Jumat 11 September 2020, 15:16 WIB

Indeks Perlahan Rebound Tipis, PSBB Bukan Pemicu Penurunan

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Indeks Perlahan Rebound Tipis, PSBB Bukan Pemicu Penurunan

Antara
Karyawan mengamati layar pergerakan perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Kamis (10/9/2020).

 

Ekonomi Indef Bhima Yudhistira menyangkal jika penurunan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada perdagangan kemarin, Kamis (10/9), akibat kepanikan investor terhadap rencana pemberlakuan kembali pembatasan sosial berskala besar (PSBB) oleh Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.

Indeks saham pada perdagangan kemarin, Kamis (10/9), ditutup melemah 5,01%. Pada perdagangan sesi 1 Jumat (11/9) indeks terpantau berada pada level 4.954,43 atau menguat 62,96 point (1,29%).

Bhima mengatakan hal ini tidak berhubungan. Dia mengatakan entitas investor sangatlah beragam. Bisa saja, aksi jual ramai-ramai dilakukan oleh para spekulan.

Dia mencontohkan kejadian pada Agustus lalu saat Badan Pusat Statistik mengumumkan ekonomi anjlok, harga IHSG justru naik.

"Pada hilang ingatan bawa-bawa IHSG anjlok gara gara (Gubernur DKI Jakarta) Anies (Baswedan mengumumkan PSBB). Pada lupa ada decoupling alias tidak nyambung antara sektor riil dan keuangan. BPS umumkan ekonomi anjlok, IHSG malah naik. Apa ini namanya? Pelajaran penting buat kita semua. Pasar saham itu punya short term memory," ujar Bhima dalam unggahan instagramnya, Jumat (11/9).

Investor, kata Bhima, terdiri dari banyak entitas. Ada juga yang spekulan jangka pendek, yaitu melihat harga saham emiten turun untuk  waktunya membeli, kemudian menjual lagi dan profit taking alias ambil untung.

"Pertimbangan kadang bukan fundamental. Dan berapa banyak yang main gorengan (saham)," kata Bhima. Saham gorengan dapat diartikan sebagai saham perusahaan yang kenaikannya tiba-tiba melejit tak seperti biasanya, karena pergerakannya sedang direkayasa pelaku pasar dengan kepentingan tertentu.

Kedua, kata Bhima, pasar saham IHSG itu kapitalisasinya terhadap PDB di Indonesia hanya 46,8%, sedangkan Malaysia 110,8% dan Thailand 104,7%. "Jadi kecil sekali, tidak bisa menjadi ukuran sukses atau tidaknya kebijakan," kata Bhima. (E-3)

Baca Juga

Antara

Bank DBS Gandeng Mandiri Manajemen Investasi

👤Despian Nurhidayat 🕔Kamis 24 September 2020, 14:35 WIB
Bank DBS Indonesia baru saja menjalin kerja sama dengan Mandiri Manajemen Investasi dengan menghadirkan Mandiri Global Sharia Equity...
Antara

Pemerintah Berupaya Tingkatkan Konsumsi Karet Alam Domestik

👤Insi Nantika Jelita 🕔Kamis 24 September 2020, 14:25 WIB
Indonesia bersama dua negara produsen karet alam lainnya berkolaborasi meningkatkan konsumsi karet alam domestik yang terpukul akibat...
Antara

Bisnis Perhotelan Terpukul, PT HIN Ubah Strategi Pemulihan Operasi

👤Fetry Wuryasti 🕔Kamis 24 September 2020, 14:16 WIB
PT Hotel Indonesia Natour (PT HIN) Persero. segera mengubah strategi untuk memulihkan pendapatan...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya