pembelajaran alternatif melalui tutor pribadi dan ruang belajar lainnya. Sebaliknya, anak-anak yang berasal dari latar belakang yang kurang beruntung tidak akan sanggup menutup kesenjangan yang semakin lebar.’


Learning loss

Apa yang dimaksud dengan learning loss? Menurut Christodoulou D (2020), terdapat sejumlah skenario untuk menjelaskan frasa ini, antara lain misalkan seorang guru SD menyelenggarakan tes membaca untuk sekelompok besar kelas 6 sesaat sebelum sekolah ditutup pada Maret 2020. Pada September 2020 (sebagaimana diperkirakan sebelumnya) siswa yang bersangkutan akan kembali belajar di sekolah.

Pada waktu tes diselenggarakan pada Maret 2020, hasilnya menunjukkan kemampuan membaca sebagian besar siswa kelas 6 setara dengan usia membaca anak-anak 11 tahun (catatan; tes membaca yang digunakan ialah materi tes untuk mengukur reading age siswa). Selanjutnya pada September 2020, siswa yang bersangkutan diberi tes ulang dalam membaca, dan hasilnya ternyata belum berubah, sama dengan hasil tes 6 bulan lalu; usia membaca anak-anak setara dengan usia membaca anak-anak 11 tahun.

Hasil ini menjelaskan kelompok siswa ini sudah kehilangan 6 bulan pembelajaran karena harapannya siswa akan memperoleh skor rata-rata 11 tahun ditambah 6 bulan pada September 2020. Karena selama enam bulan belajar dari rumah (BDR) diasumsikan mereka akan menunjukkan kemajuan dalam pembelajaran membaca.

Pada puncak pandemi, secara global diperkirakan akan ada 1,5 miliar siswa tidak dapat bersekolah. Terlepas dari upaya pengajaran jarak jauh, para siswa ini mengalami kerugian belajar yang cukup signifikan (Schleicher: 2020). Simulasi potensi dampak penutupan sekolah akibat covid-19 yang dilakukan Bank Dunia pada perolehan rata-rata skor pada survei PISA, meneguhkan potensi terjadinya learning loss ini.

Menurut studi atas pencapaian pembelajaran kelas 9 dan 10 dalam kumpulan data PISA pada aspek reading test berjudul Simulating the Potential Impacts of Covid-19 School Closures on Schooling and Learning Outcomes: A Set of Global Estimates yang dilakukan Bank Dunia-Praktik Pendidikan Global terhadap 157 negara pada Juni 2020, dalam skenario menengah, rata-rata siswa akan kehilangan 16 poin PISA sebagai akibat dari penutupan sekolah atau setara dengan kurang dari setengah tahun pembelajaran di negara tertentu.

Dalam skenario optimistis, siswa akan kehilangan 7 poin PISA, dan dalam skenario pesimistis, kehilangan 27 poin PISA. Efek simulasi serupa untuk Asia Timur dan Pasifik (EAP), Eropa dan Asia Tengah (ECA), Amerika Latin dan Karibia (LAC), serta Timur Tengah dan Afrika Utara (MNA). Di Amerika Utara dan Kanada (NAC), siswa akan kehilangan 6 poin dalam skenario optimistis, tetapi 30 poin dalam skenario pesimistis.


Mitigasi

Meskipun studi yang terkait dengan potensi learning loss bagi anak-anak dengan rentang usia 4-17 tahun belum pernah dilakukan dan kondisi siswa belum terpetakan secara cermat secara nasional, bukan berarti sekolah akan terbebaskan dari tanggung jawab untuk menjaga kualitas pembelajaran siswa. Sekolah mungkin tidak harus mengandalkan pada penilaian standar untuk mengetahui kedudukan siswa, tapi cukup dengan penilaian diagnostik yang dirancang sendiri oleh guru atau kelompok guru serumpun.

PJJ selama pandemi yang menuntut otonomi, kapasitas untuk belajar mandiri, pemantauan diri, dan kapasitas untuk belajar secara daring terus diperkuat dan diakselerasi jika sekolah kelak sudah bisa dibuka kembali. Selain itu, penting untuk mengembangkan upaya yang sudah berlangsung dalam membangun infrastruktur pembelajaran daring dan luring.

Sekolah harus terus mengembangkan kapasitas siswa dan guru sehingga mampu mengoptimalkan pembelajaran melalui daring dan luring (berupa modul pembelajaran). Perlu disadari akan banyak pengalaman baik yang dipelajari selama pandemi yang tidak akan hilang ketika keadaan kembali ‘normal.’ Pengalaman itu akan memberikan inspirasi untuk pengembangan pendidikan lebih lanjut (Schleicher: 2020).

Pembelajaran selama pandemi difokuskan pada topik/ tema dan keterampilan yang esensial dan berguna bagi siswa untuk menempuh karier pendidikan dan dunia kerja ke depan. Muatan kurikulum dikaji ulang untuk disesuaikan dengan kebutuhan masa depan. Untuk mewujudkan pembelajaran yang berguna membutuhkan bukan hanya pada pemahaman konten, melainkan juga penekanan lebih pada makna.

Pembelajaran yang lebih mendalam (deeper learning) dapat dipahami sebagai proses seseorang menjadi mampu mengambil manfaat dari apa yang telah dipelajari dalam satu situasi, dan mampu menerapkannya pada situasi baru — dengan kata lain; pembelajaran untuk transformasi (transformational learning). Melalui pembelajaran yang lebih dalam, siswa memperoleh keahlian dalam bidang disiplin atau subjek yang melampaui dari sekadar hafal tentang fakta atau prosedur; mereka memahami kapan, bagaimana, dan mengapa menerapkan pengetahuan yang telah mereka pelajari.

Mitigasi potensi learning loss bukan hanya memperhatikan masuknya unsur teknologi informasi, melainkan juga membutuhkan penataan ulang kurikulum yang lebih selaras dengan keterampilan abad ke-21 (termasuk perubahan mindset guru, siswa, dan seluruh pengampu pendidikan). Wallahualam.

Baca Juga

Dok.pribadi

Jangan Berharap Indonesia Bisa Maju

👤Sarah Nurlaily, Fungsional BPS Kabupaten Bogor, Mahasiswa Pascasarjana UI 🕔Kamis 24 September 2020, 23:05 WIB
Semua data menyajikan informasi agar kita mengetahui dan dapat menentukan langkah apa yang dapat dilakukan...
Dok.pribadi

Pendidikan Seks dan Kekerasan Seksual 

👤Rama Fatahillah Yulianto, Taruna Politeknik Ilmu Pemasyarakatan, Kementerian Hukum dan HAM RI 🕔Kamis 24 September 2020, 22:30 WIB
Memberikan pendidikan seks kepada anak-anak pun rasanya tak boleh dinihilkan, agar mereka sejak awal memahami tentang masalah pelecehan dan...
Dok.pribadi

Pendidikan Jarak Jauh Sebagai Solusi Atasi Ketimpangan

👤Richard Losando, Guru Sosiologi SMAK 6 Penabur, Jakarta,  Sedang menempuh pendidikan Distance Learning MBA online di NIBM Global India 🕔Kamis 24 September 2020, 21:04 WIB
Ketimpangan pendidikan ini diperparah dengan bentuk geografis negara kita. Tidak semua wilayah Indonesia nyaman dan bersahabat bagi pelajar...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya