Jumat 11 September 2020, 02:05 WIB

Peran Pers Harus Bantu Atasi Dampak Pandemi

ATIKAH ISHMAH WINAHYU | Humaniora
Peran Pers Harus Bantu Atasi Dampak Pandemi

ANTARA FOTO/Aditya Pradana Putra/ama.
wartawan senior Suryopratomo

 

MEDIA massa wajib menjalani peran pengawasan terhadap kinerja pemerintah di masa pandemi covid-19. Namun demikian, media juga mesti memikirkan dampak dari pemberitaan yang disampaikan ke masyarakat.

Demikian benang merah yang disampaikan wartawan senior Suryopratomo saat menyampaikan meterinya dalam webinar yang terselenggara atas kerja sama SKK
Migas, KKKS, dan Media Academy bertajuk Jurnalis Bertahan di Tengah Pandemi, kemarin. Pembicara lain ialah Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafi d dan Amanda Komaling,
jurnalis televisi. Suryopratomo menjelaskan tujuan pengawasan itu harus bermuara ke perbaikan kinerja dan mendidik masyarakat, bukan menciptakan keresahan sosial
atau mencari sensasi.

Untuk itu, ia berharap pers Indonesia bekerja sesuai kaidah jurnalistik dengan melihat persoalan secara utuh dan menimbang dampak informasi yang disampaikan.

“Kaidah jurnalistik kita diajarkan untuk tidak apriori. Wartawan itu harus kritis, tapi tidak boleh pesimistis. Kemudian, menginformasikan yang membuat masyarakat
memahami,” ucap mantan Direktur Pemberitaan Metro TV ini.

Dalam pengamatannya, pemberitaan sensasional yang memuat ketidakberdayaan pemerintah dalam menangani pandemi covid-19 bisa membawa efek domino.

Mulai ketidakpercayaan masyarakat hingga terganggunya situasi ekonomi.

Pria yang akrab disapa Tommy ini mencontohkan, media massa memberitakan ketidakberdayaan negara dengan mengutip media luar negeri yang mengatakan Indonesia
masuk krisis dan menjadi pusat penyebaran covid-19.

Dampaknya, muncul sikap ketidakpercayaan masyarakat kepada pemerintah hingga ketidakpatuhan terhadap protokol kesehatan.

Diakui Tommy, nyaris semua industri terdampak covid-19, termasuk industri pers. Namun, dia tetap mengingatkan wartawan bukan humas dan harus tetap kritis,
tetapi tidak boleh sinis.
 

Adaptasi

Survei International Federation of Journalists terhadap 1.300 jurnalis di 77 negara yang terdampak covid-19, dikutip Meutya Hafi d, sebanyak 866 jurnalis lepas dan tetap
mengalami pemotongan gaji, kehilangan pekerjaan, dan penundaan gaji selama pandemi covid-19.

Hasil survei Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Bandung, menunjukkan 45,92% wartawan mengalami gejala depresi dan 57,14% mengalami kejenuhan
umum. “Untuk dapat bertahan saat pandemi covid-19, wartawan harus mampu beradaptasi dan inovatif,” ujar mantan jurnalis Metro TV ini.

Sementara itu, Kepala SKK Migas Perwakilan Kalimantan-Sulawesi, Syaifuddin mengingatkan para jurnalis untuk tetap produktif menjalani profesi di tengah pandemi
covid-19. “Kami mendukung penuh setiap kegiatan yang akan memberikan kontribusi positif bagi para jurnalis,” tambah Syaiffudin saat membuka webinar.

Webinar SKK Migas dan KKKS Kalimantan-Sulawesi ini akan diselenggarakan sebulan sekali hingga November. Selain webinar, juga digelar lomba karya jurnalistik
bertema Road to one million barrel bagi para jurnalis yang mengikuti webinar. Pemenang akan diumumkan saat webinar seri ke-6 pada November mendatang. (Medcom.
id/H-1)

Baca Juga

ANTARA/ SIGIT KURNIAWAN

KLHK Tegaskan Komitmen Pemerintah Hentikan Izin Baru

👤Ferdian Ananda Majni 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 13:45 WIB
Pemanfaatan hutan sebagai sumberdaya ekonomi harus memperhatikan aspek ekologi dan konsep keberlanjutan. Salah satu upaya ialah penghentian...
ANTARA/ MOHAMMAD AYUDHA

Wamenag Kesal Soal Foto Kolase Wapres Ma'ruf Amin di Medsos

👤Suryani Wandari Putri 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 13:20 WIB
Etika bermedia sosial hendaknya dipegang oleh siapa saja agar tidak merugikan orang lain. UU ITE bisa menindaklanjutinya ke ranah hukum...
MI

Pemerintah Harus Dewasa Sikapi Isu Komunisme

👤Andhika Prasetyo 🕔Kamis 01 Oktober 2020, 13:09 WIB
Ia juga mengimbau kepada semua elemen bangsa untuk tidak memperuncing perbedaan sejarah. Semua harus menjaga dan memperkuat...

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya