Minggu 13 September 2020, 00:55 WIB

Tetek Melek, Lukisan Penolak Bala

Luqman Hakim | Weekend
Tetek Melek, Lukisan Penolak Bala

Dok. Pribadi
Lukisan Tetek Melek

SELAMA pandemi, terdapat pemandangan berbeda di berbagai sudut desa di Tulungagung, Jawa Timur. Di depan rumah warga, terpampang lukisan wajah di atas pelepah kelapa.

Saat pertama kali melihat lukisan itu, saya sedang bersepeda mengelilingi Kecamatan Bandung. Saat itu lukisan yang disebut Tetek Melek tersebut berdiri rapi di depan rumah warga.

Sebenarnya, Tetek Melek bukanlah hal asing bagi saya. Gambar itu hidup di kepala saya sebagai sosok buruk rupa yang menghantui anak-anak kecil yang nakal atau suka keluyuran. Dulu saat masih kecil, orangtua saya selalu menakut-nakuti saya dengan perkataan, “Awas, ada Tetek Melek di sana!” Hal ini membuat Tetek Melek, bagi anak-anak desa seperti saya, dikenal sebagai sosok pengganggu yang buruk rupa.

Namun, berbeda dengan Tetek Melek dalam memori saya, lukisan ini memiliki fungsi yang berbeda. Alih-alih menakut-nakuti anak, masyarakat justru percaya bahwa lukisan Tetek Melek mampu menolak pagebluk atau covid-19.

Didorong rasa penasaran akan fungsi yang kontradiktif tersebut, saya akhirnya turun ke lapangan untuk menggali informasi mengenai Tetek Melek. Saya bertemu dengan Mbah Kiman, 71, dan Cecep, 47, selaku seniman dan budayawan di Kecamatan Bandung, Tulungagung.

Menurut Mbah Kiman, Tetek Melek merupakan tradisi tua yang sudah ada sejak zaman Majapahit. Mbah Kiman pun pertama kali melihat Tetek Melek pada kisaran tahun 1964 saat wabah eltor melanda wilayah Kecamantan Bandung. Vibrio eltor, pertama kali ditemukan di pusat karantina Eltor, Mesir, merupakan salah satu bakteri penyebab kolera. Pagebluk tersebut sangat menular. “Zaman Eltor itu, Kecamatan Bandung kena 2 orang, 1 meninggal dan 1 bisa diselamatkan,” kenang Mbah Kiman. 

Saat itulah, Tetek Melek kembali berdenyut. Saat saya mempertanyakan penggunaan pelepah kelapa sebagai media gambar lukisan Tetek Melek, pria bercucu satu tersebut menjawab bahwa penggunaan pelepah kelapa berkaitan dengan kekuatan yang di kandungnya.

“Bongkok itu diambil yoni 1 nya atau kekuatannya” (Yoni di sini berarti kekuatan, berbeda dengan Lingga-Yoni). Kata dia, yoni ini bisa diperoleh lewat doa yang dirapal saat Tetek Melek dibuat. Yoni inilah yang bisa menjadi media untuk menangkal pagebluk.

Tetek Melek, menurut Mbah Kiman, semestinya diletakkan di sisi kanan pintu masuk rumah guna mencegah agar wabah atau hal negatif masuk ke rumah. Keesokan harinya, saya bertan dang ke rumah Cecep. 

Dari pria berusia 47 tahun tersebut, saya mendapatkan jawaban yang sedikit berbeda perihal alasan penggunaan bongkok sebagai media melukis Tetek Melek. Cecep menuturkan bahwa bongkok adalah simbol kepasrahan.

“Dibuat dari bongkok itu artinya pasrah bongkokan, setelah usaha yang disimbolkan dengan warna hitam, usaha dunia, lantas dipasrahkan pada Tuhan yang disimbolkan dengan warna putih.” 

Menurut Cecep, pelepah kelapa bermakna kepasrahan total atau dalam istilah bahasa Jawa disebut Pasrah Bongkokan. Berbeda dengan Mbah Kiman, Tetek Melek melesatkan memori pria paruh baya tersebut pada pagebluk misterius yang terjadi pada 1980-an. 

Saat itu, banyak binatang ternak mati secara tidak wajar. “Kambing dan sapi mati secara tak wajar,” tuturnya.

“Terdapat bekas gigitan dan darah di tubuh binatang yang mati tersebut. Entah itu anjing atau apa kami tidak tahu,” kenang Cecep. 

Waktu itu, masyarakat yang ketar-ketir dengan fenomena ganjil tersebut mulai memasang lukisan dari pelepah kelapa. “Bahkan, sapi-sapi di kandang pun dicoreti dengan warna hitam dan putih agar terhindar dari pagebluk misterius itu,” imbuhnya. Itulah kali pertama Cecep melihat lukisan Tetek Melek.


Penjaga pintu

Cecep memaparkan kemungkinan bila dilihat dari lokasi peletakan serta corak seramnya, Tetek Melek ialah bentuk simplifikasi dari patung penjaga kompleks percandian, Dwarapala. 

Dalam The Dictionary of Hinduism; its mythology folklore and Development 1500 B.C.-A.D. 1500 (1977), dikatakan bahwa Dwarapala terdiri atas dua kata, yakni Dwara (Dvāra) yang berarti ‘pintu’ dan Pala (Pāla) yang berarti ‘penjaga’, jadi singkatnya Dwarapala adalah ‘penjaga pintu’.

Pada bangunan klasik di Indonesia, Dwarapala identik dengan sosok raksasa, dengan gada di tangannya sebagai senjata. Ekspresi muka Dwarapala juga serupa: mata melotot, gigi taring yang memanjang keluar mulut, hingga lidah yang menjulur panjang. Selain itu, rambut ikal juga menjadi identitas dari Dwarapala.

Ciri tersebut serupa dengan lukisan Tetek Melek yang mayoritas digambar dengan wajah seram. Rumbi Mulia (1982: 142) sebagaimana dikutip Sarjanawati (2010), berpendapat bahwa Dwarapala merupakan perkembangan dari Yaksa. 

Yaksa, dalam mitologi India, merupakan nama kolektif dari dewa penguasa tanah dan hutan. Menurut Agus Munandar dalam Catuspatha Arkeologi Majapahit (2011) saat agama Buddha dan Hindu mulai berkembang di India, Yakhsa mengalami negosiasi. Yakhsa kemudian berada pada level demi-god (setingkat di bawah dewata).

Dalam perkembangannya, Yakhsa dianggap sebagai pendamping Buddha. Ia kemudian dipahatkan pada bangunan suci dan diletakkan di bagian depan sehingga lama-kelamaan dianggap sebagai penjaga atau pelindung bangunan suci.

Selain penyederhanaan dari Dwarapala, terdapat pula kemungkinan bahwa motif wajah pada Tetek Melek mengindikasikan hubungan tradisi ini dengan tradisi-tradisi pada periode Neolitik. 

Berdasarkan bukti arkeologis, pada masa tersebut, mulai muncul berbagai motif wajah di banyak peralatan manusia seperti pada kendi dari Melolo, Sumba Barat, Nusa Tenggara Barat, pecahan gerabah dari Kalumpung, Sulawesi Selatan, hingga Sarkofagus Bali (National Museum of Indonesia, 2013).

Tradisi melukis wajah ini semakin berkembang pada masa Megalitik. Pada kapak perunggu untuk keperluan upacara yang ditemukan di Roti, NTT, dan Makassar, gendang perunggu dari NTT, serta gendang pejeng yang kini disimpan di Pura Panataran Sasih, semua menampilkan gambar wajah
manusia. 

Motif wajah ini diyakini mempunyai kemampuan spritual untuk menolak bahaya. Dr RP Soejono berargumen bahwa kekuatan spritual oleh orang dulu dapat diperoleh dari gambar-gambar yang ganjil, aneh, menyeramkan atau lucu (National Museum of Indonesia, 2013). 

Sebagai alat untuk menangkal bahaya, gambar wajah atau topeng pada masa klasik biasanya digambar dalam bentuk kala. Kala ialah bentuk kepala, yang diletakkan di atas pintu masuk atau pada ceruk-ceruk candi. 

Pada saat pandemi pes, sebagaimana dilansir National Geography Indonesia, banyak penduduk Malang yang menggambar sosok kala di dinding rumah mereka sebagai penangkal wabah.


Adaptasi budaya

Saya lantas menanyakan perbedaan antara Tetek Melek dulu dan sekarang. Baik Mbah Kiman atau Cecep sepakat bahwa jika dibandingkan dengan dulu, Tetek Melek saat ini sudah jauh berbeda.

Dulu, kata mereka, lukisan itu hanya mempunyai warna hitam dari kerak hitam pembakaran dan putih dari kapur. “Fungsinya kan untuk mengusir wabah. Makanya warnanya pun ndak boleh berwarna sebenarnya. Cukup hitam dan putih,” tutur Cecep. 

Lebih jauh lagi, ia menambahkan bahwa hitam dan putih ialah perlambang dua dunia. Saat ini, Tetek Melek digambardengan menggunakan cat minyak dengan motif yang semakin beragam. 

Selain itu, Tetek Melek yang dulu dibuat oleh indvidu, saat ini mulai menjadi komoditas yang diperjual belikan. Pengaruh media sosial yang kuat juga membuat persebaran Tetek Melek menjadi sangat masif. 

Hal ini mendorong para perajin dadakan untuk memproduksi lukisan tersebut. Namun, Tetek Melek pesanan masyarakat ini sudah bergeser mengikuti selera. Selain motif seram, saat ini karakter kartun lucu atau tokoh Islam juga mulai menempel di pelepah kelapa.

Cecep, yang juga seorang perajin mengatakan bahwa ia bahkan sempat menjual Tetek Melek bergambar Sunan. “Saya dulu awalnya gambar Sunan, bikin berapa saja habis.”

Namun, ketika ia menggambar dengan warna dasar hitam putih sesuai dengan memorinya dulu, Tetek Melek tersebut tidak ada melirik “Apa pun yang digambar realis laku, sedangkan dengan menggunakan wana hitam atau putih, sekarang tidak laku” ujarnya.

Hal ini selain menunjukkan bagaimana selera masyarakat telah berubah, juga menujukkan peneterasi budaya yang cukup kuat. Tetek Melek buatan Cecep ini dijual seharga 15-40 ribu per buahnya. Pesanan yang berlimpah mendorong geliat ekonomi baru di tengah pagebluk covid-19 ini.

Bahkan, sebagai bentuk dukungan terhadap kebudayaan ini, Pemerintah Kabupaten Tulungagung turut memasang Tetek Melek di pendopo kabupaten. Terlepas dari bagaimana asalusul serta transformasinya dari masa ke masa, Tetek Melek merupakan sebuah wujud nyata dari memori kolektif masyarakat terhadap pagebluk yang pernah melanda Tulungagung dan sekitarnya. (M-4)

Baca Juga

Lionel BONAVENTURE / AFP

Gelaran Busana Christian Dior Dirilis Melalui TikTok

👤Mediaindonesia.com 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 19:30 WIB
Musim ini, beberapa rumah mode mempresentasikan koleksinya mulai dari film pendek, pertunjukan boneka, hingga...
Instagram/chrissyteigen

Kabar Duka, Chrissy Teigen Kehilangan Bayi Ketiganya

👤Weekend 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 18:43 WIB
Bersama suaminya, John Legend, Teigen sebelumnya telah memiliki satu putri dan satu...
Unsplash

Covid-19 Lebih Menular di Kucing daripada Anjing

👤Fathurrozak 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 14:00 WIB
Kucing dapat menyebarkan virus ke sesama kucing namun anjing tidak...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya